Parenting
M. Panji Maulana

Anak Tidak Mau Sikat Gigi? Ini 8 Cara Membentuk Kebiasaan Menjaga Kesehatan Gigi Sejak Dini

Anak Tidak Mau Sikat Gigi? Ini 8 Cara Membentuk Kebiasaan Menjaga Kesehatan Gigi Sejak Dini

08 November 2026 | 12:50

KebonCinta.com – Mengajak anak menyikat gigi terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Ada anak yang langsung menolak ketika melihat sikat gigi, menangis saat pasta gigi mulai digunakan, atau hanya mau menyikat bagian depan gigi selama beberapa detik. Sebagian lainnya justru lebih tertarik bermain dengan air daripada membersihkan giginya.

Situasi tersebut sering membuat orang tua harus membujuk berulang kali. Tidak jarang, kegiatan menyikat gigi berakhir dengan tangisan atau pertengkaran kecil sebelum anak bersedia melakukannya.

Padahal, menjaga kesehatan gigi perlu dibiasakan sejak gigi pertama tumbuh. Gigi susu mempunyai fungsi penting dalam membantu anak mengunyah makanan, berbicara, serta menjaga ruang bagi pertumbuhan gigi permanen.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menganjurkan kebiasaan menyikat gigi minimal dua kali sehari, yaitu setelah sarapan dan sebelum tidur malam. Sementara itu, American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan orang tua mulai membersihkan gigi anak sejak gigi pertamanya muncul.

Karena itu, anak yang menolak sikat gigi tidak sebaiknya langsung dianggap malas atau sulit diatur. Bisa jadi anak belum terbiasa dengan sensasi sikat gigi, tidak menyukai rasa pasta gigi, merasa tidak nyaman, atau belum memahami mengapa giginya perlu dibersihkan.

Lantas, mengapa anak sering menolak menyikat gigi? Bagaimana cara membangun kebiasaan tersebut tanpa memaksa? Berikut penyebab, langkah praktis, serta panduan menjaga kesehatan gigi anak yang perlu diketahui orang tua.

Mengapa Anak Tidak Mau Menyikat Gigi?

Penolakan terhadap kegiatan menyikat gigi dapat dipengaruhi oleh usia, pengalaman, kebiasaan, dan kondisi anak.

Pada usia balita, anak sedang mengembangkan kemandirian dan mulai ingin menentukan aktivitas yang dilakukan sendiri. Ketika orang tua meminta anak menyikat gigi, sebagian anak mungkin menganggapnya sebagai kegiatan yang mengganggu waktu bermain.

Berikut beberapa penyebab yang perlu dipahami.

1. Anak Belum Terbiasa dengan Rutinitas Menyikat Gigi

Anak yang belum mempunyai jadwal kebersihan diri secara konsisten mungkin menganggap menyikat gigi sebagai kegiatan tambahan yang tidak perlu dilakukan setiap hari.

Jika orang tua hanya mengajak anak menyikat gigi ketika ingat atau setelah anak mengonsumsi makanan tertentu, kebiasaan tersebut akan lebih sulit terbentuk.

Karena itu, kegiatan menyikat gigi sebaiknya dimasukkan ke dalam rutinitas harian, terutama setelah sarapan dan sebelum tidur malam.

2. Anak Tidak Menyukai Rasa Pasta Gigi

Sebagian anak tidak menyukai rasa mint yang terlalu kuat atau sensasi tertentu ketika pasta gigi digunakan.

Ada pula anak yang merasa tidak nyaman karena pasta gigi menghasilkan terlalu banyak busa.

Orang tua dapat memilih pasta gigi berfluoride yang memang ditujukan untuk anak, dengan rasa yang lebih sesuai dan tetap memperhatikan jumlah penggunaannya.

AAP menyarankan orang tua mengoleskan pasta gigi pada sikat anak dan memilih produk yang sesuai dengan usia.

3. Ukuran dan Bentuk Sikat Gigi Tidak Nyaman

Sikat gigi orang dewasa biasanya mempunyai kepala lebih besar dan pegangan yang kurang sesuai untuk tangan anak.

Jika sikat terlalu besar atau bulunya terlalu keras, anak dapat merasa tidak nyaman ketika membersihkan gigi.

Pilih sikat gigi khusus anak dengan kepala kecil, bulu lembut, serta pegangan yang mudah digenggam.

4. Anak Merasa Takut atau Tidak Nyaman

Anak yang pernah mengalami rasa sakit pada gigi atau gusi mungkin menghubungkan kegiatan menyikat gigi dengan pengalaman yang tidak menyenangkan.

Selain itu, sebagian anak sensitif terhadap sentuhan di dalam mulut sehingga merasa tidak nyaman ketika sikat gigi menyentuh gusi atau bagian tertentu.

Jika anak selalu menangis ketika giginya dibersihkan, orang tua perlu mencari tahu apakah terdapat rasa sakit, luka, gigi berlubang, atau masalah kesehatan mulut lainnya.

5. Anak Ingin Melakukan Semuanya Sendiri

Pada masa perkembangan balita, keinginan untuk melakukan sesuatu secara mandiri semakin terlihat.

Anak mungkin menolak ketika orang tua langsung mengambil alih sikat gigi atau mengatur seluruh proses menyikat gigi.

Orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk memegang sikat sendiri, kemudian membantu membersihkan bagian yang belum dapat dijangkau.

Dengan demikian, anak tetap merasa dilibatkan tanpa mengabaikan kebersihan giginya.

6. Anak Belum Memahami Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi

Anak kecil belum tentu memahami bahwa sisa makanan dan plak dapat menumpuk pada permukaan gigi.

Mereka juga belum mengerti mengapa gigi perlu dibersihkan meskipun tidak terasa sakit.

Karena itu, orang tua perlu memperkenalkan fungsi menyikat gigi menggunakan penjelasan sederhana, gambar, permainan, atau cerita yang sesuai dengan usia anak.

Mengapa Gigi Susu Anak Tetap Harus Dirawat?

Sebagian orang tua mungkin menganggap gigi susu tidak perlu terlalu diperhatikan karena nantinya akan tanggal dan digantikan oleh gigi permanen.

Padahal, gigi susu mempunyai peran penting dalam perkembangan anak.

Berikut beberapa alasan mengapa kesehatan gigi susu perlu dijaga.

1. Membantu Anak Mengunyah Makanan

Gigi susu membantu anak menggigit dan mengunyah makanan dengan baik.

Jika gigi mengalami kerusakan atau rasa sakit, anak dapat kesulitan mengonsumsi makanan tertentu sehingga aktivitas makannya terganggu.

2. Mendukung Perkembangan Bicara

Gigi mempunyai peran dalam pembentukan beberapa bunyi ketika anak berbicara.

Gangguan pada kondisi gigi dan mulut dapat memengaruhi kenyamanan anak dalam menggunakan organ bicara.

3. Menjaga Ruang bagi Gigi Permanen

Gigi susu membantu mempertahankan ruang bagi gigi permanen yang akan tumbuh.

Jika gigi susu tanggal terlalu dini akibat kerusakan atau pencabutan, susunan gigi dapat mengalami perubahan sehingga ruang bagi gigi permanen berpotensi terganggu.

4. Mencegah Rasa Sakit dan Infeksi

Gigi berlubang yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.

Anak dapat mengalami sakit gigi, pembengkakan, kesulitan makan, hingga infeksi.

Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan juga menjelaskan bahwa penumpukan plak dapat menyebabkan gingivitis atau peradangan gusi pada anak.

Karena itu, kebiasaan menjaga kebersihan gigi sebaiknya dibentuk sejak dini.

Kapan Anak Harus Mulai Menyikat Gigi?

Orang tua sebaiknya mulai membersihkan gigi anak sejak gigi pertama tumbuh.

Tidak perlu menunggu sampai seluruh gigi susu muncul atau anak mampu menyikat gigi sendiri.

AAP merekomendasikan penggunaan sikat gigi khusus anak dengan bulu lembut dan pasta gigi yang mengandung fluoride.

Jumlah pasta gigi perlu disesuaikan dengan usia:

Usia AnakJumlah Pasta Gigi Berfluoride
Di bawah 3 tahunSebesar butiran beras atau lapisan tipis
3–6 tahunSebesar kacang polong
Di atas 6 tahunSesuai kebutuhan dan petunjuk produk, dengan pengawasan orang tua

AAP menyarankan agar orang dewasa mengoleskan pasta gigi pada sikat anak dan mengawasi proses menyikat gigi.

Anak juga perlu dibantu sampai memiliki keterampilan motorik yang cukup untuk membersihkan seluruh permukaan gigi dengan benar.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 4
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting anak tidak mau sikat gigi kesehatan gigi anak kebersihan diri anak perawatan gigi susu pola asuh balita

Komentar Pengguna