Parenting
Rahman Abdullah

Anak Sering Marah dan Menangis? Kenali 3 Zona Emosi dan Cara Menghadapinya

Anak Sering Marah dan Menangis? Kenali 3 Zona Emosi dan Cara Menghadapinya

10 September 2026 | 20:14

Keboncinta.com-- Marah adalah bagian dari emosi manusia yang wajar, termasuk pada anak-anak. Namun, kemampuan setiap anak dalam mengenali dan mengendalikan perasaan tentu berbeda-beda.

Anak yang belum mampu mengelola emosinya dapat menunjukkan berbagai reaksi, seperti menangis, marah, mengambek, menjadi agresif, atau justru memilih menjauh. Jika tidak dibimbing sejak dini, kesulitan mengelola emosi dapat berpengaruh terhadap cara anak berinteraksi dengan orang lain di kemudian hari.

Karena itu, orang tua perlu memahami bagaimana kondisi emosi anak dan membantu mereka belajar kembali tenang ketika perasaan sedang memuncak.

Baca Juga: Anak Perlu Dikenalkan Buku Sejak Dini, Ini 6 Manfaat yang Bisa Didapat

Mengenal Konsep Tangki Emosional Anak

Setiap orang dapat diibaratkan memiliki “tangki emosional” yang menampung berbagai perasaan dan pengalaman. Pada anak-anak, kapasitas tangki emosional ini umumnya masih lebih terbatas dibandingkan orang dewasa.

Ketika tangki tersebut sudah penuh, anak bisa kesulitan menahan emosinya. Kondisi ini dapat terlihat melalui perilaku seperti menangis, marah, ngambek, berteriak, atau menolak berkomunikasi.

Untuk memahami kondisi tersebut, tangki emosional anak dapat dibayangkan memiliki tiga zona.

Zona Tenang, Fight, dan Flight

Pada zona tenang, anak masih dapat berpikir lebih jernih, menerima arahan, serta berinteraksi dengan lingkungan secara lebih baik.

Berbeda ketika anak memasuki zona fight. Dalam kondisi ini, anak dapat menunjukkan respons melawan atau perilaku agresif karena emosinya sedang meningkat.

Sementara itu, zona flight ditandai dengan kecenderungan anak untuk diam, menghindar, atau menjauh dari situasi yang dianggap membuatnya tidak nyaman.

Ketika berada dalam zona fight maupun flight, respons sistem saraf anak sedang aktif sehingga mereka dapat mengalami kesulitan untuk berpikir secara jernih. Karena itu, memberikan nasihat panjang atau memaksa anak langsung memahami kesalahannya belum tentu efektif pada saat tersebut.

Baca Juga: Ketika Keuntungan Bukan Satu Satunya Tujuan, Begini Islam Mengajarkan Mengelola Modal Usaha

Orang Tua Perlu Membantu Anak Kembali ke Zona Tenang

Hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah menjaga ketenangan diri. Respons orang dewasa yang panik, berteriak, atau ikut terbawa emosi justru dapat membuat suasana semakin sulit dikendalikan.

Anak juga dapat diberikan ruang untuk menenangkan diri. Ruang tersebut bukan berarti membiarkan anak sendirian tanpa perhatian, tetapi memberikan kesempatan agar emosinya perlahan mereda.

Setelah kondisi lebih tenang, orang tua dapat menawarkan bantuan. Tanyakan dengan lembut apakah anak membutuhkan bantuan atau ingin ditemani sampai merasa lebih nyaman.

Teknik relaksasi juga dapat diperkenalkan secara bertahap. Anak bisa diajak melakukan pernapasan dalam atau kegiatan sederhana yang membantu tubuh dan pikirannya menjadi lebih rileks.

Anak dengan Trauma Membutuhkan Kesabaran Lebih

Anak yang pernah mengalami trauma fisik maupun psikologis dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke kondisi tenang. Respons emosional mereka mungkin lebih kuat atau lebih sulit dipahami.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua perlu memberikan pendampingan dengan penuh kesabaran dan pemahaman. Hindari memberikan label negatif kepada anak hanya karena mereka kesulitan mengendalikan emosi.

Jika orang tua merasa tidak mampu menghadapi kondisi tersebut sendiri, meminta bantuan dari tenaga profesional dapat menjadi pilihan. Pendampingan yang tepat dapat membantu anak maupun keluarga memahami kebutuhan emosional dengan lebih baik.

Baca Juga: Anak Susah Diajak Membaca? Coba 10 Cara Menumbuhkan Minat Baca Ini

Ajarkan Anak Mengekspresikan Kemarahan dengan Aman

Anak perlu memahami bahwa marah bukanlah perasaan yang salah. Yang perlu diajarkan adalah bagaimana mengekspresikan kemarahan tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

Orang tua dapat membantu anak menyampaikan perasaannya menggunakan kata-kata. Misalnya, anak dibiasakan mengatakan bahwa dirinya sedang kecewa, sedih, takut, atau marah daripada langsung berteriak atau melakukan tindakan agresif.

Teknik relaksasi juga dapat terus dilatih ketika anak berada dalam kondisi tenang. Dengan demikian, anak memiliki pilihan cara untuk menenangkan diri ketika emosinya mulai meningkat.

Orang Tua Menjadi Contoh dalam Mengelola Emosi

Anak banyak belajar dari perilaku orang-orang di sekitarnya. Karena itu, cara orang tua menghadapi kemarahan juga dapat menjadi contoh bagi anak.

Ketika menghadapi situasi yang membuat kesal, orang tua dapat menunjukkan bahwa emosi bisa dikelola tanpa harus berteriak, melakukan kekerasan, atau melampiaskan kemarahan kepada orang lain.

Selain itu, memperkaya kosakata emosi juga penting. Anak yang mengenal lebih banyak kata untuk menggambarkan perasaannya akan lebih mudah mengidentifikasi apa yang sedang dialami dan mengungkapkannya secara verbal.

Baca Juga: Olahraga Bukan Sekadar Bikin Bugar, Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Mental

Anak juga perlu memahami bahwa berbagai perasaan merupakan bagian yang wajar dari kehidupan.

Tags:
Parenting Emosi Anak

Komentar Pengguna