Pendidikan
Hilmi An Naufal

Belum Lulus tapi Ingin Punya Penghasilan? Ini 5 Bisnis yang Bisa Dicoba Mahasiswa Saat Libur Semester

Belum Lulus tapi Ingin Punya Penghasilan? Ini 5 Bisnis yang Bisa Dicoba Mahasiswa Saat Libur Semester

10 Agustus 2026 | 06:22

ZONA KAMPUS – Menunggu mendapatkan pekerjaan setelah wisuda bukan satu-satunya cara bagi mahasiswa untuk mulai mempunyai penghasilan.

Kemampuan yang diperoleh selama kuliah ternyata dapat dikembangkan menjadi jasa atau bisnis kecil yang sudah bisa dijalankan sebelum lulus.

Libur semester menjadi salah satu waktu yang cukup ideal untuk mencobanya. Jadwal kuliah yang sedang longgar dapat dimanfaatkan untuk membuat portofolio, mencari pelanggan pertama, menguji produk hingga belajar mengelola keuangan.

Tidak harus langsung membangun perusahaan besar.

Bisnis mahasiswa bahkan bisa dimulai menggunakan laptop, smartphone, internet dan keterampilan yang sudah dimiliki.

Semangat kewirausahaan mahasiswa juga terus didorong pemerintah. Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha atau P2MW 2026 memberikan pendampingan serta dana pengembangan bagi usaha mahasiswa yang memenuhi persyaratan.

Berikut lima bisnis yang bisa dicoba mahasiswa.

1. Jasa Pembuatan Website untuk UMKM

Bagi mahasiswa Informatika, Sistem Informasi atau siapa pun yang mempunyai kemampuan membuat website, libur semester dapat digunakan untuk mulai mencari proyek.

Target pelanggan tidak harus perusahaan besar.

Mulailah dari UMKM di sekitar tempat tinggal seperti:

  • Toko
  • Warung
  • Sekolah
  • Organisasi
  • Pondok pesantren
  • Rental kendaraan
  • Tempat wisata
  • Jasa fotografi
  • Usaha makanan

Produk yang ditawarkan juga tidak perlu langsung berupa aplikasi kompleks.

Mahasiswa dapat menawarkan landing page, website company profile, katalog produk, website sekolah atau toko online sederhana.

Misalnya satu usaha makanan belum mempunyai website. Buat contoh desain halaman depan sebagai demo kemudian tawarkan kepada pemiliknya.

Setelah memperoleh pelanggan pertama, hasil pekerjaan tersebut dapat dimasukkan ke portofolio untuk mencari proyek berikutnya.

Model usaha berbasis layanan seperti ini sejalan dengan kategori Jasa, Pariwisata dan Perdagangan maupun Bisnis Digital yang terdapat dalam P2MW 2026.

2. Buka Les Privat atau Kelas Online

Mahasiswa juga bisa menjual pengetahuan yang sudah dimiliki.

Tidak harus menjadi mahasiswa pendidikan untuk membuka les.

Mahasiswa Informatika misalnya dapat mengajarkan:

HTML, Microsoft Office, desain Canva atau coding dasar.

Mahasiswa Bahasa Inggris dapat membuka kelas conversation.

Mahasiswa Matematika bisa membantu siswa SD hingga SMA memahami pelajaran.

Sedangkan mahasiswa yang memiliki kemampuan desain dapat membuka kelas Canva atau editing video untuk pemula.

Kelas dapat dilakukan secara:

Tatap muka → Zoom/Google Meet → kelas kelompok kecil.

Jika ingin memulai dengan sederhana, tawarkan terlebih dahulu kepada siswa di lingkungan rumah.

Misalnya membuat kelas komputer selama liburan untuk 5–10 siswa.

Bisnis seperti ini menarik karena modalnya kecil dan keterampilan yang diajarkan sebenarnya sudah dimiliki mahasiswa.

3. Jasa Foto dan Video untuk Acara

Kalau mempunyai kamera atau smartphone dengan kamera yang cukup baik, keterampilan fotografi dan editing juga dapat menghasilkan uang.

Targetnya cukup luas.

Contohnya:

  • Acara wisuda
  • Pernikahan
  • Ulang tahun
  • Kegiatan sekolah
  • Organisasi kampus
  • Produk UMKM
  • Konten media sosial
  • Acara desa
  • Seminar

Tidak harus langsung membeli kamera puluhan juta rupiah.

Untuk memulai, pelajari terlebih dahulu komposisi foto, pencahayaan dan editing.

Kemudian buat portofolio menggunakan kegiatan teman atau organisasi.

Setelah hasilnya cukup bagus, mahasiswa dapat membuat paket sederhana.

Misalnya:

Foto acara + 30 foto edit + dokumentasi video pendek.

Ketika pelanggan mulai bertambah, barulah keuntungan digunakan untuk membeli peralatan tambahan.

Usaha semacam fotografi, video dan produksi konten termasuk bidang yang dekat dengan kategori Industri Kreatif, Seni dan Budaya dalam ekosistem P2MW.

4. Buat Produk Custom Sistem Pre-Order

Bisnis lain yang cukup menarik adalah produk custom.

Contohnya:

Kaos angkatan, tote bag, mug, pin, gantungan kunci, stiker, jersey, notebook hingga merchandise organisasi.

Mahasiswa tidak harus mempunyai mesin produksi sendiri.

Carilah vendor yang dapat memproduksi barang, kemudian mahasiswa menangani desain, pemasaran dan pemesanan.

Gunakan sistem pre-order.

Misalnya terdapat 30 mahasiswa yang memesan kaos angkatan.

Pesanan dikumpulkan terlebih dahulu → pembayaran diterima → produksi dilakukan → barang dibagikan.

Cara seperti ini dapat mengurangi kebutuhan modal karena barang tidak perlu diproduksi sebelum ada pembeli.

Pasar pertama juga sebenarnya sudah berada di sekitar mahasiswa sendiri.

Ada teman sekelas, organisasi, UKM, komunitas hingga kegiatan kampus yang secara rutin membutuhkan merchandise.

5. Jadi Content Creator atau UGC Creator

Punya smartphone dan suka membuat video?

Coba kembangkan menjadi bisnis.

Mahasiswa bisa menawarkan jasa membuat User Generated Content atau UGC kepada UMKM dan brand kecil.

Berbeda dengan influencer, menjadi UGC creator tidak selalu membutuhkan ratusan ribu followers.

Yang dijual adalah kemampuan membuat konten.

Contohnya sebuah kedai kopi membutuhkan video 30 detik untuk TikTok.

Mahasiswa dapat membuat:

Opening menarik → tampilan produk → proses pembuatan → suasana tempat → ajakan berkunjung.

Video kemudian diserahkan kepada pemilik bisnis untuk digunakan di akun mereka.

Jenis kontennya dapat berupa:

  • Review produk
  • Tutorial
  • Unboxing
  • Video makanan
  • Konten tempat wisata
  • Video produk fashion
  • Konten skincare
  • Video promosi UMKM

Semakin banyak proyek yang dibuat, semakin banyak pula portofolio yang dapat ditunjukkan kepada calon klien berikutnya.

Jangan Tunggu Skill Sempurna

Salah satu alasan mahasiswa tidak kunjung memulai bisnis adalah merasa kemampuannya belum cukup bagus.

Padahal kemampuan dapat berkembang ketika mulai mengerjakan proyek sungguhan.

Mahasiswa yang baru belajar desain tidak harus langsung bersaing dengan desainer profesional.

Mulailah dari proyek kecil.

Begitu juga mahasiswa yang baru belajar coding.

Tidak harus langsung membuat marketplace seperti perusahaan teknologi besar.

Website company profile sederhana untuk UMKM sudah dapat menjadi proyek pertama.

Pengalaman menangani pelanggan sebenarnya juga memberikan pembelajaran yang tidak selalu diperoleh di ruang kuliah.

Mahasiswa akan belajar mengenai komunikasi, negosiasi harga, deadline, revisi, pemasaran hingga pengelolaan keuangan.

Tentukan Harga, Jangan Terus-terusan Gratis

Memberikan jasa gratis kepada satu atau dua orang untuk membuat portofolio masih masuk akal.

Namun jangan menjadikan semuanya gratis.

Mulailah menentukan harga berdasarkan tingkat kesulitan pekerjaan.

Misalnya:

Biaya produksi + waktu pengerjaan + revisi + keuntungan = harga jasa.

Harga untuk mahasiswa pemula memang dapat lebih rendah dibanding profesional yang sudah berpengalaman bertahun-tahun.

Tetapi pekerjaan tetap mempunyai nilai.

Semakin baik kualitas dan portofolio, tarif dapat dinaikkan secara bertahap.

Pisahkan Uang Bisnis

Walaupun penghasilannya baru Rp100 ribu atau Rp500 ribu, biasakan mencatat keuangan.

Paling tidak catat:

Pendapatan – Modal – Pengeluaran – Laba.

Kalau memungkinkan, gunakan rekening atau dompet digital berbeda untuk kebutuhan bisnis.

Cara tersebut akan membuat mahasiswa mengetahui apakah bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan atau uangnya hanya berputar.

Manfaatkan Program Kewirausahaan Kampus

Mahasiswa yang sudah mempunyai usaha juga sebaiknya mencari informasi program kewirausahaan di kampus.

Pada 2026, pemerintah masih menjalankan P2MW sebagai program pengembangan usaha mahasiswa. Program ini ditujukan bagi mahasiswa aktif dan memberikan dukungan pengembangan serta pembinaan usaha.

P2MW 2026 bahkan mencakup enam kategori usaha, yaitu Makanan dan Minuman, Budidaya, Industri Kreatif Seni dan Budaya, Jasa Pariwisata dan Perdagangan, Manufaktur dan Teknologi Terapan, serta Bisnis Digital.

Antusiasme terhadap program kewirausahaan mahasiswa juga cukup besar. Dalam seleksi P2MW 2026, salah satu laporan resmi Kemdiktisaintek menyebut proposal yang bersaing mencapai 3.005 proposal dari 570 perguruan tinggi.

Artinya, membangun bisnis ketika masih berstatus mahasiswa bukan sesuatu yang asing.

Mulai Saat Libur, Lanjutkan Setelah Kuliah Aktif

Libur semester dapat digunakan sebagai masa percobaan.

Misalnya selama satu bulan mahasiswa mencoba mendapatkan:

1 klien website → 2 murid les → 1 pekerjaan fotografi → 10 pesanan merchandise → atau 1 klien konten.

Dari situ dapat diketahui bisnis mana yang paling cocok.

Setelah semester dimulai kembali, jumlah pekerjaan tinggal disesuaikan dengan jadwal kuliah.

Tujuannya bukan membuat mahasiswa mengabaikan pendidikan.

Justru bisnis yang dibangun sejak kuliah dapat menjadi tempat untuk menerapkan keterampilan sekaligus membangun portofolio.

Jika berjalan konsisten, mahasiswa bisa saja lulus bukan hanya membawa ijazah, tetapi juga mempunyai pengalaman, pelanggan, portofolio dan sumber penghasilan sendiri.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna