Bukan:
"Kamu memang anak yang jahat."
Anak perlu memahami bahwa perilakunya dapat diperbaiki dan dirinya tetap mendapatkan dukungan untuk belajar.
Ketika perilaku terjadi di sekolah atau tempat bermain, orang tua perlu bekerja sama dengan guru untuk memahami situasinya.
Jangan langsung menyalahkan anak, guru, maupun teman yang terlibat sebelum mengetahui kronologi kejadian.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Minta informasi mengenai kejadian secara jelas.
Tanyakan kapan kejadian berlangsung, siapa yang terlibat, apa yang terjadi sebelumnya, dan bagaimana respons anak setelah kejadian.
2. Diskusikan pola perilaku dengan guru.
Apakah tindakan hanya terjadi ketika berebut mainan? Apakah anak sering mengalami kesulitan berinteraksi? Atau apakah perilaku muncul pada waktu tertentu?
3. Buat strategi pendampingan bersama.
Guru dapat membantu mengawasi situasi yang berpotensi memicu konflik, memberikan pengingat, dan mengajarkan keterampilan sosial.
4. Berikan pesan yang sama di rumah dan sekolah.
Gunakan aturan sederhana yang konsisten sehingga anak memperoleh pemahaman yang sama dari orang dewasa di sekitarnya.
5. Pantau perkembangan perilaku.
Evaluasi apakah frekuensi dan intensitas tindakan berkurang setelah strategi diterapkan.
Jika perilaku tetap berulang dan mengganggu hubungan sosial atau proses belajar, pertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional.
Perilaku memukul atau menggigit sesekali pada balita dapat terjadi dalam proses perkembangan. Namun, terdapat kondisi ketika orang tua perlu meminta bantuan profesional.
Pertimbangkan konsultasi jika:
Dokter anak dapat membantu menilai apakah terdapat faktor kesehatan atau perkembangan yang memengaruhi perilaku.
Sementara itu, psikolog anak dapat membantu mengevaluasi kemampuan pengelolaan emosi, pola interaksi sosial, dan strategi pendampingan keluarga.
Jika anak menunjukkan risiko langsung melukai diri sendiri atau orang lain, keselamatan harus segera diamankan dan bantuan profesional perlu dicari tanpa menunggu perilaku berulang.
Kemampuan mengendalikan emosi tidak terbentuk secara instan. Anak membutuhkan contoh, latihan, dan pendampingan yang konsisten dari orang dewasa.
Orang tua dapat memulai melalui kebiasaan sederhana, seperti:
Ketika anak mulai marah, orang tua dapat membantu dengan mengajaknya menarik napas, duduk sejenak, atau berpindah ke tempat yang lebih tenang.
Namun, anak tidak perlu dipaksa langsung meminta maaf ketika masih berada dalam kondisi emosi yang tinggi. Berikan kesempatan untuk menenangkan diri terlebih dahulu, kemudian bantu anak memahami dampak tindakannya dan memperbaiki hubungan dengan teman yang terluka.
Perilaku memukul dan menggigit pada anak usia dini perlu ditangani dengan serius, tetapi tidak harus disikapi dengan kemarahan atau pemberian label negatif.
Anak masih belajar mengenali perasaan, mengendalikan dorongan, dan berkomunikasi dengan orang lain. Ketika keterampilan tersebut belum berkembang dengan baik, tindakan fisik dapat muncul sebagai respons terhadap frustrasi atau konflik.
Orang tua mempunyai peran penting untuk memberikan batasan yang tegas sekaligus mengajarkan cara yang lebih tepat dalam mengekspresikan emosi.
Dengan memahami pemicu, memberikan contoh perilaku positif, membangun komunikasi dengan guru, dan menerapkan aturan secara konsisten, anak dapat belajar mengembangkan pengendalian diri serta hubungan sosial yang lebih sehat.
Namun, jika perilaku terus berulang, semakin intens, atau menyebabkan cedera, jangan ragu meminta bantuan profesional.
Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukan sekadar menghentikan anak memukul atau menggigit, tetapi membantu anak memahami perasaan, menghargai orang lain, dan menyelesaikan masalah tanpa menyakiti siapa pun.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir