Parenting
M. Panji Maulana

Anak Takut Gelap dan Tidak Mau Tidur Sendiri? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Anak Takut Gelap dan Tidak Mau Tidur Sendiri? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

08 November 2026 | 15:44

KebonCinta.com – Waktu tidur yang seharusnya menjadi kesempatan bagi anak untuk beristirahat terkadang justru menjadi tantangan bagi orang tua. Ada anak yang langsung menangis ketika lampu kamar dimatikan, meminta pintu kamar tetap terbuka, atau berkali-kali memanggil ibu dan ayah agar tetap berada di samping tempat tidur.

Sebagian anak bahkan meninggalkan kamarnya pada tengah malam dan datang ke kamar orang tua karena merasa takut tidur sendirian.

Kondisi tersebut sering membuat orang tua bingung. Apakah anak hanya sedang mencari perhatian, belum terbiasa tidur sendiri, atau memang mempunyai ketakutan terhadap gelap?

Dalam perkembangan anak, rasa takut merupakan pengalaman yang dapat muncul secara alami. Seiring bertambahnya kemampuan imajinasi dan pemahaman terhadap lingkungan, anak mulai membayangkan berbagai hal yang sebelumnya belum pernah dipikirkannya.

American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa ketakutan terhadap gelap merupakan salah satu ketakutan yang umum dialami anak. Sebagian anak dapat merasa takut ketika tidak bisa melihat keadaan sekitar atau membayangkan sesuatu yang menakutkan ketika berada di kamar gelap.

Namun, rasa takut yang dialami anak tidak sebaiknya ditertawakan atau dianggap berlebihan. Orang tua perlu membantu anak merasa aman sekaligus mengembangkan keberanian untuk tidur secara lebih mandiri.

Lantas, mengapa anak takut gelap dan tidak mau tidur sendiri? Apakah kondisi tersebut termasuk bagian dari perkembangan normal? Berikut penyebab dan cara membantu anak mengatasi ketakutan saat malam hari.

Mengapa Anak Takut Gelap dan Tidak Mau Tidur Sendiri?

Ketakutan terhadap gelap dapat muncul karena berbagai faktor, mulai dari perkembangan imajinasi, pengalaman yang tidak menyenangkan, hingga kecemasan ketika berpisah dari orang tua.

Berikut beberapa penyebab yang perlu dipahami.

1. Imajinasi Anak Mulai Berkembang

Seiring bertambahnya usia, kemampuan imajinasi anak semakin berkembang.

Anak mulai mampu membayangkan berbagai situasi, termasuk sesuatu yang sebenarnya tidak ada di dalam kamar.

Misalnya, bayangan pakaian yang tergantung dapat terlihat seperti sosok tertentu ketika lampu dimatikan. Suara dari luar kamar juga dapat dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan.

Pada usia prasekolah, anak belum selalu mampu membedakan antara sesuatu yang dibayangkan dan keadaan yang benar-benar terjadi.

Karena itu, sebagian anak merasa takut ketika berada di kamar yang gelap.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa ketakutan terhadap gelap dan berbagai hal yang dibayangkan merupakan bagian dari ketakutan masa kanak-kanak yang umum ditemukan.

2. Anak Takut Berpisah dari Orang Tua

Sebagian anak merasa lebih aman ketika orang tua berada di dekatnya.

Ketika harus tidur sendiri, anak mungkin merasa kehilangan rasa aman tersebut.

Kondisi ini dapat berkaitan dengan separation anxiety atau kecemasan berpisah, yaitu perasaan takut ketika harus berjauhan dengan orang yang menjadi sumber rasa aman.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa kecemasan berpisah dapat memengaruhi pola tidur anak, termasuk menyebabkan anak sering terbangun dan menangis untuk mencari orang tua.

Kondisi tersebut dapat muncul pada tahap perkembangan tertentu dan biasanya membutuhkan pendekatan yang penuh kasih sayang serta konsisten.

3. Anak Pernah Menonton atau Mendengar Cerita Menakutkan

Tontonan dan cerita mempunyai pengaruh terhadap cara anak membayangkan sesuatu.

Film, video, permainan, atau cerita yang mengandung adegan menakutkan dapat membekas dalam ingatan anak.

Ketika berada di kamar gelap, anak mungkin kembali mengingat adegan tersebut dan merasa bahwa hal yang sama dapat terjadi kepadanya.

Paparan tersebut tidak selalu berasal dari tontonan orang tua. Anak dapat memperoleh cerita menakutkan dari teman sebaya atau percakapan di lingkungan sekolah.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan jenis konten yang dikonsumsi anak, terutama menjelang waktu tidur.

4. Anak Mengalami Pengalaman yang Membuatnya Takut

Perubahan perilaku tidur dapat muncul setelah anak mengalami pengalaman tertentu.

Misalnya, pernah terbangun karena suara keras, mengalami mimpi buruk, pindah rumah, atau mendengar kejadian yang membuatnya merasa tidak aman.

Pengalaman tersebut dapat membuat anak menghubungkan waktu tidur dengan rasa takut.

Jika sebelumnya anak sudah terbiasa tidur sendiri tetapi tiba-tiba menolak, orang tua perlu mencari tahu apakah terdapat pengalaman yang mendasarinya.

5. Anak Belum Terbiasa dengan Rutinitas Tidur Mandiri

Sebagian anak selalu tidur bersama orang tua atau didampingi sampai benar-benar tertidur.

Kebiasaan tersebut tidak otomatis salah. Namun, ketika keluarga mulai mengajarkan anak tidur sendiri, perubahan rutinitas dapat menimbulkan penolakan.

Anak mungkin belum terbiasa menenangkan diri ketika orang tua meninggalkan kamar.

Karena itu, proses belajar tidur mandiri sebaiknya dilakukan secara bertahap, sesuai usia, kebutuhan, dan kesiapan anak.

6. Anak Mengalami Mimpi Buruk

Mimpi buruk dapat membuat anak takut kembali tidur, terutama ketika mimpi tersebut terasa nyata.

Anak mungkin terbangun sambil menangis, mencari orang tua, atau menceritakan sesuatu yang menakutkan.

National Health Service (NHS) menjelaskan bahwa mimpi buruk dapat terjadi pada anak dan biasanya dapat diingat setelah mereka terbangun.

Berbeda dengan mimpi buruk, night terror merupakan episode ketika anak terlihat sangat ketakutan, berteriak, atau bergerak ketika masih tertidur dan biasanya tidak mengingat kejadian tersebut setelah bangun.

Kedua kondisi tersebut berbeda sehingga orang tua perlu memahami situasinya sebelum memberikan respons.

7. Anak Sedang Mengalami Perubahan Emosional

Perubahan lingkungan, konflik pertemanan, tekanan sekolah, atau masalah keluarga dapat membuat anak merasa lebih cemas.

Sebagian anak mungkin tidak menceritakan masalah tersebut secara langsung, tetapi menunjukkan perubahan melalui pola tidur.

Misalnya, anak yang sebelumnya berani tidur sendiri mulai meminta ditemani setiap malam.

Jika ketakutan muncul bersamaan dengan perubahan perilaku lainnya, orang tua perlu mengajak anak berbicara dan mencari tahu kondisi emosionalnya.

Apakah Anak Takut Gelap Termasuk Hal yang Normal?

Dalam banyak kasus, rasa takut terhadap gelap merupakan bagian dari perkembangan anak.

Ketakutan dapat muncul ketika kemampuan imajinasi berkembang dan anak mulai memahami berbagai kemungkinan yang belum dapat dijelaskan secara logis.

AAP menjelaskan bahwa sebagian besar ketakutan masa kanak-kanak bersifat ringan dan dapat berkurang seiring waktu dengan dukungan orang tua.

Namun, ketakutan perlu mendapatkan perhatian apabila semakin intens, berlangsung lama, atau mengganggu aktivitas anak.

Misalnya, anak bukan hanya takut tidur sendiri, tetapi juga mulai takut berada di ruangan tertentu, menolak sekolah karena takut berpisah dengan orang tua, atau terus mengalami kecemasan sepanjang hari.

Dalam situasi seperti ini, orang tua perlu mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut.

Tanda Anak Mengalami Ketakutan saat Waktu Tidur

Ketakutan terhadap gelap dapat terlihat melalui beberapa perilaku berikut:

Tanda yang TerlihatKemungkinan Kondisi
Menolak lampu kamar dimatikanTakut terhadap suasana gelap
Meminta orang tua terus berada di kamarMembutuhkan rasa aman
Sering memanggil orang tua pada malam hariKesulitan tidur secara mandiri
Menangis ketika ditinggalkanKecemasan berpisah
Mengaku melihat sesuatu yang menakutkanImajinasi atau pengaruh pengalaman
Tidur berpindah ke kamar orang tuaMencari kenyamanan
Sulit kembali tidur setelah mimpi burukKetakutan terhadap pengalaman tidur
Menolak masuk kamar ketika malamKecemasan menjelang tidur

Orang tua perlu memperhatikan frekuensi dan intensitas perilaku tersebut serta apakah ketakutan mulai mengganggu kualitas tidur anak.

7 Cara Mengatasi Anak yang Takut Gelap dan Tidak Mau Tidur Sendiri

Mengatasi ketakutan anak tidak harus dilakukan dengan memaksa mereka tidur sendiri dalam keadaan belum siap.

Orang tua dapat membangun rasa aman sekaligus membantu anak menghadapi ketakutannya secara bertahap.

Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan.

1. Dengarkan dan Akui Perasaan Anak

Ketika anak mengatakan takut gelap, jangan langsung menjawab bahwa tidak ada sesuatu yang perlu ditakuti.

Bagi anak, perasaan tersebut benar-benar dirasakan meskipun sumber ketakutannya mungkin berasal dari imajinasi.

Cobalah mengatakan:

"Ibu tahu kamu merasa takut ketika lampunya dimatikan."

"Kamu boleh cerita apa yang membuatmu tidak nyaman."

"Ibu akan membantu supaya kamu merasa lebih aman."

Hindari mengejek atau mempermalukan anak karena ketakutannya.

AAP menyarankan orang tua untuk bersikap empatik dan tidak memaksa anak menghadapi ketakutan sebelum siap.

2. Gunakan Lampu Tidur dengan Cahaya Redup

Jika anak merasa takut ketika kamar benar-benar gelap, orang tua dapat menggunakan lampu tidur dengan cahaya redup.

Pilih lampu yang tidak terlalu terang agar anak tetap merasa nyaman tanpa mengganggu suasana tidur.

AAP juga menyarankan penggunaan lampu malam di lorong dekat pintu kamar apabila anak membutuhkan sedikit pencahayaan untuk merasa aman.

Tujuannya bukan membuat kamar selalu terang, tetapi memberikan rasa nyaman sambil membantu anak beradaptasi secara bertahap.

3.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 3
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting anak takut gelap anak takut tidur sendiri pola tidur anak kecemasan anak Kemandirian Anak Kesehatan Anak

Komentar Pengguna