Parenting
M. Panji Maulana

Anak Tidak Mau Berbagi Mainan? Ini Cara Mengajarkan Kepedulian dan Sikap Berbagi Sejak Dini

Anak Tidak Mau Berbagi Mainan? Ini Cara Mengajarkan Kepedulian dan Sikap Berbagi Sejak Dini

08 November 2026 | 15:42

KebonCinta.com – Mengajak anak berbagi mainan dengan saudara atau teman terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Ada anak yang langsung memeluk mainannya ketika diminta meminjamkan, marah ketika barangnya disentuh, atau menangis ketika harus bergantian menggunakan sesuatu.

Situasi tersebut sering terjadi ketika anak bermain bersama teman sebaya, berkumpul dengan saudara, atau mengikuti kegiatan di sekolah. Tidak jarang orang tua langsung menegur anak karena dianggap pelit atau tidak mau berbagi.

Padahal, kemampuan berbagi tidak muncul secara otomatis. Anak perlu melalui proses perkembangan untuk memahami kepemilikan, mengenali perasaan orang lain, menunggu giliran, dan membangun hubungan sosial.

American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa kemampuan bekerja sama dan berbagi berkembang secara bertahap selama masa prasekolah. Anak mulai belajar memahami perasaan orang lain dan menggunakan cara yang lebih baik untuk menyelesaikan konflik ketika bermain.

Sementara itu, ZERO TO THREE menekankan bahwa anak usia dini belum sepenuhnya mampu memahami sudut pandang orang lain. Karena itu, penolakan untuk berbagi tidak selalu menunjukkan bahwa anak mempunyai sifat egois.

Namun, bukan berarti orang tua harus membiarkan anak selalu mempertahankan semua keinginannya. Anak tetap perlu belajar menghargai kepemilikan orang lain, menunggu giliran, dan menggunakan barang bersama secara adil.

Lantas, mengapa anak tidak mau berbagi mainan? Apakah perilaku tersebut termasuk bagian dari perkembangan normal? Berikut penyebab dan cara mengajarkan sikap berbagi serta kepedulian sejak dini.

Mengapa Anak Tidak Mau Berbagi Mainan?

Penolakan berbagi dapat dipengaruhi oleh usia, perkembangan emosi, pemahaman mengenai kepemilikan, dan pengalaman sosial anak.

Berikut beberapa penyebab yang perlu dipahami orang tua.

1. Anak Belum Memahami Konsep Berbagi

Pada usia balita, anak masih belajar memahami bahwa orang lain mempunyai keinginan dan kebutuhan yang berbeda.

Ketika sedang menggunakan mainan, anak mungkin merasa bahwa benda tersebut harus tetap berada dalam kendalinya.

Jika teman mengambil mainan tersebut, anak dapat langsung merasa kehilangan sesuatu yang sedang disukainya.

Kondisi ini berkaitan dengan perkembangan kemampuan memahami sudut pandang orang lain atau perspective-taking.

Anak membutuhkan pengalaman dan pendampingan agar mulai memahami bahwa orang lain juga ingin bermain, tetapi hal tersebut tidak selalu berarti mainannya akan hilang.

2. Anak Menganggap Mainan sebagai Milik Pribadi

Anak mulai memahami konsep kepemilikan ketika mengenali barang yang sering digunakan atau diberikan kepadanya.

Misalnya, anak merasa mobil-mobilan tertentu adalah miliknya karena selalu dibawa ketika bermain.

Ketika orang lain meminta mainan tersebut, anak mungkin menganggap permintaan itu sebagai ancaman terhadap kepemilikannya.

Orang tua perlu mengajarkan perbedaan antara meminjamkan, berbagi, dan memberikan barang secara permanen.

Anak juga perlu memahami bahwa menghargai kepemilikan orang lain sama pentingnya dengan menjaga barang miliknya sendiri.

3. Anak Takut Mainannya Tidak Dikembalikan

Sebagian anak menolak berbagi karena khawatir mainannya akan hilang atau rusak.

Ketakutan tersebut dapat muncul apabila sebelumnya pernah mengalami kejadian ketika barang yang dipinjamkan tidak dikembalikan atau rusak saat digunakan orang lain.

Dalam situasi seperti ini, orang tua perlu memberikan rasa aman.

Jelaskan bahwa bermain bergantian tidak berarti menyerahkan kepemilikan barang selamanya.

Misalnya, "Kamu boleh meminjamkan mobil itu sebentar. Setelah temanmu selesai, mobilnya akan dikembalikan."

4. Anak Belum Terbiasa Menunggu Giliran

Kemampuan menunggu membutuhkan pengendalian diri dan pemahaman terhadap aturan.

Anak yang masih kecil mungkin sulit menerima ketika harus menunggu teman selesai bermain sebelum mendapatkan giliran.

Akibatnya, ia dapat merebut mainan atau menangis ketika tidak langsung mendapatkan benda yang diinginkan.

AAP menjelaskan bahwa anak prasekolah secara bertahap mulai belajar menyelesaikan konflik melalui kegiatan bergiliran dan bertukar mainan.

Kemampuan tersebut perlu dilatih melalui pengalaman bermain yang sederhana.

5. Anak Merasa Mainannya Lebih Istimewa

Sebagian anak mempunyai mainan kesayangan yang selalu dibawa ke mana-mana.

Mainan tersebut mungkin mempunyai nilai emosional karena sering digunakan, diberikan oleh orang tua, atau menjadi benda yang membuat anak merasa nyaman.

Anak dapat merasa sangat keberatan ketika diminta meminjamkan benda tersebut.

Orang tua perlu menghormati bahwa tidak semua barang harus dibagikan.

Ajarkan anak untuk membedakan mainan pribadi yang boleh disimpan dan mainan yang dapat digunakan bersama.

6. Anak Belum Terbiasa Bermain Bersama Teman

Anak yang jarang bermain dalam kelompok mungkin membutuhkan waktu untuk memahami aturan interaksi sosial.

Ia mungkin belum tahu bagaimana cara meminta mainan, menunggu giliran, atau bergabung dalam permainan yang sedang dilakukan orang lain.

Akibatnya, anak dapat mempertahankan mainan sendiri atau mengambil barang teman tanpa memahami dampaknya.

Orang tua dapat memberikan kesempatan bermain bersama dalam kelompok kecil agar anak mempunyai pengalaman sosial yang lebih terarah.

7. Anak Sedang Lelah atau Mengalami Ketidaknyamanan

Konflik saat bermain dapat lebih mudah terjadi ketika anak sedang lapar, mengantuk, kelelahan, atau merasa tidak nyaman.

Dalam kondisi tersebut, anak mungkin mempunyai kesabaran yang lebih rendah untuk menunggu atau bergantian.

ZERO TO THREE menjelaskan bahwa kebutuhan dasar seperti kenyamanan fisik dan kondisi emosional perlu diperhatikan ketika anak mengalami konflik saat bermain.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kondisi anak sebelum menganggap penolakan berbagi sebagai masalah karakter.

Apakah Anak yang Tidak Mau Berbagi Termasuk Egois?

Tidak selalu.

Pada usia dini, anak masih mengembangkan kemampuan memahami kebutuhan dan perasaan orang lain.

Ketika seorang balita menolak memberikan mainannya, hal tersebut belum tentu menunjukkan bahwa ia tidak mempunyai empati.

Bisa jadi anak belum memahami bahwa teman juga ingin menggunakan benda yang sama atau belum mampu menerima penundaan.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa perkembangan sosial anak prasekolah berlangsung secara bertahap. Anak mulai memahami perasaan orang lain dan belajar bekerja sama melalui interaksi dengan teman sebaya.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan label pelit atau egois.

Lebih baik mengajarkan keterampilan sosial yang dibutuhkan, seperti meminta izin, bergantian, meminjamkan barang, dan menghormati kepemilikan orang lain.

Tahapan Anak Belajar Berbagi Berdasarkan Usia

Kemampuan berbagi tidak berkembang pada waktu yang sama untuk semua anak.

Namun, terdapat beberapa gambaran perkembangan yang dapat membantu orang tua memahami prosesnya.

UsiaGambaran Perkembangan Sosial
1–2 tahunMulai mengenali kepemilikan dan lebih sering bermain sendiri atau berdampingan dengan anak lain
2–3 tahunMulai belajar bergantian, tetapi masih sering kesulitan menunggu
3–4 tahunMulai memahami aturan sederhana dan dapat bekerja sama dengan bantuan orang dewasa
4–5 tahunKemampuan berbagi, bernegosiasi, dan bermain bersama mulai berkembang
5–6 tahunUmumnya semakin mampu memahami giliran dan mempertimbangkan perasaan teman

Pembagian tersebut merupakan gambaran umum, bukan patokan perkembangan yang harus dipenuhi setiap anak.

Sebagian anak mungkin lebih cepat memahami konsep bergiliran, sementara lainnya membutuhkan lebih banyak pengalaman dan pendampingan.

Yang penting adalah melihat perkembangan keterampilan sosial secara bertahap, bukan memaksakan anak untuk selalu meminjamkan semua barangnya.

8 Cara Mengajarkan Anak Berbagi dan Peduli kepada Orang Lain

Mengajarkan berbagi membutuhkan contoh dan latihan dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua tidak perlu memaksa anak langsung memberikan seluruh mainannya. Mulailah dari kegiatan sederhana yang membuat anak memahami konsep bergiliran dan bekerja sama.

Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan.

1. Berikan Contoh Perilaku Berbagi di Rumah

Anak belajar melalui pengamatan terhadap orang tua.

Tunjukkan bagaimana anggota keluarga berbagi makanan, menggunakan barang bersama, dan membantu satu sama lain.

Misalnya, ketika makan bersama, orang tua dapat mengatakan:

"Ayah berbagi buah dengan Ibu."

"Kita mengambil makanan secukupnya supaya semua bisa menikmati."

Contoh sederhana tersebut membantu anak memahami bahwa berbagi merupakan bagian dari interaksi sehari-hari.

2.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 3
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting anak tidak mau berbagi mengajarkan berbagi Empati Anak perkembangan sosial anak Pola Asuh Pendidikan Karakter

Komentar Pengguna