Bahasa Indonesia yang Terpinggirkan: Tantangan Mengajar Tata Bahasa yang Baik di Tengah Gempuran Slang TikTok

Bahasa Indonesia yang Terpinggirkan: Tantangan Mengajar Tata Bahasa yang Baik di Tengah Gempuran Slang TikTok

07 Maret 2026 | 20:59

keboncinta.com--  Dinamika berbahasa di era digital telah membawa pergeseran besar yang menantang eksistensi bahasa Indonesia formal di ruang-ruang kelas, di mana para pendidik kini harus berhadapan dengan tembok tebal berupa kosakata slang yang lahir dari algoritma media sosial seperti TikTok. Fenomena ini menciptakan paradoks di mana siswa mungkin sangat fasih berkomunikasi secara daring dengan istilah-istilah baru yang terus berganti setiap minggunya, namun mereka justru merasa asing dan kaku saat harus menyusun kalimat sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Tantangan bagi guru bahasa bukan lagi sekadar mengajarkan subjek, predikat, dan objek, melainkan bagaimana merebut kembali minat generasi muda agar tidak menganggap bahasa baku sebagai sesuatu yang kuno, membosankan, atau hanya berlaku di dalam buku teks yang berdebu. Gempuran bahasa prokem yang serba ringkas dan penuh singkatan telah mengikis kemampuan siswa dalam memahami struktur logika berpikir yang tertuang dalam tata bahasa yang rapi, sehingga sering kali terjadi kegagalan dalam menyampaikan gagasan yang kompleks secara tertulis maupun lisan di forum resmi.

Guru bahasa Indonesia saat ini memikul beban ganda untuk menjadi penjaga gawang literasi sekaligus menjadi kurator yang adaptif terhadap perubahan zaman agar tidak kehilangan relevansi di mata murid-muridnya. Strategi pengajaran tidak boleh lagi bersifat searah atau hanya menghakimi penggunaan bahasa gaul sebagai kesalahan fatal, karena hal itu justru akan membuat siswa semakin menjauh dan menganggap bahasa Indonesia formal sebagai beban akademis belaka. Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan membawa fenomena slang tersebut ke meja diskusi kelas untuk dibedah secara linguistik, sehingga siswa memahami perbedaan konteks antara bahasa pergaulan yang bersifat santai dengan bahasa persatuan yang berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa dan pengantar ilmu pengetahuan. Dengan memposisikan bahasa Indonesia yang baik sebagai sebuah keterampilan profesional dan identitas intelektual, pendidik dapat menumbuhkan kesadaran bahwa penguasaan tata bahasa yang benar adalah bentuk kecerdasan dalam berkomunikasi yang tidak bisa digantikan oleh tren video singkat manapun.

Keberhasilan dalam menghidupkan kembali marwah bahasa Indonesia di tengah gempuran budaya pop sangat bergantung pada kreativitas guru dalam menciptakan suasana belajar yang inklusif namun tetap disiplin pada kaidah. Menggunakan platform digital yang disukai siswa sebagai media praktik menulis esai puitis atau laporan observasi yang santun namun tetap mengikuti tata bahasa dapat menjadi jembatan yang menarik. Kita harus menyadari bahwa bahasa adalah organisme hidup yang terus berkembang, namun tanpa fondasi tata bahasa yang kuat, bahasa tersebut akan kehilangan daya ikat dan kedalaman maknanya. Masa depan bahasa Indonesia berada di tangan para pengajar yang mampu meyakinkan Gen Z bahwa kemahiran berbahasa baku adalah sebuah kekuatan untuk menembus batas-batas profesionalisme tanpa harus kehilangan kreativitas dalam berekspresi. Jika kita gagal menanamkan rasa bangga terhadap bahasa ibu di bangku sekolah, kita berisiko melahirkan generasi yang kehilangan jati diri dalam belantara istilah asing dan slang yang bersifat sementara.

Tags:
Literasi Pendidikan Karakter Bahasa Indonesia Tata Bahasa

Komentar Pengguna