Janalogue 2026: Tren “Kembali ke Analog” untuk Menyelamatkan Fokus Otak dari Doomscrolling

Janalogue 2026: Tren “Kembali ke Analog” untuk Menyelamatkan Fokus Otak dari Doomscrolling

31 Maret 2026 | 22:02

Keboncinta.com-- Pernah merasa membuka ponsel hanya sebentar, tetapi tiba-tiba satu jam sudah berlalu? Awalnya hanya ingin melihat satu berita atau satu video, lalu jari terus menggulir layar tanpa sadar. Fenomena ini semakin umum terjadi di era digital dan dikenal dengan istilah Doomscrolling.

Doomscrolling menggambarkan kebiasaan menggulir informasi secara terus-menerus, terutama berita atau konten yang memicu emosi, rasa penasaran, atau kecemasan. Tanpa terasa, otak kita terus menerima rangsangan baru setiap beberapa detik. Video pendek, notifikasi, headline berita, hingga komentar media sosial silih berganti memenuhi perhatian kita.

Masalahnya bukan sekadar waktu yang terbuang. Pola konsumsi informasi yang sangat cepat ini perlahan memengaruhi cara otak bekerja.

Otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk memproses rangsangan tanpa henti seperti yang terjadi di dunia digital saat ini. Ketika kita terus-menerus berpindah dari satu konten ke konten lain, kemampuan fokus jangka panjang bisa menurun. Banyak orang mulai merasa sulit membaca buku, berkonsentrasi pada pekerjaan, atau bahkan menikmati percakapan tanpa tergoda memeriksa ponsel.

Di tengah kekhawatiran ini, muncul sebuah tren baru yang cukup menarik pada tahun 2026. Tren tersebut dikenal dengan istilah Janalogue. Istilah ini berasal dari gabungan kata January dan analogue, yang menggambarkan kebiasaan memulai tahun dengan kembali menggunakan aktivitas analog aktivitas yang tidak bergantung pada layar digital.

Gerakan ini sebenarnya bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu. Banyak orang mulai menyadari bahwa terlalu banyak stimulasi digital membuat otak sulit beristirahat. Janalogue menawarkan cara sederhana untuk mengembalikan keseimbangan tersebut.

Tags:
Gen Z Lifestyle Kesehatan Mata Self Care Scrolling berlebihan

Komentar Pengguna