Susu merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan gizi anak, tetapi konsumsi yang berlebihan dapat membuat anak merasa kenyang sebelum waktu makan.
Jika anak lebih sering minum susu daripada mengonsumsi makanan utama, variasi zat gizi yang diperoleh dari makanan dapat menjadi terbatas.
IDAI mengingatkan bahwa pemberian susu yang berlebihan dapat mengurangi nafsu makan karena anak sudah merasa kenyang.
Orang tua sebaiknya memperhatikan jumlah susu yang dikonsumsi dan menyesuaikannya dengan usia serta kebutuhan anak. Jangan mengurangi susu secara sembarangan, terutama jika anak masih membutuhkan ASI atau formula sesuai tahap perkembangannya. Konsultasikan kepada dokter apabila asupan susu sangat mendominasi pola makan anak.
Anak merupakan peniru yang sangat baik, termasuk dalam urusan makanan.
Jika orang tua terbiasa menolak sayuran, menghindari buah tertentu, atau hanya menyukai beberapa jenis makanan, anak dapat meniru kebiasaan tersebut.
Sebaliknya, ketika anak melihat orang tua menikmati makanan yang beragam, ia mempunyai kesempatan untuk mengenal makanan melalui contoh langsung.
IDAI menekankan pentingnya kebiasaan makan keluarga dalam membentuk preferensi makanan anak.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya meminta anak mengonsumsi makanan bergizi, tetapi juga memberikan contoh melalui pola makan sehari-hari.
Sebagian anak sangat memperhatikan tekstur, suhu, aroma, bentuk, dan tampilan makanan.
Ada anak yang hanya mau makan makanan renyah, menolak makanan lembek, atau tidak suka ketika beberapa jenis makanan bercampur dalam satu piring.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan preferensi sensorik.
Namun, apabila penolakan terhadap tekstur sangat kuat hingga anak hanya menerima sedikit jenis makanan, orang tua perlu mengevaluasi kemungkinan adanya kesulitan makan yang lebih serius.
Tidak semua masalah makan disebabkan oleh kebiasaan atau pola asuh.
Anak dapat mengalami penurunan nafsu makan akibat penyakit, gangguan saluran cerna, masalah gigi dan mulut, kesulitan mengunyah, atau gangguan menelan.
Jika anak tampak kesakitan ketika makan, sering muntah, batuk atau tersedak, orang tua perlu segera berkonsultasi dengan dokter.
Dalam kondisi seperti ini, memaksa anak makan justru dapat memperburuk ketidaknyamanan yang dialaminya.
Dalam banyak kasus, perilaku pilih-pilih makanan dapat menjadi bagian dari perkembangan anak, terutama pada usia balita.
American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa pertumbuhan anak setelah masa bayi cenderung melambat. Kondisi tersebut dapat diikuti perubahan nafsu makan dan munculnya preferensi terhadap makanan tertentu.
Anak yang sebelumnya menyukai suatu makanan juga dapat tiba-tiba menolaknya selama beberapa waktu.
CDC menjelaskan bahwa sebagian perilaku memilih makanan, termasuk hanya menyukai beberapa jenis makanan atau tidak ingin makanan tertentu bersentuhan di piring, dapat terjadi pada masa perkembangan anak dan sering berkurang seiring bertambahnya usia.
Namun, perilaku tersebut tidak boleh dianggap selalu normal.
Orang tua perlu memperhatikan apakah anak masih mendapatkan makanan yang cukup beragam, tumbuh sesuai pola pertumbuhannya, dan tidak menunjukkan tanda kesulitan makan yang mengganggu kesehatan.
Jika variasi makanan semakin terbatas atau pertumbuhan anak terganggu, pemeriksaan oleh dokter diperlukan.
Menghadapi anak yang pilih-pilih makanan membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Orang tua tidak perlu mengubah seluruh menu secara drastis atau memaksa anak mencoba semua makanan sekaligus.
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan.
Jadwal makan membantu anak mengenali waktu makan utama dan camilan.
Orang tua dapat membuat rutinitas yang konsisten, misalnya sarapan, makan siang, makan malam, serta camilan di antara waktu makan.
IDAI menjelaskan bahwa pemberian makan perlu mengikuti jadwal yang teratur untuk membantu membentuk pola lapar dan kenyang.
Hindari memberikan camilan secara terus-menerus sepanjang hari karena dapat mengurangi selera anak ketika makanan utama disajikan.
Porsi makanan yang terlalu besar dapat membuat anak merasa terbebani sebelum mulai makan.
Cobalah memberikan porsi kecil terlebih dahulu dan tambahkan apabila anak masih menginginkannya.
Misalnya, berikan beberapa potong sayuran, sedikit nasi, dan lauk dalam jumlah yang sesuai kemampuan anak.
Jika anak berhasil menghabiskan porsi tersebut, orang tua dapat menawarkan tambahan tanpa memaksanya.
Jangan langsung mengharapkan anak menyukai makanan yang baru pertama kali dilihat.
Berikan kesempatan untuk mengenal makanan melalui beberapa tahap, seperti melihat, menyentuh, mencium aroma, hingga mencicipinya.
CDC menjelaskan bahwa anak mungkin membutuhkan 8–10 kali paparan terhadap makanan baru sebelum bersedia mencobanya.
Jika anak menolak, coba tawarkan kembali pada kesempatan berbeda tanpa memarahi atau memaksanya.
Makanan baru dapat disajikan bersama makanan yang sudah dikenal dan disukai anak.
Misalnya, jika anak menyukai ayam dan nasi, orang tua dapat menambahkan sedikit sayuran pada piring yang sama.
Cara ini bukan berarti menyembunyikan seluruh makanan yang tidak disukai anak, melainkan memberikan kesempatan untuk mengenal variasi makanan secara bertahap.
Pastikan anak tetap mengetahui jenis makanan yang disajikan agar hubungan dengan makanan dapat berkembang secara positif.
Makan bersama dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk melihat kebiasaan makan orang tua dan anggota keluarga lainnya.
Ketika anak melihat orang tua menikmati sayuran, ikan, buah, dan makanan bergizi lainnya, ia dapat terdorong untuk mencoba.
Usahakan waktu makan berlangsung tanpa gangguan televisi, telepon genggam, atau permainan elektronik.
Selain membantu membangun kebiasaan makan, kegiatan ini juga dapat menjadi momen interaksi keluarga.
Anak dapat dilibatkan dalam aktivitas sederhana, seperti mencuci buah, memilih sayuran, mengaduk adonan, atau menata makanan di piring.
Kegiatan tersebut membantu anak mengenal bahan makanan sebelum disajikan.
Orang tua juga dapat mengajak anak memilih dua jenis sayuran atau buah yang ingin dicoba.
Namun, aktivitas memasak harus disesuaikan dengan usia anak dan dilakukan dengan pengawasan orang dewasa.
Sebagian anak lebih tertarik makan ketika diberikan kesempatan memegang sendok atau mengambil makanan sendiri.
Orang tua dapat menyediakan alat makan yang sesuai ukuran tangan anak dan menyajikan makanan dalam potongan yang aman sesuai kemampuan mengunyahnya.
Biarkan anak mencoba makan secara mandiri meskipun prosesnya lebih berantakan.
Tetap dampingi anak selama makan dan pastikan makanan disiapkan dengan memperhatikan risiko tersedak.
Hindari menjadikan makanan manis sebagai hadiah apabila anak berhasil menghabiskan sayuran.
Contohnya, "Kalau sayurnya habis, nanti boleh makan cokelat."
Kebiasaan tersebut dapat membuat anak menganggap makanan bergizi sebagai sesuatu yang harus dipaksakan, sedangkan makanan manis menjadi hadiah utama.
Jangan pula mengancam atau memaksa anak membuka mulut.
Jika anak sudah menunjukkan tanda kenyang atau menolak makan, orang tua sebaiknya menghormati sinyal tersebut dan mengakhiri proses makan sesuai aturan makan yang tepat.
Selain mengenalkan variasi makanan, IDAI menjelaskan pentingnya penerapan aturan makan atau feeding rules.
Prinsip ini mencakup jadwal, lingkungan, dan prosedur pemberian makan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
IDAI menyarankan proses makan tidak berlangsung lebih dari 30 menit.
Lingkungan makan perlu dibuat nyaman dan mendukung anak untuk berkonsentrasi.
Beberapa hal yang dapat dilakukan:
Cara memberikan makanan juga perlu diperhatikan.
IDAI menyarankan agar orang tua:
Dalam panduan IDAI tersebut, apabila anak menunjukkan penolakan dan tetap tidak mau makan setelah ditawarkan kembali secara netral selama 10–15 menit, proses makan dapat diakhiri.
Dengan penerapan aturan yang konsisten, waktu makan diharapkan menjadi lebih terstruktur dan tidak berubah menjadi konflik antara orang tua dan anak.
Orang tua dapat membuat jadwal makan yang sesuai dengan usia, aktivitas, kebutuhan energi, dan kondisi anak.
Berikut contoh jadwal sederhana untuk anak balita yang sudah mengonsumsi makanan keluarga.
| Waktu | Aktivitas |
|---|---|
| 07.00 | Sarapan |
| 09.30 | Camilan pagi |
| 12.00 | Makan siang |
| 15.00 | Camilan sore |
| 18.00 | Makan malam |
| Setelah makan | Air putih sesuai kebutuhan |
Jadwal tersebut hanya contoh dan dapat disesuaikan dengan waktu bangun tidur, aktivitas, serta kebutuhan anak.
WHO menekankan pentingnya pemberian makan responsif (responsive feeding), yaitu orang tua mengenali dan merespons tanda lapar serta kenyang anak.
Pada prinsipnya, orang tua bertanggung jawab menyediakan makanan yang aman dan bergizi, sedangkan anak diberikan kesempatan untuk menentukan apakah dan seberapa banyak ia ingin makan sesuai sinyal tubuhnya.
Perilaku pilih-pilih makanan tidak selalu berbahaya, tetapi terdapat beberapa kondisi yang perlu segera diperiksa.
IDAI menyarankan orang tua berkonsultasi apabila anak mengalami gejala seperti:
Jika anak sering tersedak, kesulitan bernapas, atau mengalami gangguan menelan yang berat, segera cari pertolongan medis.
Jangan menunggu sampai berat badan turun untuk memeriksakan anak apabila sudah terdapat kesulitan makan yang nyata.
Dokter anak dapat mengevaluasi kondisi pertumbuhan, status gizi, kesehatan gigi dan mulut, fungsi menelan, serta kemungkinan gangguan medis lainnya.
Jika diperlukan, anak dapat dirujuk kepada dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, ahli gizi, atau tenaga profesional yang menangani masalah makan anak.
Tidak semua anak yang susah makan membutuhkan vitamin atau suplemen penambah nafsu makan.
Pemberian suplemen sebaiknya didasarkan pada kebutuhan dan kondisi kesehatan anak, bukan hanya karena anak menolak beberapa jenis makanan.
IDAI mengingatkan bahwa masalah makan mempunyai penyebab yang beragam. Penanganan perlu disesuaikan dengan faktor yang mendasarinya.
Misalnya, jika anak mengalami gangguan mengunyah atau menelan, pemberian vitamin saja tidak akan menyelesaikan masalah tersebut.
Begitu pula jika anak mengalami kekurangan zat gizi tertentu, dokter perlu menentukan apakah diperlukan suplementasi dan bagaimana penggunaannya.
Orang tua sebaiknya tidak memberikan obat penambah nafsu makan atau suplemen secara sembarangan tanpa konsultasi tenaga kesehatan.
Hal yang lebih utama adalah mengevaluasi pola makan, variasi makanan, jadwal pemberian makan, dan perkembangan pertumbuhan anak.
Menghadapi anak yang suka memilih makanan membutuhkan kesabaran dan pendekatan yang konsisten.
Orang tua perlu memahami bahwa kebiasaan makan anak berkembang secara bertahap.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir