Keboncinta.com-- Pernah merasa hidup terlalu penuh jadwal padat, barang menumpuk, pikiran seperti tidak pernah benar-benar istirahat? Di sisi lain, ada juga momen ketika semuanya terasa kurang, seolah selalu ada yang harus dikejar. Di Swedia, ada satu kata sederhana yang sering dipakai untuk menggambarkan keseimbangan di antara dua titik itu: lagom. Tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit cukup.
Lagom bukan sekadar cara bicara, tapi semacam kebiasaan berpikir yang meresap ke kehidupan sehari-hari. Orang Swedia menggunakannya untuk banyak hal: porsi makanan, cara bekerja, bahkan dalam bersosialisasi. Ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa hidup yang baik tidak harus ekstrem. Justru yang paling nyaman sering kali adalah yang berada di tengah.
Jika ditelusuri, akar lagom berkaitan dengan sejarah masyarakat yang terbiasa hidup dalam komunitas yang saling bergantung. Dalam lingkungan seperti itu, mengambil terlalu banyak dianggap tidak adil, sementara mengambil terlalu sedikit juga tidak efisien. Dari kebiasaan sederhana itulah lahir nilai bahwa keseimbangan adalah bentuk kebijaksanaan. Lama-kelamaan berubah menjadi cara pandang terhadap hidup.
Menariknya, lagom terasa sangat relevan dengan kehidupan modern yang sering bergerak ke dua arah ekstrem: serba cepat atau serba berlebihan. Kita mudah terjebak dalam budaya “lebih”: lebih sukses, lebih sibuk, lebih terlihat. Di sisi lain, ada juga tekanan untuk selalu maksimal dalam segala hal. Di tengah itu semua, lagom seperti menawarkan jalan yang lebih tenang, bahwa cukup itu bukan kegagalan, tapi justru bentuk kesadaran.
Namun, memahami lagom bukan berarti berhenti berkembang atau menolak ambisi. Justru sebaliknya, mengajak kita untuk tahu kapan harus berhenti mengejar, dan kapan harus cukup puas dengan apa yang sudah ada. Ada kecerdasan emosional di sana kemampuan untuk tidak selalu terdorong ke batas paling ekstrem.
lagom mengingatkan bahwa hidup tidak harus selalu penuh atau kosong, tinggi atau rendah. Ada ruang di tengah yang sering kita lewatkan: ruang yang cukup untuk bernapas, cukup untuk merasa tenang, dan cukup untuk menjadi manusia tanpa tekanan untuk selalu “lebih”.