Keboncinta.com-- Rasa marah merupakan bagian dari emosi yang wajar dialami setiap orang, termasuk anak-anak. Namun, kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengendalikan emosi pada setiap anak dapat berkembang dengan kecepatan yang berbeda.
Anak yang belum mampu mengelola perasaannya dengan baik bisa menunjukkan beragam respons. Ada yang menangis, mengamuk, mengambek, berteriak, bahkan bersikap agresif. Sebagian anak lainnya justru memilih diam atau menjauh ketika menghadapi situasi yang membuat mereka tidak nyaman.
Jika tidak mendapatkan pendampingan yang tepat, kesulitan mengelola emosi dapat memengaruhi cara anak berkomunikasi dan membangun hubungan dengan orang lain. Karena itu, orang tua perlu memahami kondisi emosional anak serta mengetahui cara membantu mereka kembali tenang.
Baca Juga: Kenali 4 Skill Kognitif Dasar Anak dan Cara Melatih Kemampuan Berpikir Kritis
Kondisi emosi anak dapat dianalogikan seperti sebuah “tangki” yang menampung berbagai pengalaman dan perasaan. Pada usia anak-anak, kapasitas tangki tersebut masih berkembang sehingga mereka belum selalu mampu menampung emosi sebanyak orang dewasa.
Ketika tangki emosional sudah terlalu penuh, anak dapat mengalami kesulitan mengendalikan responsnya. Kondisinya bisa terlihat melalui tangisan, kemarahan, teriakan, sikap menolak, mengambek, atau bahkan tidak mau berbicara.
Untuk memahami perubahan kondisi tersebut, emosi anak dapat dibayangkan berada dalam tiga zona, yakni zona tenang, fight, dan flight.
Ketika berada di zona tenang, anak cenderung masih dapat berpikir dengan lebih jernih. Mereka lebih mampu menerima arahan, berkomunikasi, serta berinteraksi dengan orang di sekitarnya.
Namun, ketika emosi semakin meningkat, anak dapat masuk ke zona fight. Pada tahap ini, respons melawan dapat muncul, termasuk perilaku agresif atau ledakan emosi.
Ada pula zona flight, ketika anak memilih diam, menghindar, menjauh, atau menarik diri dari situasi yang dianggap tidak nyaman.
Saat berada dalam kondisi fight atau flight, respons sistem saraf anak sedang aktif. Akibatnya, kemampuan untuk berpikir secara jernih dan menerima penjelasan panjang dapat berkurang.
Karena itu, memberikan nasihat panjang atau memaksa anak segera memahami kesalahannya ketika sedang mengalami ledakan emosi belum tentu menjadi langkah yang efektif.
Baca Juga: Jangan Keliru! Ini Arti Status Siap Bayar dalam Pencairan TPG September 2026
Hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah mengendalikan respons diri sendiri. Ketika anak sedang marah, orang tua sebaiknya berusaha tetap tenang dan tidak ikut berteriak atau panik.
Anak dapat diberi ruang untuk menurunkan intensitas emosinya. Memberikan ruang bukan berarti mengabaikan anak, melainkan memberikan kesempatan agar perasaannya perlahan mereda sambil tetap mendapatkan pengawasan dan perhatian.
Setelah anak mulai lebih tenang, orang tua dapat menawarkan pendampingan. Tanyakan dengan lembut apakah anak membutuhkan bantuan atau ingin ditemani.
Latihan relaksasi juga bisa diperkenalkan sejak anak dalam kondisi tenang. Salah satunya dengan mengajarkan pernapasan dalam atau aktivitas sederhana yang dapat membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks.
Anak yang pernah mengalami trauma fisik maupun psikologis dapat memiliki respons emosional yang lebih kuat. Mereka mungkin membutuhkan waktu lebih panjang untuk merasa aman dan kembali ke kondisi tenang.
Dalam menghadapi situasi tersebut, orang tua perlu mengedepankan kesabaran dan pemahaman. Anak sebaiknya tidak diberi cap negatif hanya karena belum mampu mengendalikan emosinya.
Apabila kondisi terasa sulit ditangani sendiri atau berlangsung secara mengkhawatirkan, orang tua dapat mempertimbangkan bantuan tenaga profesional. Dukungan yang sesuai dapat membantu keluarga memahami kebutuhan emosional anak dan menentukan langkah pendampingan yang lebih tepat.
Baca Juga: TPG Guru 2026 Terkendala Belum Masuk Rekening, Ini Kanal Resmi untuk Mendapatkan Bantuan
Marah bukanlah emosi yang harus dilarang. Anak justru perlu memahami bahwa merasa marah, kecewa, sedih, atau takut merupakan hal yang normal.
Yang perlu dipelajari adalah cara mengekspresikan perasaan tersebut tanpa melukai diri sendiri maupun orang lain.
Orang tua dapat membiasakan anak menggunakan kata-kata untuk menjelaskan perasaannya. Misalnya, anak diajak mengatakan bahwa dirinya sedang kecewa atau marah daripada langsung berteriak, memukul, atau melakukan tindakan agresif.
Latihan menenangkan diri juga sebaiknya dilakukan ketika anak sedang dalam kondisi baik.