Parenting
Rahman Abdullah

Anak Usia 2-3 Tahun Sering Meledak dan Ngotot? Ini 7 Cara Orangtua Menghadapinya

Anak Usia 2-3 Tahun Sering Meledak dan Ngotot? Ini 7 Cara Orangtua Menghadapinya

30 Agustus 2026 | 19:10

Keboncinta.com-- Menghadapi anak usia 2-3 tahun tentu memiliki tantangan tersendiri bagi orangtua. Pada usia tersebut, anak kerap menunjukkan perilaku emosional, mudah marah, menolak keinginan orangtua, atau bersikeras dengan kemauannya sendiri.

Fase ini sering disebut sebagai “terrible two” dan “threenager”. Bagi orangtua, menghadapi perilaku anak yang mudah “meledak” dan “ngotot” terkadang dapat terasa melelahkan.

Namun, kondisi tersebut sebenarnya merupakan bagian yang wajar dalam proses tumbuh kembang anak. Pada usia ini, anak sedang belajar mengenali lingkungan, mencoba berbagai hal, sekaligus mulai memahami keinginan dan emosinya sendiri.

Para ahli parenting menjelaskan bahwa perilaku emosional pada anak usia 2-3 tahun dapat menjadi bentuk eksplorasi sekaligus cara anak menyampaikan perasaan. Sayangnya, kemampuan mereka dalam mengendalikan emosi masih belum berkembang sepenuhnya.

Ketika menghadapi emosi yang sangat kuat, anak sering belum mampu mengungkapkannya dengan cara yang tepat. Akibatnya, mereka dapat merespons dengan menangis, berteriak, marah, atau menolak sesuatu secara keras.

Baca Juga: Jangan Sepelekan! 5 Makanan dan Minuman Ini Diam-Diam Bisa Bikin Mood Memburuk

1. Tetap Tenang Saat Anak Mengamuk

Hal pertama yang perlu dilakukan orangtua adalah menjaga ketenangan diri sebelum memberikan respons kepada anak.

Ketika orangtua ikut terbawa emosi, situasi justru dapat menjadi semakin sulit dikendalikan. Sebaliknya, sikap tenang dapat membantu menciptakan suasana yang lebih stabil bagi anak.

Orangtua dapat mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum berbicara atau memberikan arahan kepada anak.

2. Coba Pahami Perasaan Anak

Anak yang sedang marah atau menangis tidak selalu membutuhkan teguran. Terkadang, mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan dan memahami perasaannya.

Orangtua dapat mencoba mengenali penyebab anak merasa kecewa, marah, takut, atau tidak nyaman.

Dengan menunjukkan bahwa perasaan anak dipahami, orangtua dapat membantu mereka secara perlahan belajar mengenali dan mengungkapkan emosi dengan lebih baik.

Baca Juga: Harmonisasi Zakat dan Pajak Dikaji Kemenag, Ada Tax Credit hingga Tax Deduction

3. Tetapkan Batasan yang Jelas

Memahami emosi anak bukan berarti membiarkan semua perilakunya. Orangtua tetap perlu memberikan batasan yang jelas mengenai perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Batasan sebaiknya disampaikan dengan bahasa sederhana dan konsisten agar mudah dipahami sesuai usia anak.

Dengan aturan yang jelas, anak dapat belajar memahami konsekuensi dari perilakunya sekaligus mengetahui batas yang harus dihormati.

4. Berikan Pilihan yang Sesuai Usia

Memberikan pilihan sederhana kepada anak dapat membantu mereka merasa memiliki kendali terhadap situasi.

Misalnya, orangtua dapat memberikan dua pilihan yang sama-sama dapat diterima, sehingga anak tetap memiliki kesempatan menentukan sesuatu tanpa keluar dari batas yang telah ditetapkan.

Cara ini dapat mengurangi potensi konflik karena anak merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

5. Ciptakan Lingkungan yang Aman

Lingkungan sekitar juga memiliki peran dalam membantu anak mengelola emosinya.

Orangtua sebaiknya memastikan anak berada di lingkungan yang aman, nyaman, dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Mainan serta aktivitas yang diberikan juga perlu disesuaikan dengan usia anak.

Selain itu, sebisa mungkin hindari kondisi yang dapat membuat anak terlalu stres, lelah, atau cemas.

Baca Juga: Kemenag Buka Inpassing Pengawas JPH untuk PNS, Pendaftaran Mulai 1 September 2026

6. Berikan Pujian dan Dorongan Positif

Jangan hanya memberikan perhatian ketika anak melakukan kesalahan. Orangtua juga perlu mengapresiasi usaha dan perilaku positif yang ditunjukkan anak.

Pujian yang diberikan secara tulus dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri anak. Bahkan pencapaian kecil sekalipun layak mendapatkan apresiasi ketika anak sudah berusaha melakukan sesuatu dengan baik.

Dorongan positif juga dapat membantu anak memahami perilaku seperti apa yang diharapkan oleh orangtuanya.

7. Jaga Keseimbangan antara Dukungan dan Batasan

Dalam mendampingi anak usia 2-3 tahun, orangtua perlu menemukan keseimbangan antara memberikan dukungan dan menetapkan aturan.

Anak membutuhkan kasih sayang serta rasa aman, tetapi pada saat yang sama mereka juga perlu belajar memahami batasan.

Keseimbangan tersebut dapat membantu anak secara bertahap mengembangkan kemampuan dalam mengelola emosi dan mengendalikan respons terhadap berbagai situasi.

Baca Juga: Kemenag Kaji Skema Zakat dan Pajak, Tax Credit Mulai Dipertimbangkan dalam Revisi UU Zakat

Fase “Terrible Two” dan “Threenager” Merupakan Bagian dari Perkembangan Anak

Menghadapi anak yang sering marah, menangis, atau bersikeras dengan keinginannya memang tidak selalu mudah.

Tags:
Parenting Anak Perkembangan Emosional Tantrum Anak

Komentar Pengguna