Keboncinta.com-- Kerukunan antar umat beragama mutlak diperlukan untuk menjaga keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Desa Pabuaran, Kabupaten Bogor, kembali menjadi bukti nyata bahwa Indonesia adalah rumah bagi keberagaman yang harmonis.
Melalui program Indonesian Interfaith Scholarship (IIS) 2025, para peserta dari Austria mengunjungi desa yang dikenal sebagai salah satu Desa Kerukunan binaan Kementerian Agama ini.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran lintas budaya dan lintas agama untuk memperluas wawasan para delegasi internasional mengenai praktik kerukunan di tingkat masyarakat.
Mereka dipimpin oleh Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama, Adib Abdushomad.
Baca Juga: “Merawat Semesta dengan Cinta”: Makna Mendalam di Balik Hari Guru Nasional 2025
Adib menegaskan bahwa Desa Pabuaran adalah contoh nyata bagaimana masyarakat Indonesia mampu hidup berdampingan meski berbeda latar belakang budaya dan agama.
“Kita hidup berdampingan dalam perbedaan. Ini yang menarik, bagaimana mereka dapat hidup bersama dan menciptakan keharmonisan yang nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehidupan sosial di desa tersebut mencerminkan bagaimana nilai moderasi beragama dan semangat Bhinneka Tunggal Ika tumbuh kuat di tengah masyarakat.
Melalui program IIS, diharapkan para peserta internasional dapat memahami bahwa harmoni di Indonesia bukan sekadar konsep, melainkan praktik sehari-hari.
Baca Juga: Sejarah Perang Khandaq: Strategi Cerdas Rasulullah SAW Menghadapi Pengepungan Pasukan Ahzab
“Kami ingin menunjukkan bahwa harmoni bukan hanya slogan, tetapi cara hidup masyarakat kita. Ke depan, kami berharap Desa Pabuaran dapat menjadi destinasi wisata kerukunan yang dikenal dunia,” tambah Adib.
Delegasi IIS dari Austria, Alexander Reiger, turut menyampaikan kekagumannya terhadap sambutan warga Desa Pabuaran.
Ia menilai bahwa praktik kehidupan bersama lintas iman yang dijalankan masyarakat Indonesia adalah contoh konkret bagaimana perdamaian dibangun.
“Kami datang untuk belajar dan melihat bagaimana perdamaian di sini benar-benar diwujudkan. Dengan musik dan makanan, kita menjadi lebih dekat—ini cara indah untuk merayakan perbedaan,” ungkapnya.
Baca Juga: Jenderal Gatot Subroto, Pahlawan Nasional dengan Jiwa Tegas dan Nurani Militer Sejati
Kegiatan kunjungan dilengkapi dengan penyerahan cendera mata dari Kepala Kecamatan Gunung Sindur, Jamalludin, kepada delegasi Austria sebagai simbol persahabatan lintas budaya.
Para peserta juga diajak berkeliling ke distrik berbagai rumah ibadah, mulai dari Mushola, Klenteng, Vihara, Gereja, hingga rumah ibadah umat Sikh.
Pengalaman tersebut menjadi refleksi penting bahwa toleransi, saling menghormati, dan kemauan untuk hidup berdampingan merupakan modal utama menciptakan perdamaian dunia—dan Indonesia menjadi salah satu contoh terbaik untuk melihat kerukunan umat beragama.***