Orang tua juga perlu memberikan perhatian positif ketika anak bermain dengan baik, berbagi, atau menggunakan kata-kata untuk menyelesaikan konflik.
Anak belajar melalui pengamatan dan peniruan.
Jika anak sering melihat perilaku memukul, membentak, atau menggunakan kekerasan ketika terjadi konflik, ia dapat menganggap tindakan tersebut sebagai cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Pengaruh tersebut dapat berasal dari lingkungan rumah, teman sebaya, tontonan, maupun interaksi sosial lainnya.
Karena itu, orang tua perlu memberikan contoh penyelesaian konflik tanpa kekerasan.
Ketika terjadi perbedaan pendapat di rumah, tunjukkan cara berbicara dengan tenang, menyampaikan ketidaksetujuan, dan mencari solusi bersama.
Sebagian anak menggigit karena menyukai sensasi tekanan pada mulut atau sedang mencari stimulasi sensorik tertentu.
Hal ini dapat terlihat ketika anak menggigit benda, pakaian, mainan, atau bahkan tangan orang lain.
Namun, perilaku tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan sensorik atau gangguan perkembangan.
Orang tua perlu memperhatikan frekuensi, situasi, dan bentuk perilakunya. Jika anak terus-menerus menggigit benda atau orang lain hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan dokter atau tenaga profesional dapat membantu mengetahui penyebabnya.
Tidak tepat memberikan label nakal kepada anak hanya karena ia pernah memukul atau menggigit temannya.
Pada usia balita, kemampuan mengendalikan emosi, memahami konsekuensi, dan menyelesaikan konflik masih berkembang.
ZERO TO THREE menjelaskan bahwa perilaku agresif dapat muncul pada rentang usia sekitar 18 bulan hingga 3 tahun ketika anak mulai mengembangkan kemandirian dan berusaha menyampaikan keinginannya.
Namun, perilaku tersebut tetap perlu ditangani sejak awal.
Orang tua perlu membedakan antara memahami tahap perkembangan dan membiarkan tindakan yang menyakiti orang lain.
Anak boleh merasa marah, kecewa, atau tidak suka terhadap sesuatu. Akan tetapi, anak tetap perlu belajar bahwa perasaan tersebut tidak boleh dilampiaskan dengan memukul, menggigit, atau mencubit orang lain.
Dengan pendekatan yang tepat, anak dapat belajar mengenali emosi sekaligus mengembangkan cara berinteraksi yang lebih aman.
Tidak semua tindakan memukul atau menggigit mempunyai tingkat keseriusan yang sama.
Orang tua perlu memperhatikan seberapa sering perilaku terjadi, intensitasnya, pemicunya, dan dampaknya terhadap hubungan sosial anak.
Berikut beberapa kondisi yang perlu diamati.
| Perilaku Anak | Hal yang Perlu Diperhatikan |
|---|---|
| Sesekali memukul ketika berebut mainan | Kemampuan menyelesaikan konflik masih berkembang |
| Menggigit ketika merasa frustrasi | Kemampuan komunikasi dan pengelolaan emosi |
| Sering mencubit atau mendorong teman | Pola perilaku yang perlu dipantau |
| Menyerang tanpa pemicu yang terlihat | Perlu pengamatan lebih lanjut terhadap konteks |
| Melukai teman hingga menimbulkan cedera | Membutuhkan penanganan segera |
| Perilaku semakin sering dan intens | Perlu evaluasi perkembangan dan perilaku |
| Kesulitan berinteraksi dengan teman | Perlu melihat kemampuan sosial dan komunikasi |
Tabel tersebut bukan alat diagnosis. Orang tua perlu mengamati pola perilaku dalam berbagai situasi dan berkonsultasi apabila masalah terus berulang.
Menghentikan perilaku agresif membutuhkan konsistensi. Orang tua perlu memberikan batasan yang jelas sekaligus mengajarkan keterampilan yang dapat menggantikan tindakan tersebut.
Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan.
Ketika anak memukul atau menggigit, langkah pertama adalah memastikan tidak ada orang yang kembali terluka.
Pisahkan anak dengan lembut apabila diperlukan, lalu gunakan kalimat singkat dan jelas.
Contohnya:
"Stop. Tidak boleh memukul. Memukul itu menyakiti."
"Jangan menggigit. Menggigit membuat teman kesakitan."
Hindari berteriak atau memberikan penjelasan panjang ketika anak sedang berada dalam kondisi emosional yang tinggi.
Anak perlu memahami batasan terlebih dahulu sebelum diajak membicarakan penyebab perilakunya.
Jika anak memukul atau menggigit temannya, berikan perhatian kepada anak yang menjadi korban.
Periksa kondisinya, tenangkan, dan berikan pertolongan jika diperlukan.
Langkah ini penting untuk menunjukkan bahwa tindakan menyakiti orang lain mempunyai dampak nyata yang perlu diperhatikan.
Setelah situasi aman, barulah orang tua memberikan penjelasan kepada anak yang melakukan tindakan tersebut.
Jika terjadi luka akibat gigitan hingga kulit terbuka, bersihkan luka dengan air mengalir dan sabun, kemudian minta penilaian tenaga kesehatan, terutama jika luka dalam atau terjadi pada wajah dan tangan.
Anak perlu belajar memahami emosi yang muncul sebelum melakukan tindakan fisik.
Orang tua dapat membantu memberikan nama pada perasaan tersebut.
Contohnya:
"Kamu marah karena mainannya diambil."
"Kamu kecewa karena belum mendapat giliran."
"Kamu tidak suka ketika teman berdiri terlalu dekat."
Setelah itu, jelaskan bahwa perasaan tersebut boleh muncul, tetapi memukul atau menggigit bukan cara yang tepat untuk menyampaikannya.
Pendekatan ini membantu anak menghubungkan perasaan dengan kata-kata.
Jangan hanya mengatakan kepada anak bahwa memukul tidak boleh. Ajarkan juga tindakan pengganti yang dapat dilakukan.
Misalnya:
Orang tua dapat mempraktikkan kalimat tersebut melalui permainan peran di rumah.
Jika anak belum mampu berbicara dengan lancar, gunakan gestur sederhana, gambar, atau kata pendek yang mudah dipahami.
Coba perhatikan situasi yang terjadi sebelum anak memukul atau menggigit.
Catat beberapa hal berikut:
Pengamatan tersebut dapat membantu orang tua mengenali pola yang berulang.
Misalnya, jika anak selalu menggigit ketika berebut mainan, orang tua dapat memberikan pendampingan lebih dekat ketika anak bermain bersama teman.
Perhatian orang tua sebaiknya tidak hanya diberikan ketika anak melakukan kesalahan.
Berikan apresiasi ketika anak berhasil mengendalikan diri, meminta mainan dengan kata-kata, atau menunggu giliran.
Contohnya:
"Tadi kamu marah, tetapi kamu memilih bilang tidak suka. Itu cara yang baik."
"Bagus, kamu sudah mau menunggu giliran bermain."
Pujian yang spesifik membantu anak memahami perilaku apa yang perlu dipertahankan.
CDC juga menekankan bahwa perhatian positif dan pujian dapat membantu memperkuat perilaku yang diharapkan.
Anak akan lebih mudah memahami batasan apabila orang dewasa memberikan respons yang konsisten.
Orang tua, guru, dan pengasuh sebaiknya menyepakati aturan sederhana, seperti:
Jika anak berada di lingkungan penitipan atau PAUD, komunikasikan pola perilaku dan cara penanganannya dengan guru.
Jangan sampai anak mendapatkan respons yang sangat berbeda antara rumah dan sekolah sehingga sulit memahami batasan yang berlaku.
Jangan membalas perilaku memukul dengan memukul anak, atau menggigit anak agar ia merasakan sakit yang ditimbulkan.
Cara tersebut justru memberikan contoh bahwa kekerasan dapat digunakan ketika seseorang marah.
Hindari pula memberikan label seperti "anak nakal", "anak galak", atau "anak suka menyakiti".
Fokuslah pada perilakunya, bukan identitas anak.
Katakan:
"Perbuatanmu tadi menyakiti teman.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir