KebonCinta.com – Orang ternyata sudah suka meninggalkan tulisan “pernah di sini” sejak lebih dari dua ribu tahun lalu.
Buktinya dapat ditemukan di Pompeii, kota Romawi kuno di Italia. Pada salah satu dinding Basilica Pompeii, seseorang bernama Gaius Pumidius Diphilus meninggalkan tulisan sederhana tentang keberadaannya. Yang membuat coretan itu istimewa, Gaius tidak hanya mencantumkan nama. Ia juga meninggalkan petunjuk waktu yang memungkinkan sejarawan mengetahui kapan tulisan tersebut dibuat.
Jika dikonversikan ke penanggalan modern, waktunya mengarah pada 3 Oktober 78 sebelum Masehi.
Lebih dari dua milenium kemudian, kalimat sederhana yang mungkin dibuat tanpa niat menjadi peninggalan sejarah itu masih dibicarakan.
Ancient Graffiti Project mendokumentasikan grafiti tersebut dengan kode AGP-EDR185748 dan merujuknya pada Corpus Inscriptionum Latinarum sebagai CIL IV 1842.
Tulisan Latin yang tercatat pada dinding itu dimulai dengan nama Gaius Pumidius Diphilus dan kata hic fuit, yang pada dasarnya berarti bahwa ia “pernah berada di sini”.
Kalimat seperti itu terdengar sangat akrab bagi manusia modern.
Hari ini seseorang mungkin menulis nama di meja sekolah, mengunggah lokasi melalui media sosial, atau meninggalkan tanda tangan di sebuah tempat. Lebih dari 2.000 tahun lalu, dorongan serupa ternyata sudah muncul di dinding kota Romawi.
The Atlantic bahkan menyebut grafiti tersebut sebagai grafiti tertua yang diketahui di Pompeii dan mencatat tanggalnya sebagai 3 Oktober 78 SM.
Ada satu hal yang membuat tulisan tersebut jauh lebih menarik.
Gaius tentu tidak menulis, “3 Oktober 78 SM”.
Istilah sebelum Masehi atau BC/BCE merupakan sistem penanggalan yang digunakan jauh setelah masa hidupnya.
Pada masa Republik Romawi, tahun lazim dikenali berdasarkan nama dua konsul yang menjabat pada tahun tersebut. Karena masa jabatan konsul berlangsung selama setahun, pasangan nama mereka dapat digunakan sebagai penanda tahun.
Pada grafiti Gaius tercantum nama Marcus Lepidus dan Quintus Catulus sebagai konsul. Kedua tokoh tersebut memang menjabat sebagai konsul Republik Romawi pada 78 SM.
Dengan kata lain, bagi orang Romawi ketika itu, menyebut dua konsul tersebut kurang lebih berfungsi seperti kita menuliskan angka tahun sekarang.
Cara menghitung hari dalam kalender Romawi juga berbeda dengan kebiasaan sekarang.
Orang Romawi tidak selalu menyebut tanggal secara berurutan seperti “1 Oktober, 2 Oktober, 3 Oktober”. Mereka menghitung hari berdasarkan titik-titik tertentu dalam bulan, terutama Kalends, Nones, dan Ides.
Grafiti Gaius menggunakan bentuk ante diem V Nonas Octobreis.
Pada Oktober, Nones jatuh pada tanggal 7. Karena sistem Romawi menghitung secara inklusif, hari kelima sebelum Nones Oktober mengarah pada 3 Oktober.
Ketika petunjuk hari tersebut digabungkan dengan nama konsul Marcus Aemilius Lepidus dan Quintus Lutatius Catulus, para ahli dapat menghubungkannya dengan tanggal yang dalam sistem modern disebut 3 Oktober 78 SM.
Kita sering membayangkan sejarah Romawi dari istana, peperangan, kaisar, patung marmer dan bangunan megah.
Grafiti menawarkan sisi yang berbeda.
Tulisan di dinding dapat membawa kita lebih dekat kepada orang-orang yang benar-benar berjalan di jalanan kota. Ancient Graffiti Project memang dibuat untuk mendokumentasikan tulisan tangan yang ditemukan pada bangunan-bangunan Pompeii dan Herculaneum, termasuk nama, pesan pribadi, gambar serta berbagai tulisan informal.
Di Pompeii ditemukan ribuan grafiti dengan isi yang sangat beragam. Ada nama seseorang, ungkapan cinta, hinaan, pesan sehari-hari hingga gambar. Penelitian terhadap grafiti semacam ini membantu sejarawan melihat kehidupan masyarakat biasa yang jarang masuk ke dalam catatan politik resmi.
Dengan begitu, tulisan Gaius bernilai bukan karena kalimatnya panjang atau puitis.
Justru kesederhanaannya yang membuatnya terasa dekat.
Banyak tulisan informal dari dunia kuno tentu sudah hilang karena permukaan tempatnya ditulis rusak atau bangunannya dihancurkan.
Pompeii mengalami nasib berbeda.
Kota tersebut terkubur akibat letusan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi. Lapisan material vulkanik kemudian membantu mempertahankan banyak bangunan, benda dan tulisan dinding yang ditinggalkan penduduk kota.
Itulah sebabnya Pompeii menjadi tempat luar biasa bagi penelitian mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat Romawi.
Bahkan hingga 2026, teknologi pencitraan baru masih menemukan tulisan yang sebelumnya tidak terlihat pada dinding yang sudah dieksplorasi selama lebih dari dua abad. Sebuah proyek menggunakan Reflectance Transformation Imaging mengungkap 79 tulisan yang sebelumnya tidak teridentifikasi di salah satu koridor Pompeii.
Artinya, dinding kota itu masih menyimpan informasi baru setelah hampir dua ribu tahun.
Di sinilah judul-judul viral perlu dibaca dengan hati-hati.
Grafiti Gaius memang luar biasa karena kita bisa menghubungkan sebuah coretan informal dengan tanggal yang sangat spesifik.
Namun menyebut 3 Oktober 78 SM sebagai tanggal lengkap pertama dalam seluruh sejarah manusia terlalu luas.
Peradaban jauh sebelum Republik Romawi telah memiliki sistem penanggalan dan kronologi sendiri. Bahkan sumber-sumber sejarah mengenai Babilonia dan China mencatat tanggal-tanggal yang dapat ditempatkan jauh sebelum 78 SM.
Klaim yang jauh lebih aman adalah bahwa tulisan Gaius dikenal sebagai salah satu grafiti tertua Pompeii yang memiliki penanda waktu cukup lengkap untuk dikonversikan ke sebuah tanggal modern.
Dan itu sendiri sudah cukup mengagumkan.
Gaius kemungkinan tidak pernah membayangkan namanya akan dibaca orang pada abad ke-21.
Ia hanya menorehkan sebuah pesan yang sangat pendek di dinding.
Tidak ada penjelasan mengenai pekerjaan yang sedang dilakukannya. Tidak ada cerita panjang mengenai keluarganya. Tidak ada pidato politik.
Hanya nama, keterangan bahwa ia berada di sana, dan penanda waktu.
Namun dari beberapa kata itu, kita mendapat sesuatu yang sangat manusiawi.
Lebih dari 2.100 tahun lalu, seseorang berdiri di sebuah bangunan di Pompeii dan merasa perlu meninggalkan jejak bahwa ia pernah berada di tempat tersebut.
Kerajaan berubah, kalender berganti, Pompeii terkubur, lalu ditemukan kembali.
Tetapi pesannya tetap bisa dipahami sampai sekarang:
Gaius pernah berada di sana.