Parenting
Rahman Abdullah

Anak Sering Murung? Kenali Tanda Bullying dan Cara Orang Tua Memberikan Dukungan

Anak Sering Murung? Kenali Tanda Bullying dan Cara Orang Tua Memberikan Dukungan

27 Agustus 2026 | 20:00

Keboncinta.com-- Bullying tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat. Ada kalanya dampaknya justru muncul dalam bentuk perubahan sikap, anak yang tiba-tiba menjadi pendiam, enggan pergi ke sekolah, atau prestasinya menurun tanpa alasan yang jelas.

Karena itu, persoalan bullying tidak seharusnya dianggap sebagai konflik biasa di antara anak-anak. Perundungan dapat berkaitan dengan rasa aman, kepercayaan diri, serta kesejahteraan mental dan emosional anak.

Upaya mencegah bullying juga bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua, guru, dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang aman bagi anak.

maka, bagaimana cara mengenali tanda-tanda anak menjadi korban bullying dan apa yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegahnya?

Baca Juga: Nasib Mutasi ASN Jadi Perhatian, DPR Usulkan Masa Pengabdian 5 Tahun Sebelum Bisa Mengajukan Pindah

1. Bangun Komunikasi Terbuka dengan Anak

Langkah pertama yang dapat dilakukan orang tua adalah menciptakan suasana komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.

Jangan hanya bertanya tentang nilai atau pekerjaan rumah. Sesekali ajak anak berbicara mengenai pengalaman mereka di sekolah, hubungan dengan teman, serta hal-hal yang membuat mereka senang atau tidak nyaman.

Ketika anak mulai bercerita, hindari langsung menyalahkan atau menghakimi. Dengarkan terlebih dahulu agar anak merasa bahwa orang tuanya dapat dipercaya.

Komunikasi yang terbuka dapat membantu orang tua mengetahui persoalan yang mungkin sedang dihadapi anak sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius.

2. Ajarkan Empati Sejak Dini

Pencegahan bullying juga dapat dimulai dari rumah dengan mengajarkan anak memahami perasaan orang lain.

Anak perlu mengetahui bahwa perkataan dan tindakan dapat memberikan dampak kepada orang lain. Candaan yang dianggap lucu oleh seseorang belum tentu menyenangkan bagi orang yang menjadi sasaran.

Orang tua dapat mengajarkan empati melalui contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Anak diajak memahami bagaimana perasaan orang lain ketika diejek, dikucilkan, dipermalukan, atau diperlakukan secara tidak adil.

Pendidikan tentang empati dapat membantu anak membangun hubungan sosial yang lebih sehat dan menghargai perbedaan.

Baca Juga: Pendaftaran BeaZakat 2026 Resmi Dibuka, Kesempatan Raih Beasiswa Penuh untuk Mahasiswa S1 hingga 48 Bulan

3. Dampingi Anak Saat Menggunakan Internet

Perundungan tidak hanya dapat terjadi secara langsung di lingkungan sekolah. Di era digital, tindakan tersebut juga dapat berlangsung melalui media sosial, grup percakapan, permainan daring, maupun berbagai platform internet lainnya.

Karena itu, orang tua perlu mengetahui bagaimana anak menggunakan perangkat digital dan berinteraksi di dunia maya.

Pendampingan bukan berarti mengawasi secara berlebihan. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai etika berkomunikasi di internet, menjaga privasi, tidak menyebarkan konten yang mempermalukan orang lain, serta segera meminta bantuan jika menemukan tindakan perundungan daring.

Anak juga perlu memahami bahwa perilaku di dunia maya tetap memiliki dampak nyata terhadap orang lain.

4. Kenali Perubahan Perilaku Anak

Salah satu tantangan dalam menangani bullying adalah tidak semua anak mau menceritakan apa yang dialaminya.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan yang terjadi dalam keseharian anak. Misalnya, anak yang biasanya ceria menjadi lebih pendiam, tidak bersemangat, enggan berangkat ke sekolah, atau tiba-tiba menarik diri dari lingkungan pertemanan.

Perubahan pola tidur, keluhan fisik yang berulang, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, atau penurunan prestasi juga dapat menjadi tanda bahwa anak sedang menghadapi masalah.

Tanda-tanda tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami bullying karena bisa memiliki berbagai penyebab. Namun, perubahan yang berlangsung terus-menerus layak menjadi alasan bagi orang tua untuk mengajak anak berbicara secara lebih mendalam.

Baca Juga: Pendidikan 2027 Dapat Anggaran Rp820,9 Triliun, Pemerintah Fokus Perkuat Sekolah dan Kesejahteraan Guru

5. Jangan Abaikan Penurunan Prestasi

Perubahan dalam bidang akademik terkadang menjadi salah satu hal yang pertama kali terlihat ketika anak sedang menghadapi persoalan di sekolah.

Anak yang mengalami tekanan mungkin menjadi lebih sulit berkonsentrasi atau kehilangan motivasi belajar. Akibatnya, tugas sekolah terabaikan dan prestasi dapat ikut menurun.

Daripada langsung memarahi anak karena nilainya turun, orang tua sebaiknya mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Tanyakan dengan pendekatan yang lembut apakah ada kesulitan dalam belajar, masalah dengan teman, atau hal lain yang membuat anak tidak nyaman di sekolah.

6. Bangun Kerja Sama dengan Sekolah

Mencegah dan menangani bullying membutuhkan kerja sama antara keluarga dan sekolah.

Orang tua dapat menjalin komunikasi yang baik dengan guru, wali kelas, konselor, maupun pihak sekolah yang memiliki tanggung jawab terkait perlindungan dan kesejahteraan peserta didik.

Jika anak menyampaikan bahwa dirinya mengalami perundungan, informasi tersebut perlu ditanggapi secara serius. Orang tua dan sekolah dapat bersama-sama mencari solusi dengan tetap memperhatikan keselamatan serta kondisi emosional anak.

Komunikasi yang baik juga membantu mencegah kesalahpahaman dan memungkinkan persoalan ditangani dengan lebih cepat.

Anak Perlu Tahu Kapan Harus Meminta Bantuan

Selain mengajarkan empati, anak juga perlu dibekali keberanian untuk mencari pertolongan ketika menghadapi tindakan yang membuatnya merasa tidak aman.

Anak perlu memahami bahwa meminta bantuan bukan berarti lemah.

Tags:
Parenting Anti Bullying Bullying

Komentar Pengguna