Keboncinta.com-- Di era ketika internet dan media sosial semakin dekat dengan kehidupan anak-anak, muncul berbagai risiko yang tidak selalu mudah terlihat. Salah satunya adalah cyberbullying yang dapat berlangsung melalui komentar, pesan pribadi, unggahan, maupun berbagai aktivitas di media sosial.
Berbeda dengan perundungan secara langsung di lingkungan sekolah yang biasanya lebih mudah dikenali, cyberbullying dapat berlangsung tanpa terlihat dan menjangkau anak kapan pun, termasuk saat berada di rumah. Kondisi ini membuat peran orang tua semakin penting dalam mengenali tanda-tanda yang muncul sekaligus mendampingi anak ketika menghadapi tekanan di ruang digital.
Cyberbullying adalah tindakan intimidasi, penghinaan, ancaman, atau pelecehan yang dilakukan dengan memanfaatkan perangkat maupun platform digital. Jika tidak ditangani dengan tepat, pengalaman tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi mental dan emosional anak serta remaja.
Baca Juga: TKA 2026 SMA Sederajat Tidak Wajib, Ini Pertimbangan Penting Sebelum Siswa Menentukan Pilihan
Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak. Anak yang tiba-tiba menjadi lebih tertutup, menjauh dari pergaulan, kehilangan ketertarikan terhadap kegiatan yang sebelumnya disukai, atau menunjukkan kecemasan setelah menggunakan ponsel dapat menjadi tanda yang perlu mendapatkan perhatian.
Mengenali perubahan perilaku saja belum cukup. Orang tua juga perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak agar mereka memiliki tempat yang aman untuk menyampaikan apa yang dialami di dunia maya.
Anak sebaiknya tidak merasa khawatir akan dimarahi atau disalahkan ketika menceritakan pengalaman yang membuatnya tidak nyaman. Sikap orang tua yang tenang dan mau mendengarkan dapat membuat anak lebih percaya diri untuk berbicara.
Dengan komunikasi yang baik, anak akan lebih mudah mengungkapkan apabila menerima komentar yang menyakitkan, pesan berisi ancaman, tindakan mempermalukan di media sosial, maupun bentuk pelecehan digital lainnya.
Kepercayaan antara anak dan orang tua menjadi salah satu modal penting agar persoalan cyberbullying dapat diketahui lebih awal dan ditangani dengan tepat.
Perlindungan terhadap anak di dunia digital juga perlu dilakukan melalui pendidikan mengenai etika bermedia sosial. Sejak dini, anak perlu memahami bahwa setiap tulisan, komentar, foto, video, maupun konten yang dibagikan secara online dapat berdampak kepada orang lain.
Orang tua dapat mengajarkan anak untuk menghargai pengguna internet lainnya, menghindari komentar yang menyakiti, tidak ikut menyebarluaskan konten yang mempermalukan orang lain, serta berhati-hati ketika memberikan informasi pribadi.
Pemahaman mengenai keamanan digital juga penting agar anak mengetahui berbagai risiko yang mungkin muncul ketika beraktivitas di internet. Dengan bekal tersebut, anak diharapkan dapat menggunakan media sosial secara lebih bertanggung jawab sekaligus mampu melindungi dirinya.
Baca Juga: 529 Siswa Sekolah Rakyat Cirebon Dapat Rekening SimPel, OJK Dorong Budaya Menabung Sejak Dini
Selain komunikasi dan edukasi, orang tua perlu memberikan pengawasan terhadap aktivitas digital anak. Pengawasan dapat dilakukan dengan mengetahui platform yang biasa digunakan anak, lingkungan pertemanan digitalnya, serta jenis konten yang sering diakses.
Namun, pengawasan tidak berarti orang tua harus terus-menerus menginterogasi anak atau mengambil alih seluruh aktivitas mereka di internet. Pendekatan yang lebih baik adalah membangun kebiasaan berdiskusi sehingga anak memahami bahwa pengawasan dilakukan sebagai bentuk perlindungan.
Orang tua juga dapat membuat kesepakatan mengenai aturan penggunaan perangkat digital di rumah. Misalnya, mengatur durasi penggunaan layar, menyediakan waktu tanpa gawai, serta memberikan batasan mengenai informasi pribadi yang aman untuk dibagikan melalui internet.
Aturan tersebut sebaiknya disampaikan dengan cara yang mudah dipahami anak dan diterapkan secara konsisten.
Ketika anak sudah mengalami cyberbullying, orang tua tidak harus menyelesaikan persoalan tersebut sendirian. Dukungan dari sekolah, guru, dan lingkungan sekitar juga diperlukan untuk memastikan anak mendapatkan ruang yang aman.
Kolaborasi antara orang tua, guru, sekolah, dan komunitas dapat memperkuat upaya pencegahan maupun penanganan perundungan digital. Sekolah juga dapat berperan melalui edukasi kepada siswa, tenaga pendidik, dan orang tua mengenai bentuk-bentuk cyberbullying serta tindakan yang dapat dilakukan ketika kasus terjadi.
Kegiatan literasi digital, seminar, dan program edukasi dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman bersama. Anak tidak hanya perlu mengetahui cara menjaga dirinya dari cyberbullying, tetapi juga memahami pentingnya tidak ikut melakukan atau menyebarkan tindakan yang dapat merugikan orang lain.
Baca Juga: Muktamar ke-35 NU Memanas, Voting Jadi Jalan Keluar untuk Tentukan Ketua Umum PBNU
Pada dasarnya, menghadapi cyberbullying bukan sekadar persoalan membatasi akses anak terhadap internet atau media sosial. Hal yang tidak kalah penting adalah membangun kemampuan anak untuk menghadapi lingkungan digital secara sehat dan bertanggung jawab.
Komunikasi yang terbuka, pemahaman mengenai etika digital, pengawasan yang proporsional, serta keberanian untuk bercerita menjadi bekal penting bagi anak.
Dengan dukungan orang tua dan lingkungan yang tepat, anak diharapkan dapat merasa lebih aman ketika menggunakan internet sekaligus memiliki keberanian untuk meminta bantuan apabila menghadapi cyberbullying.***