Keboncinta.com-- Gawai kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Telepon pintar, tablet, komputer, televisi, hingga video game dapat memberikan hiburan sekaligus menjadi sarana belajar.
Namun, penggunaan gawai yang terlalu lama dan tidak terkontrol dapat berubah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan. Anak yang terlalu bergantung pada gawai berpotensi mengalami berbagai masalah, mulai dari gangguan pola tidur, kesulitan berkonsentrasi, berkurangnya aktivitas fisik, hingga perubahan perilaku.
Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa membatasi penggunaan gawai bukan berarti melarang anak memanfaatkan teknologi. Justru, pembatasan tersebut diperlukan agar teknologi digunakan secara seimbang dan tidak mengganggu proses tumbuh kembang anak.
Baca Juga: Anak Susah Lepas dari Gadget? Ini Rahasia Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini
Ketergantungan terhadap gawai dapat memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan anak. Masalahnya bukan hanya mengenai berapa lama anak memegang telepon pintar, tetapi juga aktivitas apa yang tergantikan karena terlalu banyak waktu dihabiskan di depan layar.
Anak yang terlalu sering menggunakan gawai dapat menjadi gelisah ketika perangkat tersebut tidak berada di tangannya. Mereka juga bisa kehilangan ketertarikan terhadap aktivitas lain, seperti bermain bersama teman, berolahraga, membaca, atau melakukan kegiatan bersama keluarga.
Jika kebiasaan tersebut terus berlangsung, keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan sehari-hari dapat semakin terganggu.
Salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan adalah penggunaan gawai menjelang waktu tidur.
Terlalu banyak waktu di depan layar dapat membuat anak sulit berhenti menggunakan perangkat dan akhirnya tidur lebih larut. Kondisi tersebut dapat mengurangi kualitas serta durasi tidur yang dibutuhkan tubuh untuk beristirahat.
Padahal, tidur yang cukup merupakan bagian penting dalam mendukung pertumbuhan dan aktivitas anak sehari-hari.
Karena itu, orang tua sebaiknya membiasakan anak berhenti menggunakan gawai sebelum waktu tidur dan menciptakan rutinitas malam yang lebih tenang.
Baca Juga: Materi Edukasi LGBTQ Segera Dibahas Kemenag, Psikolog dan Akademisi Akan Dilibatkan
Penggunaan gawai secara berlebihan juga dapat mengganggu kebiasaan belajar anak.
Ketika anak terbiasa mendapatkan hiburan cepat dari video, gim, atau berbagai konten digital, aktivitas belajar yang membutuhkan perhatian lebih lama dapat terasa membosankan.
Akibatnya, anak bisa lebih mudah terdistraksi dan kesulitan mempertahankan konsentrasi ketika mengikuti pembelajaran.
Orang tua perlu membantu anak membangun keseimbangan antara waktu menggunakan teknologi, belajar, bermain, beristirahat, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Terlalu lama duduk menggunakan gawai dapat membuat waktu anak untuk bergerak menjadi berkurang.
Anak yang seharusnya dapat bermain di luar rumah, berjalan, berolahraga, atau melakukan aktivitas fisik lainnya justru menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar.
Karena itu, penggunaan gawai perlu diselingi dengan aktivitas fisik yang sesuai usia agar keseharian anak tetap seimbang.
Kecanduan gawai juga dapat membuat anak lebih sering menghabiskan waktu sendirian.
Jika penggunaan perangkat menggantikan interaksi dengan keluarga dan teman, kesempatan anak untuk belajar berkomunikasi secara langsung menjadi berkurang.
Padahal, interaksi sosial sangat penting untuk membantu anak belajar bekerja sama, berbagi, memahami perasaan orang lain, dan menyelesaikan persoalan bersama.
Karena itu, orang tua perlu menyediakan waktu khusus untuk aktivitas keluarga tanpa gawai.
Terlalu lama menatap layar juga membuat mata bekerja dalam waktu panjang.
Penggunaan gawai secara berlebihan dapat membuat anak mengalami keluhan seperti mata lelah atau tidak nyaman. Karena itu, durasi penggunaan perangkat perlu dibatasi dan anak sebaiknya diberikan jeda secara berkala.
Selain membatasi waktu layar, posisi penggunaan perangkat, pencahayaan ruangan, dan jarak pandang juga perlu diperhatikan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah ketergantungan gawai adalah menerapkan batas screen time.
Screen time merupakan waktu yang digunakan seseorang untuk beraktivitas menggunakan perangkat dengan layar, seperti telepon pintar, komputer, televisi, maupun video game.
Dengan menetapkan batas waktu yang jelas, anak dapat belajar menggunakan teknologi secara lebih teratur.
Orang tua juga perlu memberikan contoh. Anak akan lebih mudah mengikuti aturan apabila melihat orang dewasa di sekitarnya juga menggunakan gawai secara bijak.
Baca Juga: Jangan Terlewat! Pengajuan Tunsus Guru Madrasah 2026 Diperpanjang hingga 12 Agustus
Batas penggunaan gawai perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi masing-masing anak. Berdasarkan rekomendasi yang dicantumkan dalam materi Kementerian Kesehatan, batas penggunaan layar yang menjadi acuan adalah:
Usia 2–5 tahun: sekitar 1 jam per hari.
Usia 6–12 tahun: sekitar 1,5 jam per hari.
Usia 12–18 tahun: sekitar 2 jam per hari.
Bayi dan anak di bawah 12 bulan: tidak direkomendasikan menggunakan gawai.
Batas tersebut perlu diterapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan anak secara keseluruhan. Waktu untuk tidur, belajar, bermain aktif, berinteraksi dengan keluarga, serta aktivitas sosial tetap harus menjadi prioritas.
Jika anak sudah terbiasa menggunakan gawai dalam waktu yang terlalu lama, orang tua tidak harus langsung menghentikannya secara drastis.
Pengurangan screen time dapat dilakukan secara bertahap. Misalnya, orang tua mulai mengurangi durasi penggunaan setiap hari sambil memperkenalkan aktivitas pengganti yang menarik.
Anak dapat diajak bermain di luar rumah, membaca buku, menggambar, berolahraga, membantu pekerjaan sederhana di rumah, atau melakukan kegiatan bersama keluarga.
Cara tersebut dapat membantu anak memahami bahwa masih banyak aktivitas menarik selain bermain dengan gawai.
Baca Juga: Kerja Terus Tapi Mental Tertekan?