Keboncinta.com-- Pernah nggak kita membayangkan orang zaman dulu hidup lebih tenang karena tidak ada media sosial, notifikasi, atau informasi yang datang tanpa henti? Seolah-olah, tanpa semua itu, pikiran manusia otomatis menjadi lebih damai. Tapi kalau dipikir lagi, apakah benar manusia dulu benar-benar bebas dari kebiasaan memikirkan sesuatu berulang-ulang sampai lelah sendiri?
Kalau melihat jejak sejarah dan literatur lama, ternyata “overthinking” bukan hal baru. Manusia sejak dulu sudah punya kecenderungan untuk memikirkan masa depan, menimbang keputusan, bahkan meragukan diri sendiri. Bedanya, mereka tidak menyebutnya dengan istilah modern seperti sekarang. Dalam catatan filsafat Yunani kuno, misalnya, banyak pemikir seperti Socrates yang justru mendorong manusia untuk terus bertanya dan meragukan jawaban yang sudah ada. Dari sana saja kita bisa melihat bahwa proses berpikir berulang sebenarnya sudah menjadi bagian dari cara manusia memahami hidup sejak lama.
Di banyak budaya tradisional, kekhawatiran tentang panen, cuaca, perang, atau masa depan keluarga juga menjadi sumber kecemasan tersendiri. Seorang petani zaman dulu mungkin tidak memikirkan notifikasi atau email, tapi ia bisa berhari-hari gelisah memikirkan apakah musim hujan akan datang tepat waktu. Artinya, isi kekhawatiran berubah, tetapi pola pikirnya tetap mirip: manusia selalu mencoba mengendalikan sesuatu yang belum pasti
Dulu, overthinking terjadi di dalam kepala dan percakapan kecil di lingkungan terbatas. Sekarang, ia punya panggung lebih besar: layar ponsel, informasi tanpa batas, dan perbandingan sosial yang tak berhenti. Hal ini membuat pikiran terasa seperti tidak pernah benar-benar selesai bekerja, bahkan ketika tubuh sudah berhenti beraktivitas.