Parenting
M. Panji Maulana

Anak Sering Memukul atau Menggigit Temannya? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Anak Sering Memukul atau Menggigit Temannya? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

08 November 2026 | 10:07

Kita tidak boleh melakukan itu."

Bukan:

"Kamu memang anak yang jahat."

Anak perlu memahami bahwa perilakunya dapat diperbaiki dan dirinya tetap mendapatkan dukungan untuk belajar.

Bagaimana Jika Anak Memukul atau Menggigit Temannya di Sekolah?

Ketika perilaku terjadi di sekolah atau tempat bermain, orang tua perlu bekerja sama dengan guru untuk memahami situasinya.

Jangan langsung menyalahkan anak, guru, maupun teman yang terlibat sebelum mengetahui kronologi kejadian.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan:

1. Minta informasi mengenai kejadian secara jelas.

Tanyakan kapan kejadian berlangsung, siapa yang terlibat, apa yang terjadi sebelumnya, dan bagaimana respons anak setelah kejadian.

2. Diskusikan pola perilaku dengan guru.

Apakah tindakan hanya terjadi ketika berebut mainan? Apakah anak sering mengalami kesulitan berinteraksi? Atau apakah perilaku muncul pada waktu tertentu?

3. Buat strategi pendampingan bersama.

Guru dapat membantu mengawasi situasi yang berpotensi memicu konflik, memberikan pengingat, dan mengajarkan keterampilan sosial.

4. Berikan pesan yang sama di rumah dan sekolah.

Gunakan aturan sederhana yang konsisten sehingga anak memperoleh pemahaman yang sama dari orang dewasa di sekitarnya.

5. Pantau perkembangan perilaku.

Evaluasi apakah frekuensi dan intensitas tindakan berkurang setelah strategi diterapkan.

Jika perilaku tetap berulang dan mengganggu hubungan sosial atau proses belajar, pertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional.

Kapan Orang Tua Perlu Membawa Anak ke Psikolog atau Dokter?

Perilaku memukul atau menggigit sesekali pada balita dapat terjadi dalam proses perkembangan. Namun, terdapat kondisi ketika orang tua perlu meminta bantuan profesional.

Pertimbangkan konsultasi jika:

  1. Perilaku agresif terjadi sangat sering dan semakin intens.
  2. Anak berulang kali menyebabkan cedera pada orang lain.
  3. Anak sulit dihentikan meskipun sudah diberikan batasan dan pendampingan.
  4. Perilaku mengganggu hubungan sosial dan kegiatan belajar.
  5. Anak mengalami kesulitan komunikasi atau perkembangan lainnya.
  6. Perilaku agresif muncul bersama perubahan emosi yang sangat berat.
  7. Anak menunjukkan perilaku menyakiti diri sendiri atau orang lain secara berulang.

Dokter anak dapat membantu menilai apakah terdapat faktor kesehatan atau perkembangan yang memengaruhi perilaku.

Sementara itu, psikolog anak dapat membantu mengevaluasi kemampuan pengelolaan emosi, pola interaksi sosial, dan strategi pendampingan keluarga.

Jika anak menunjukkan risiko langsung melukai diri sendiri atau orang lain, keselamatan harus segera diamankan dan bantuan profesional perlu dicari tanpa menunggu perilaku berulang.

Mengajarkan Anak Mengendalikan Emosi Dimulai dari Rumah

Kemampuan mengendalikan emosi tidak terbentuk secara instan. Anak membutuhkan contoh, latihan, dan pendampingan yang konsisten dari orang dewasa.

Orang tua dapat memulai melalui kebiasaan sederhana, seperti:

  • Mengajarkan nama-nama emosi.
  • Membiasakan anak mengungkapkan keinginan dengan kata-kata.
  • Memberikan contoh menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
  • Mengajarkan cara menenangkan diri ketika marah.
  • Memberikan kesempatan anak bermain dan berinteraksi secara positif.
  • Mengapresiasi perilaku yang menunjukkan empati dan kepedulian.

Ketika anak mulai marah, orang tua dapat membantu dengan mengajaknya menarik napas, duduk sejenak, atau berpindah ke tempat yang lebih tenang.

Namun, anak tidak perlu dipaksa langsung meminta maaf ketika masih berada dalam kondisi emosi yang tinggi. Berikan kesempatan untuk menenangkan diri terlebih dahulu, kemudian bantu anak memahami dampak tindakannya dan memperbaiki hubungan dengan teman yang terluka.

Anak Suka Memukul atau Menggigit Bukan Berarti Tidak Bisa Berubah

Perilaku memukul dan menggigit pada anak usia dini perlu ditangani dengan serius, tetapi tidak harus disikapi dengan kemarahan atau pemberian label negatif.

Anak masih belajar mengenali perasaan, mengendalikan dorongan, dan berkomunikasi dengan orang lain. Ketika keterampilan tersebut belum berkembang dengan baik, tindakan fisik dapat muncul sebagai respons terhadap frustrasi atau konflik.

Orang tua mempunyai peran penting untuk memberikan batasan yang tegas sekaligus mengajarkan cara yang lebih tepat dalam mengekspresikan emosi.

Dengan memahami pemicu, memberikan contoh perilaku positif, membangun komunikasi dengan guru, dan menerapkan aturan secara konsisten, anak dapat belajar mengembangkan pengendalian diri serta hubungan sosial yang lebih sehat.

Namun, jika perilaku terus berulang, semakin intens, atau menyebabkan cedera, jangan ragu meminta bantuan profesional.

Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukan sekadar menghentikan anak memukul atau menggigit, tetapi membantu anak memahami perasaan, menghargai orang lain, dan menyelesaikan masalah tanpa menyakiti siapa pun.

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2026, 13 Oktober). Cegah Perundungan Fisik pada Anak Usia Dini. PAUDPEDIA. https://paudpedia.kemendikdasmen.go.id/berita/cegah-perundungan-fisik-pada-anak-sejak-usia-dini
  2. American Academy of Pediatrics. (2024). 10 Tips to Prevent Aggressive Behavior in Young Children. HealthyChildren.org. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/toddler/Pages/Aggressive-Behavior.aspx
  3. Centers for Disease Control and Prevention.
LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
3 / 4
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting anak suka memukul anak suka menggigit Perilaku Agresif Anak Perkembangan Emosi Pola Asuh Anak

Komentar Pengguna