KebonCinta.com – Ada satu barang yang hampir selalu ditunggu keluarga ketika jemaah haji pulang dari Tanah Suci. Bukan kurma, sajadah, tasbih, ataupun minyak wangi. Air Zamzam sering justru mendapat tempat paling istimewa.
Satu botol biasanya tidak langsung dihabiskan. Ada yang membaginya ke dalam gelas-gelas kecil untuk keluarga, menyimpannya untuk kerabat yang datang bersilaturahmi, atau memberikannya kepada tetangga yang sejak awal menitipkan harapan untuk mendapat sedikit Zamzam.
Bagi umat Islam, air ini memang bukan sekadar air minum yang berasal dari Makkah. Zamzam memiliki sejarah panjang yang terkait dengan Nabi Ibrahim AS, Hajar, dan Nabi Ismail AS, serta terus menjadi bagian dari perjalanan ibadah haji dan umrah hingga hari ini.
Sumur Zamzam berada di kawasan Masjidil Haram, Makkah, di sisi timur Ka'bah. Saudipedia mencatat lokasinya sekitar 21 meter dari Ka'bah di kawasan mataf.
Sejarahnya dalam tradisi Islam bermula ketika Nabi Ibrahim AS meninggalkan Hajar bersama putranya yang masih kecil, Ismail, di lembah Makkah yang ketika itu tandus dan tidak berpenghuni.
Persediaan air yang dibawa Hajar kemudian habis.
Dalam keadaan mencari pertolongan untuk putranya, Hajar bergerak antara Bukit Safa dan Marwah berulang kali. Perjalanan inilah yang kemudian dikenang umat Islam melalui ibadah sai ketika menjalankan haji dan umrah.
Setelah tujuh kali perjalanan, air akhirnya muncul di dekat Nabi Ismail. Dalam riwayat Islam, kemunculan air tersebut dikaitkan dengan Malaikat Jibril.
Hajar kemudian berusaha menampung air yang terus keluar. Mata air itulah yang kemudian dikenal sebagai Zamzam.
Cerita tersebut membuat Zamzam memiliki hubungan yang sangat dekat dengan perjalanan spiritual umat Islam, bukan hanya sebagai sumber air di tengah kawasan yang tandus.
Perjalanan Sumur Zamzam juga tidak berhenti pada masa Hajar dan Nabi Ismail.
Dalam catatan sejarah yang dihimpun Saudipedia, sumur tersebut pernah kehilangan jejaknya hingga kemudian digali kembali oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW.
Sejak saat itu, pengelolaan Zamzam terus mendapat perhatian dari generasi ke generasi.
Pada masa kekhalifahan, berbagai perbaikan dilakukan di sekitar sumur. Ketika Makkah berkembang dan jumlah jemaah terus bertambah, sistem pengambilan dan distribusi air pun berubah mengikuti perkembangan teknologi.
Jika dahulu Zamzam diambil menggunakan timba, kini prosesnya sudah jauh berbeda.
Di balik gelas-gelas Zamzam yang mudah ditemukan di Masjidil Haram, terdapat sistem pengelolaan air yang cukup kompleks.
Air dari sumur dipompa menuju fasilitas khusus, kemudian melewati proses penyaringan, pemeriksaan, pemurnian, dan sterilisasi sebelum didistribusikan kepada jemaah.
Saudipedia menjelaskan bahwa Zamzam dialirkan melalui pipa tahan karat menuju fasilitas pengolahan. Sampel air diperiksa untuk memastikan karakteristik dan kualitasnya sebelum memasuki tahap distribusi.
Proses sterilisasinya antara lain menggunakan teknologi sinar ultraviolet. Sistem ini dipakai bersama penyaringan dan jaringan tertutup untuk menjaga air dari kemungkinan kontaminasi.
Pengelolaan Zamzam juga berada dalam pemantauan Zamzam Studies and Research Center di bawah Saudi Geological Survey. Pusat tersebut memantau sumber air, kualitas, jumlah yang dipompa, hingga keberlanjutan cadangan Sumur Zamzam.
Dengan jumlah jemaah yang dapat mencapai jutaan orang, pengelolaan semacam ini diperlukan agar pasokan tetap tersedia sekaligus memenuhi standar pengawasan air.
Kebutuhan Zamzam meningkat tajam pada musim-musim ramai.
Pada 2026, Saudi Press Agency melaporkan bahwa sistem distribusi di Masjidil Haram mencakup ribuan wadah air dan jutaan gelas yang disediakan setiap hari bagi jemaah dan pengunjung.
Itulah sebabnya jemaah tidak perlu mendatangi langsung mulut Sumur Zamzam untuk mendapatkan air.
Zamzam kini dapat ditemukan melalui dispenser dan titik-titik minum yang tersebar di berbagai bagian Masjidil Haram.
Perubahan sistem tersebut juga membuat area mataf lebih lapang dibandingkan masa lalu, ketika akses menuju bagian sumur masih berada langsung di kawasan yang dilewati jemaah.
Keistimewaan utama Zamzam bagi umat Islam berada pada nilai agama dan sejarahnya.
Air ini berkaitan erat dengan kisah Hajar dan Nabi Ismail, perjalanan sai antara Safa dan Marwah, sejarah Kota Makkah, hingga pelaksanaan haji dan umrah.
Dalam tradisi Islam, Zamzam juga dipandang sebagai air yang diberkahi.
Karena itulah banyak jemaah memiliki kebiasaan berdoa ketika meminumnya dan membawanya pulang untuk dibagikan kepada keluarga.
Ada pula berbagai penelitian yang membahas karakteristik mineral Zamzam. Namun klaim bahwa Zamzam dapat menyembuhkan penyakit tertentu sebaiknya tidak diperlakukan sebagai pengganti pemeriksaan maupun pengobatan medis.
Nilai spiritual air Zamzam bagi umat Islam dapat dihormati tanpa harus membuat klaim kesehatan yang belum terbukti secara klinis.
Oleh-oleh haji biasanya memiliki cerita.
Kurma mengingatkan pada suasana Arab Saudi. Sajadah atau tasbih dapat dipakai kembali untuk beribadah.
Namun Zamzam terasa berbeda karena tidak mudah diperoleh seperti produk biasa di toko.
Arab Saudi tidak memperlakukan Zamzam sebagai komoditas ekspor bebas. Saudipedia menjelaskan bahwa ekspor Zamzam sebagai barang dagangan dilarang, sedangkan jemaah haji dan umrah dapat memperoleh kemasan yang memang disiapkan untuk perjalanan sesuai ketentuan.
Keterbatasan itulah yang membuat beberapa liter Zamzam yang sampai ke rumah sering dibagikan sedikit demi sedikit.
Nilainya bukan pada harga air tersebut, melainkan pada cerita tentang dari mana air itu berasal dan perjalanan yang telah ditempuh orang yang membawanya.
Ada satu hal yang juga perlu diketahui jemaah Indonesia.
Pada penyelenggaraan haji 2026, Kementerian Haji dan Umrah RI menegaskan jemaah tidak diperbolehkan memasukkan air Zamzam ke koper kabin maupun koper bagasi.
Jemaah tidak perlu menyembunyikan botol di antara pakaian atau membungkusnya berlapis-lapis agar lolos pemeriksaan.
Pemerintah telah menyiapkan Zamzam secara terpisah.
Setiap jemaah haji Indonesia mendapatkan satu galon berisi lima liter air Zamzam yang dibagikan setelah tiba di debarkasi masing-masing di Indonesia.
Aturan tersebut berkaitan dengan ketentuan penerbangan dan keamanan bagasi.
Karena itu, keinginan membawa Zamzam lebih banyak sebaiknya tidak membuat jemaah mengambil risiko koper dibongkar atau barang dikeluarkan saat pemeriksaan.
Lima liter mungkin terdengar cukup banyak untuk diminum sendiri.
Tetapi ketika Zamzam sudah tiba di rumah, ceritanya bisa berbeda.
Ada orang tua yang menunggu, saudara yang ingin mencicipi, tetangga yang datang menyambut kepulangan, hingga kerabat yang sebelumnya menitipkan doa kepada jemaah.
Akhirnya satu galon kecil itu bisa berpindah ke banyak gelas.
Mungkin hanya beberapa teguk untuk setiap orang, tetapi justru di situlah Zamzam menjadi salah satu oleh-oleh paling khas dari perjalanan haji.
Yang dibawa pulang bukan hanya air.
Di dalamnya terdapat cerita perjalanan ribuan kilometer, sejarah yang telah dikenal selama berabad-abad, kenangan berada di Masjidil Haram, dan rasa syukur seseorang setelah menyelesaikan perjalanan ke Tanah Suci.
Itulah sebabnya Zamzam tetap ditunggu, bahkan ketika koper jemaah sudah dipenuhi berbagai macam buah tangan.