KebonCinta.com – Ketika anak menyakiti temannya, orang tua biasanya berharap anak segera mengakui kesalahan dan meminta maaf.
Misalnya, seorang anak mendorong temannya ketika berebut mainan. Orang tua kemudian mengatakan bahwa ia harus meminta maaf.
Namun, anak justru diam, menolak, atau mengatakan bahwa temannya lebih dahulu membuatnya marah.
Situasi seperti ini dapat membuat orang tua merasa khawatir terhadap perkembangan sikap dan empati anak.
Sebagian orang dewasa akhirnya memaksa anak mengucapkan kata maaf agar persoalan cepat selesai.
Padahal, permintaan maaf tidak seharusnya hanya menjadi ucapan yang dihasilkan karena takut dimarahi.
Penelitian dan panduan pengasuhan menekankan pentingnya mengajarkan anak memahami akibat tindakan serta melakukan perbaikan ketika telah menyakiti orang lain.
Greater Good Science Center dari University of California, Berkeley, menjelaskan bahwa tindakan memperbaiki kerugian dapat membantu anak memahami tanggung jawab dan membangun kembali hubungan.
Ada beberapa kemungkinan alasan anak menolak meminta maaf.
Pertama, anak masih berada dalam keadaan marah atau kecewa.
Kedua, anak merasa tindakannya merupakan respons terhadap perilaku temannya.
Ketiga, anak belum sepenuhnya memahami bahwa perbuatannya menyebabkan orang lain terluka.
Keempat, anak merasa malu ketika diminta meminta maaf di depan banyak orang.
Kelima, anak mungkin menganggap meminta maaf berarti dirinya adalah anak yang buruk.
Karena itu, orang tua perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, memahami alasan anak tidak berarti membenarkan tindakan menyakiti orang lain.
Perilaku yang merugikan tetap harus dihentikan dan ditangani.
Jika seorang anak memukul, mendorong, atau menyebabkan cedera, langkah pertama adalah memastikan keselamatan pihak yang terluka.
Periksa apakah teman tersebut membutuhkan bantuan.
Jika terdapat cedera, berikan pertolongan yang sesuai dan hubungi tenaga kesehatan apabila diperlukan.
Jangan langsung memusatkan perhatian pada kewajiban meminta maaf sementara kebutuhan korban belum ditangani.
Misalnya, ketika seorang anak terjatuh karena didorong, orang dewasa perlu membantu anak yang jatuh sebelum memulai percakapan panjang mengenai tanggung jawab.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa keselamatan dan pemulihan menjadi prioritas.
Setelah memastikan keadaan aman, orang tua perlu memberikan batasan.
Misalnya:
"Tidak boleh mendorong teman."
Gunakan kalimat yang berfokus pada tindakan.
Hindari label seperti "anak jahat" atau "kamu selalu membuat masalah".
Label negatif dapat membuat anak semakin defensif dan sulit mendengarkan.
Perlu dibedakan bahwa anak dapat melakukan kesalahan tanpa identitas dirinya harus disamakan dengan kesalahan tersebut.
Tujuan pendampingan adalah membantu anak memahami perilaku yang perlu diperbaiki.
Jika anak masih menangis atau berteriak, meminta maaf saat itu juga mungkin tidak menghasilkan pemahaman.
Anak perlu diberi kesempatan menenangkan diri dengan pendampingan yang sesuai.
Orang tua dapat mengatakan:
"Kita tenang dulu, nanti kita bicarakan apa yang terjadi."
Setelah anak lebih mampu mendengarkan, mulailah percakapan.
Namun, memberikan waktu bukan berarti membiarkan tindakan menyakiti orang lain tanpa penyelesaian.
Batasan perilaku tetap berlaku, dan tanggung jawab perlu dibahas ketika anak sudah siap.
Tanyakan kejadian secara terbuka.
Misalnya:
"Apa yang terjadi sebelum kamu mendorong temanmu?"
Anak mungkin menjelaskan bahwa temannya mengambil mainan tanpa izin.
Informasi tersebut penting untuk memahami konteks.
Namun, orang tua tetap perlu menjelaskan bahwa rasa kesal tidak membenarkan tindakan memukul atau mendorong.
Misalnya:
"Kamu marah karena mainanmu diambil. Perasaan marah itu bisa dipahami, tetapi mendorong teman tetap tidak boleh."
Dengan cara tersebut, anak belajar membedakan emosi dari tindakan.
Permintaan maaf akan lebih bermakna ketika anak memahami apa yang perlu diperbaiki.
Orang tua dapat mengajukan pertanyaan sederhana:
"Menurutmu, bagaimana perasaan temanmu ketika didorong?"
"Apakah ia kesakitan?"
"Apa yang bisa kita lakukan agar keadaannya lebih baik?"
Anak kecil mungkin belum mampu menjawab seluruh pertanyaan tersebut.
Karena itu, gunakan bahasa sesuai usia dan jangan mengharapkan analisis panjang.
Jika anak mengatakan tidak tahu, orang tua dapat membantu menjelaskan berdasarkan keadaan yang terlihat.
Misalnya:
"Temanmu menangis setelah jatuh. Kita perlu memastikan dia baik-baik saja."
Baca Juga: Mengajarkan Anak Meminta Maaf Sejak Dini
Mengucapkan kata maaf dapat menjadi langkah penting dalam menyelesaikan konflik.
Namun, kata tersebut tidak selalu mencerminkan pemahaman ketika diucapkan karena paksaan.
Greater Good Science Center menjelaskan bahwa anak dapat memandang permintaan maaf yang dipaksakan sebagai sesuatu yang kurang tulus.
Karena itu, orang tua sebaiknya membantu anak memahami alasan meminta maaf.
Jika anak belum siap mengucapkannya, orang tua tetap dapat membimbingnya melakukan tindakan perbaikan.
Namun, pendekatan ini tidak berarti bahwa anak dibebaskan dari tanggung jawab.
Ia tetap perlu diajak mengakui tindakan dan membantu memperbaiki dampaknya.
Dalam panduan Making Amends for Kids, Greater Good in Action mengajak anak memikirkan tindakan yang dapat mengurangi kerugian akibat perilakunya.
Misalnya, jika anak merobohkan bangunan mainan temannya, ia dapat menawarkan bantuan menyusunnya kembali.
Jika anak merusak barang, ia dapat dibimbing mengambil tanggung jawab sesuai usia dan kemampuan.
Jika seseorang terluka, anak dapat menawarkan bantuan atau menunjukkan kepedulian dengan cara yang diterima pihak tersebut.
Namun, jangan memaksa teman yang disakiti untuk langsung menerima pelukan atau permintaan maaf.
Pihak yang terluka juga mempunyai hak untuk merasa belum siap.
Setelah anak memahami kejadian, orang tua dapat membantu menyusun kalimat sederhana.
Misalnya:
"Maaf, tadi aku mendorongmu."
"Aku tahu kamu jatuh dan sakit."
"Lain kali aku akan bicara jika tidak suka."
Jika anak merusak barang teman, ia dapat mengatakan:
"Maaf, aku merusak mainanmu. Aku mau membantu memperbaikinya."
Tidak semua anak mampu mengucapkan kalimat panjang.
Bagi anak yang lebih kecil, ungkapan sederhana dapat disertai tindakan perbaikan.
Yang terpenting, anak mengetahui perilaku apa yang sedang dipertanggungjawabkan.
Dalam konflik, kedua pihak mungkin sama-sama melakukan tindakan yang perlu diperbaiki.
Misalnya, seorang anak mengambil barang tanpa izin, sedangkan anak lain merespons dengan memukul.
Orang tua perlu memeriksa kejadian secara adil.
Jangan langsung menyimpulkan bahwa semua pihak mempunyai kesalahan yang sama besar.
Jelaskan tanggung jawab masing-masing berdasarkan tindakan yang benar-benar dilakukan.
Anak yang mengambil barang perlu belajar meminta izin.
Anak yang memukul perlu memahami bahwa kekerasan bukan penyelesaian yang dapat diterima.
Namun, korban tidak seharusnya dipaksa meminta maaf hanya demi membuat masalah terlihat selesai.
Dalam beberapa keadaan, orang tua mungkin meminta anak meminta maaf di depan teman-teman atau anggota keluarga.
Namun, mempermalukan anak di hadapan orang lain bukan cara yang baik untuk membangun tanggung jawab.
Jika memungkinkan, percakapan awal dapat dilakukan di tempat yang lebih tenang.
Setelah itu, permintaan maaf diberikan langsung kepada pihak yang disakiti dengan cara yang sesuai.
Jika kejadian berlangsung di sekolah, orang tua dapat bekerja sama dengan guru untuk menentukan penyelesaian yang menjaga martabat dan keselamatan seluruh anak.
Anak belajar meminta maaf melalui perilaku orang dewasa.
Jika orang tua melakukan kesalahan, mereka dapat menunjukkan cara mengakuinya.
Misalnya:
"Maaf, tadi Ayah berbicara terlalu keras."
"Ayah akan berusaha menyampaikan dengan lebih tenang."
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan.
Orang tua tetap mempunyai kewenangan membimbing anak, tetapi juga bertanggung jawab terhadap perilakunya sendiri.
Dengan demikian, anak melihat bahwa setiap anggota keluarga perlu memperbaiki kesalahan.
Latihan meminta maaf tidak harus menunggu konflik nyata.
Orang tua dapat menggunakan cerita atau permainan peran.
Misalnya, kisah dua anak yang berebut pensil hingga salah satu pensil patah.
Tanyakan apa yang mungkin dirasakan pemilik pensil dan bagaimana kerusakan tersebut dapat diperbaiki.
Anak dapat menyampaikan beberapa pilihan tindakan.
Diskusi semacam ini membantu anak mempelajari konsekuensi perilaku ketika sedang dalam keadaan tenang.
Namun, jangan menggunakan cerita untuk terus-menerus menyindir kesalahan yang pernah dilakukan anak.
Permintaan maaf tidak cukup apabila perilaku menyakiti terus berulang tanpa perbaikan.
Orang tua perlu memperhatikan pemicu dan situasi yang terjadi.
Misalnya, anak sering memukul ketika berebut mainan.
Keluarga dapat melatih giliran, meminta izin, serta menyampaikan keberatan dengan kata-kata.
Jika konflik terjadi di sekolah, komunikasi dengan guru perlu dilakukan secara proporsional.
Catat apakah strategi yang diterapkan membantu mengurangi kejadian.
Jika perilaku agresif sering menyebabkan cedera atau mengganggu kegiatan sosial, konsultasi dengan profesional anak dapat dipertimbangkan.
Baca Juga: Anak Sering Memukul Teman saat Marah? Cara Mengajarkan Batasan dan Keterampilan Emosi
Salah satu kesalahan dalam penyelesaian konflik adalah menganggap masalah selesai setelah satu anak mengatakan maaf dan anak lain diminta langsung menerima.
Padahal, pihak yang disakiti mungkin masih takut, sedih, atau memerlukan waktu.
Anak perlu memahami bahwa permintaan maaf tidak memberikan hak untuk memaksa orang lain kembali bermain bersamanya.
Orang tua dapat menjelaskan:
"Kamu sudah meminta maaf.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir