keboncinta.com-- Fenomena kehidupan di abad ke-21 menawarkan kemudahan yang belum pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya melalui integrasi teknologi dan fasilitas duniawi yang serba instan. Namun, di balik segala kenyamanan ini, tersembunyi sebuah ancaman spiritual yang telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu, yaitu penyakit "wahn". Secara terminologi nabawi, wahn didefinisikan sebagai kombinasi antara cinta dunia yang berlebihan dan ketakutan yang mendalam terhadap kematian. Di era modern, penyakit ini bermanifestasi dalam bentuk keterikatan emosional yang sangat kuat terhadap gaya hidup mapan, status sosial di media sosial, dan kenyamanan ekonomi, sehingga seorang Muslim cenderung menjadi apatis terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya. Fasilitas dunia yang seharusnya menjadi sarana penunjang ibadah justru berubah menjadi belenggu yang membuat kaki terasa berat untuk melangkah membela kebenaran yang membawa risiko terhadap zona nyaman kita.
Bahaya utama dari penyakit wahn di masa kini adalah pengikisan keberanian moral atau izzah dalam diri umat. Ketika seseorang sudah terlalu menikmati kemewahan dan kestabilan hidup, ia akan cenderung memilih jalan aman dan berkompromi dengan kebatilan demi menjaga aset duniawinya. Ketakutan akan kehilangan pengikut, penurunan jabatan, atau pengucilan sosial menjadi lebih besar daripada ketakutan kepada Allah SWT. Kondisi ini membuat kebenaran sering kali disembunyikan di bawah karpet retorika yang diplomatis, sementara kemungkaran dibiarkan merajalela tanpa teguran yang berarti. Akibatnya, umat Islam kehilangan wibawa di mata bangsa-bangsa lain, bukan karena jumlahnya yang sedikit, melainkan karena kualitas jiwanya yang rapuh seperti buih di lautan yang mudah terombang-ambing oleh arus tren dan kepentingan materialistik sesaat.
Dunia digital abad 21 semakin memperparah kondisi ini dengan menciptakan ilusi bahwa perjuangan cukup dilakukan melalui layar ponsel tanpa pengorbanan nyata. Penyakit wahn membuat seseorang merasa sudah cukup berjasa hanya dengan membagikan tagar atau menyukai sebuah unggahan, padahal di saat yang sama ia menolak untuk memberikan bantuan materi atau tenaga yang nyata jika hal itu berpotensi mengganggu kenyamanan finansialnya. Cinta dunia yang berlebihan ini menutup mata hati dari penderitaan sesama dan membuat telinga menjadi tuli terhadap panggilan keadilan. Kehidupan yang terlalu difokuskan pada pemuasan nafsu konsumtif dan pengejaran prestise duniawi secara perlahan akan mematikan sensitivitas nurani, sehingga membela agama dan nilai-nilai kebenaran dianggap sebagai beban yang merepotkan dan tidak menguntungkan secara pragmatis.
Untuk menyembuhkan penyakit wahn ini, seorang Muslim harus melakukan rekalibrasi orientasi hidup dengan menanamkan kembali prinsip bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara atau mazra'atul akhirah. Fasilitas duniawi yang kita miliki saat ini harus dipandang sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya, bukan tujuan akhir yang harus dipertahankan mati-matian. Keberanian membela kebenaran di era yang penuh fitnah ini memerlukan latihan pelepasan keterikatan hati terhadap materi dan penguatan tawakal kepada Sang Pemberi Rezeki. Hanya dengan menyadari bahwa kemuliaan sejati terletak pada keridaan Allah, kita dapat memutus rantai ketakutan akan risiko duniawi dan berdiri tegak sebagai pembela keadilan. Penyakit wahn mungkin merupakan virus spiritual abad ini, namun penawarnya tetaplah sama, yaitu iman yang menghujam kuat dan kerinduan yang mendalam akan perjumpaan dengan Sang Pencipta di hari akhir nanti.