Keboncinta.com- Nisfu Sya’ban bagi masyarakat pesantren dan kampung-kampung di daerah Jawa bukan hanya sebagai penanda pertengahan bulan Sya'ban.
Ia hidup dalam tradisi rowah atau berdoa bersama untuk kerabat yang sudah meninggal, dan sebagai pengingat lahir dan batinnya kehidupan. Di balik tradisi itu, para kiai sebenarnya sedang mengajarkan satu pelajaran besar yaitu cara mengelola hati.
Dalam cerita para kiai sepuh, rowah sering kali menjadi musim paling padat. Undangan datang bertubi-tubi, sehari bisa dua sampai tiga tempat. Ada yang memberi sekadarnya, ada pula yang berlebih.
Namun di situlah seni menjadi kiai diuji. Bukan soal nominal, tapi soal niat dan keikhlasannya. Kiai yang matang batinnya tidak sibuk menghitung pemberian, apalagi menghakimi siapa yang sedikit atau banyak.
Semua diterima dengan senyum dan doa, karena mereka paham yang dinilai Allah bukan angka, melainkan hati. Bahkan ada kiai yang justru bersyukur jika diberi sedikit, karena merasa hisabnya kelak akan lebih ringan.
Salah satu kitab yang kerap menjadi pegangan para kiai adalah Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari. Kitab ini tidak mengajari manusia menjadi keras dalam beragama, tetapi mengajak melihat hidup dengan kacamata hikmah.
Dalam Al-Hikam dijelaskan bahwa ketika Allah memberi apa yang kita minta, itu adalah tanda kasih sayang-Nya. Namun ketika doa tidak dikabulkan, itu bukan berarti Allah pelit.
Bisa jadi Allah sedang memperkenalkan diri-Nya sebagai Dzat Yang Maha Perkasa, yang tidak bisa diatur-atur oleh makhluk. Logikanya sederhana, jika kita memiliki raja yang setiap permintaan langsung dikabulkan tanpa pertimbangan, justru itu memalukan.
Maka ketika doa ditunda atau tidak dikabulkan, seorang hamba seharusnya tetap bangga kepada Tuhannya.
Para nabi pun tidak selalu langsung dikabulkan doanya. Nabi Musa, misalnya, menunggu puluhan tahun hingga doanya benar-benar dijawab. Bahkan untuk mengalahkan Fir’aun pun membutuhkan proses panjang.
Dari sini para kiai mengingatkan kegagalan bukan selalu masalah, sering kali ia adalah hikmah. Musibah bagi seseorang bisa menjadi keselamatan bagi yang lain.
Apa yang tampak buruk di mata manusia, belum tentu buruk di sisi Allah. Dalam konteks ibadah, para kiai Jawa cenderung mengambil jalan yang menenangkan.
Perdebatan tentang witir, tahajud, jumlah rakaat, dan istilah fikih sering kali dianggap tidak perlu dipertajam. Selama ibadah itu baik dan dilakukan dengan niat yang lurus, Allah Maha Tahu maksud hamba-Nya. Prinsip yang sering dipakai adalah kaidah sederhana "asal khairun, selama itu kebaikan".
Terlalu sibuk mencari dalil untuk membatalkan amal orang lain justru sering membuat hati kering. Nisfu Sya’ban Tak Melulu Tentang Dalil Perdebatan apakah amalan Nisfu Sya’ban memiliki dalil sahih atau tidak seakan tak pernah selesai.
Namun para kiai lebih memilih pendekatan batin. Mereka tidak sibuk menghakimi, tetapi mengajak umat memperbanyak doa, introspeksi, dan memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama.
Lebih baik, kata mereka, “goblok ibadah tapi niatnya baik” daripada pintar dalil tapi gemar merendahkan orang lain. Ibadah yang dilakukan dengan ketulusan masih lebih mulia daripada keilmuan yang melahirkan kesombongan.
Nisfu Sya’ban pada akhirnya adalah momentum untuk menata hati. Tradisi rowah, mendoakan arwah, dan berkumpulnya warga bukan semata ritual, melainkan latihan keikhlasan, syukur, dan husnuzan kepada Allah.