Keboncinta.com – Pendidikan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab guru selama berada di sekolah. Orang tua juga memiliki peran penting dalam mendampingi perkembangan akademik, sosial, dan emosional anak.
Salah satu bentuk keterlibatan tersebut adalah membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan sekolah.
Kehadiran orang tua dalam kegiatan sekolah, pertemuan dengan wali kelas, konsultasi perkembangan belajar hingga komunikasi ketika muncul persoalan dapat membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih terhubung antara rumah dan sekolah.
Keterlibatan tersebut bukan berarti orang tua harus selalu berada di lingkungan sekolah. Hal yang lebih penting adalah adanya komunikasi dan kerja sama yang konsisten untuk mendukung kebutuhan anak.
Anak dapat menunjukkan perilaku yang berbeda ketika berada di rumah dan sekolah.
Seorang anak yang terlihat aktif dan banyak berbicara di rumah, misalnya, belum tentu menunjukkan perilaku yang sama ketika berada di kelas.
Sebaliknya, orang tua mungkin tidak mengetahui apabila anak mengalami kesulitan mengikuti pelajaran, beradaptasi dengan teman atau menghadapi persoalan tertentu di lingkungan sekolah.
Komunikasi dengan guru dapat membantu orang tua memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai perkembangan anak.
Guru dapat menyampaikan kondisi yang terlihat selama pembelajaran, sedangkan orang tua dapat memberikan informasi mengenai kebiasaan dan kondisi anak di rumah.
Dari pertukaran informasi tersebut, keduanya dapat mencari pendekatan yang lebih sesuai apabila anak membutuhkan bantuan.
Keterlibatan keluarga dalam pendidikan telah menjadi perhatian dalam berbagai penelitian.
Sebuah meta-analisis mengenai keterlibatan keluarga dan sekolah menemukan adanya dampak positif terhadap beberapa aspek perkembangan anak, termasuk kompetensi sosial-perilaku dan pencapaian akademik.
Departemen Pendidikan Amerika Serikat juga menyebut penelitian menunjukkan dampak positif keterlibatan keluarga bagi siswa, pendidik, sekolah, dan komunitas.
Namun, keterlibatan tersebut sebaiknya tidak dipahami hanya sebagai mengejar nilai tinggi.
Tujuan yang lebih luas adalah memastikan anak memperoleh dukungan yang konsisten dari lingkungan tempat ia tumbuh dan belajar.
Ada orang tua yang baru berkomunikasi dengan sekolah ketika anak memperoleh nilai buruk, terlibat masalah atau mendapat panggilan dari guru.
Padahal, komunikasi dapat dilakukan sebelum persoalan muncul.
Pertemuan orang tua dan guru dapat dimanfaatkan untuk mengetahui perkembangan belajar, kebiasaan anak, kelebihan yang mulai terlihat hingga bagian yang masih membutuhkan pendampingan.
Dengan komunikasi yang berjalan secara berkala, perubahan pada anak juga berpeluang diketahui lebih awal.
Ketika guru melihat perubahan perilaku atau prestasi, orang tua dapat memperoleh informasi. Begitu pula ketika terjadi perubahan kondisi di rumah yang mungkin memengaruhi anak di sekolah, orang tua dapat berkomunikasi dengan guru sesuai kebutuhan.
Kerja sama yang baik antara orang tua dan guru juga dapat memberikan pesan penting kepada anak bahwa pendidikan mereka diperhatikan.
Anak melihat bahwa apa yang dilakukan di sekolah bukan sesuatu yang terpisah sepenuhnya dari kehidupan di rumah.
Ketika sekolah dan keluarga memiliki komunikasi yang baik, aturan dan dukungan yang diberikan kepada anak juga dapat menjadi lebih selaras.
Misalnya, jika guru menemukan anak kesulitan membaca, orang tua dapat membantu memberikan latihan yang sesuai di rumah.
Sebaliknya, jika anak memiliki minat atau kemampuan tertentu yang terlihat di rumah, informasi tersebut dapat disampaikan kepada guru agar potensinya dapat ikut dikembangkan.
Kesibukan pekerjaan terkadang membuat sebagian orang tua merasa bersalah karena tidak dapat menghadiri setiap kegiatan sekolah.
Padahal, keterlibatan tidak hanya diukur berdasarkan seberapa sering seseorang datang langsung ke sekolah.
Orang tua dapat menjaga komunikasi melalui wali kelas, membaca informasi dari sekolah, memeriksa perkembangan belajar dan menyediakan waktu untuk berbicara dengan anak mengenai kegiatan sekolahnya.
Hal sederhana seperti bertanya tentang apa yang dipelajari hari itu juga dapat membuka komunikasi.
Orang tua kemudian dapat mendengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi ketika ia menceritakan kesulitan yang sedang dialami.
Keterlibatan orang tua juga perlu dilakukan secara proporsional.
Mendampingi bukan berarti mengambil alih seluruh tanggung jawab anak.
Ketika anak mendapat tugas, misalnya, orang tua dapat membantu memberikan arahan atau menyediakan lingkungan belajar yang nyaman. Namun, tugas tersebut tetap perlu dikerjakan anak sesuai kemampuannya.
Begitu pula ketika terjadi masalah dengan teman atau guru.
Orang tua sebaiknya mendengarkan informasi dari berbagai pihak terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan.
Dengan demikian, keterlibatan orang tua menjadi bentuk dukungan, bukan kontrol berlebihan yang justru menghambat anak belajar mandiri.
Guru memiliki kesempatan melihat bagaimana anak belajar dan berinteraksi dalam lingkungan sekolah.
Sementara orang tua mengenal kebiasaan, karakter dan kehidupan anak di rumah.
Keduanya memiliki informasi yang berbeda tetapi dapat saling melengkapi.
Karena itu, hubungan orang tua dan guru sebaiknya dibangun sebagai kemitraan.
Jika terdapat persoalan, fokus utama bukan mencari siapa yang salah, melainkan mencari langkah yang dapat membantu anak.
Kolaborasi antara sekolah dan orang tua juga menjadi bagian penting dalam peningkatan mutu pendidikan karena keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan bagian dari ekosistem pendidikan.
Pada akhirnya, kehadiran orang tua dalam pendidikan anak tidak hanya berarti duduk dalam rapat wali murid atau datang saat pembagian rapor.
Kehadiran dapat diwujudkan dengan mendengarkan cerita anak, mengenal gurunya, memahami perkembangan belajar, menghadiri kegiatan penting ketika memungkinkan dan menjaga komunikasi dengan sekolah.
Anak menghabiskan banyak waktunya di dua lingkungan utama, yakni rumah dan sekolah.
Ketika kedua lingkungan tersebut mampu bekerja sama, anak mendapatkan sistem pendukung yang lebih kuat untuk berkembang.
Karena itu, pendidikan yang baik tidak hanya membutuhkan guru yang aktif di sekolah. Dibutuhkan pula orang tua yang mau terlibat, mendengarkan dan bekerja sama dalam mendampingi perjalanan pendidikan anak.