Keboncinta.com-- Anak yang mudah tidak sabar biasanya cenderung ingin segera mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka juga dapat bertindak atau berbicara secara spontan tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan akibat dari tindakannya.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kemampuan pengendalian diri yang masih berkembang. Kontrol terhadap impuls bukan kemampuan yang langsung sempurna sejak lahir, tetapi perlu dibentuk melalui pengalaman dan latihan secara bertahap.
Bahkan, orang dewasa pun terkadang masih kesulitan mengendalikan dorongan untuk bertindak secara spontan. Salah satu penyebabnya adalah kemampuan menahan diri yang tidak cukup dilatih sejak masa kanak-kanak.
Pada bayi dan balita, kemampuan mengontrol keinginan memang masih sangat terbatas. Mereka belum sepenuhnya mampu menunggu, menahan godaan, atau memahami bahwa keinginannya tidak selalu bisa dipenuhi saat itu juga.
Seiring bertambahnya usia, terutama ketika memasuki sekolah dasar, kemampuan tersebut diharapkan semakin berkembang.
Baca Juga: Cara Melatih Konsentrasi Anak Sejak Dini agar Lebih Fokus Belajar, Orang Tua Harus Tahu!
Pengendalian diri membantu anak belajar berhenti sejenak sebelum melakukan sesuatu. Anak secara perlahan dapat memahami kapan harus bertindak, kapan perlu menunggu, dan bagaimana mempertimbangkan akibat dari sebuah keputusan.
Kemampuan ini juga membuat anak lebih mampu mengevaluasi perilakunya sendiri, menunggu giliran, serta mengabaikan gangguan yang tidak diperlukan.
Sebaliknya, kontrol diri yang belum berkembang dengan baik dapat diibaratkan seperti kendaraan yang sulit mengerem. Anak mungkin langsung mengikuti dorongan yang muncul tanpa sempat memikirkan apakah tindakannya aman atau tepat.
Salah satu dampak perilaku impulsif adalah anak dapat melakukan sesuatu secara spontan tanpa mempertimbangkan risiko. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut dapat membuat anak mengalami cedera atau bahkan membahayakan orang di sekitarnya.
Karena itu, anak perlu secara bertahap belajar memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensi. Mereka perlu mengetahui bahwa setiap pilihan memiliki dampak yang harus dipertanggungjawabkan.
Kesulitan mengendalikan diri juga dapat memengaruhi hubungan anak dengan orang lain. Anak mungkin berbicara tanpa memikirkan perasaan lawan bicara, menyela ketika orang lain sedang berbicara, atau sulit menunggu giliran.
Jika kebiasaan tersebut terus terjadi, anak dapat mengalami kesulitan ketika membangun pertemanan. Kemampuan mengendalikan respons menjadi salah satu bagian penting dalam membangun komunikasi dan hubungan sosial yang sehat.
Baca Juga: Cara Mencegah Bullying pada Anak, Peran Orang Tua Sangat Penting
Impulsivitas juga dapat membuat anak lebih sulit memikirkan sesuatu untuk jangka panjang. Mereka cenderung memilih apa yang memberikan kepuasan saat itu dibandingkan mempertimbangkan hasil yang akan diperoleh kemudian.
Padahal, kemampuan merencanakan sesuatu membutuhkan kesediaan untuk menunda keinginan dan memikirkan beberapa langkah sebelum bertindak.
Karena itu, melatih kesabaran sejak dini dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir sebelum mengambil keputusan.
Salah satu cara sederhana untuk melatih pengendalian diri adalah membiasakan anak menunggu. Tidak semua keinginan harus dipenuhi pada saat anak memintanya.
Orang tua dapat memberikan penjelasan sederhana mengenai alasan anak perlu menunggu. Mulailah dari hal-hal kecil yang sesuai dengan usia mereka.
Contohnya, ketika anak menginginkan sesuatu, orang tua dapat mengajarkan bahwa kebutuhan tersebut akan diberikan setelah aktivitas tertentu selesai.
Melibatkan anak dalam memilih sesuatu juga dapat menjadi latihan untuk mengembangkan kontrol diri. Berikan beberapa pilihan yang masih berada dalam batas yang dapat diterima.
Setelah anak menentukan pilihannya, jelaskan pula konsekuensi yang mungkin muncul. Dengan cara ini, anak belajar memahami bahwa setiap keputusan memiliki akibat.
Konsekuensi sebaiknya masuk akal dan berkaitan langsung dengan tindakan, bukan diberikan sebagai bentuk hukuman yang berlebihan.
Baca Juga: Cara Mengajarkan Anak Bertanggung Jawab agar Tidak Suka Ngeles Saat Salah
Latihan pengendalian diri tidak harus dilakukan melalui nasihat panjang. Berbagai permainan dapat menjadi media yang menyenangkan untuk membantu anak belajar fokus, menunggu, mengikuti aturan, dan mengendalikan dorongan.
Puzzle, permainan papan, permainan yang membutuhkan giliran, hingga olahraga dapat menjadi pilihan. Selain menyenangkan, aktivitas tersebut mengajarkan anak bahwa mereka tidak selalu bisa melakukan sesuatu sesuai keinginan sendiri.
Proses membangun kontrol diri membutuhkan waktu. Karena itu, orang tua perlu memberikan apresiasi ketika anak berhasil menahan keinginan, menunggu giliran, atau berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak.
Pujian tidak harus diberikan secara berlebihan. Kalimat sederhana yang menunjukkan bahwa orang tua melihat usaha anak dapat menjadi dorongan untuk terus belajar.
Pada akhirnya, kesabaran dan kemampuan mengendalikan impuls merupakan keterampilan yang perlu dibangun secara bertahap.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir