keboncinta.com-- Di masyarakat, istilah maag dan GERD sering digunakan secara bergantian. Ketika dada terasa panas, perut perih, atau mual, orang langsung menyebutnya “maag kambuh”. Padahal, secara medis, maag dan GERD adalah dua kondisi yang berbeda. Kesalahan memahami keduanya bisa berujung pada penanganan yang keliru dan keluhan yang tak kunjung sembuh.
Apa Itu Maag?
Maag bukanlah nama penyakit tunggal, melainkan istilah umum untuk gangguan pada lambung, terutama gastritis (peradangan dinding lambung). Maag biasanya berkaitan dengan iritasi lambung akibat pola makan tidak teratur, stres, konsumsi obat anti-nyeri (NSAID), alkohol, atau infeksi bakteri Helicobacter pylori.
Gejala maag umumnya meliputi nyeri atau perih di ulu hati, mual, muntah, perut kembung, cepat kenyang, dan kadang sendawa berlebihan. Keluhan ini sering muncul saat telat makan atau setelah mengonsumsi makanan pedas dan asam.
Apa Itu GERD?
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara berulang akibat lemahnya katup antara lambung dan kerongkongan (sfingter esofagus bawah). Berbeda dengan maag yang berpusat di lambung, GERD melibatkan kerongkongan.
Gejala khas GERD adalah rasa panas di dada (heartburn), sensasi asam atau pahit di mulut, nyeri dada, sulit menelan, batuk kronis, suara serak, hingga rasa mengganjal di tenggorokan. Keluhan sering memburuk saat berbaring atau setelah makan dalam porsi besar.
Serupa tapi Tak Sama
Kesamaan utama maag dan GERD terletak pada rasa tidak nyaman di area dada dan perut. Namun, sumber masalahnya berbeda. Maag berfokus pada peradangan lambung, sedangkan GERD disebabkan oleh refluks asam ke kerongkongan. Seseorang bisa mengalami maag tanpa GERD, GERD tanpa maag, atau bahkan keduanya sekaligus.
Mengapa Bisa Salah Obat?
Karena gejalanya mirip, banyak orang hanya mengandalkan obat penetral asam lambung. Padahal, pada GERD, masalah utamanya bukan sekadar jumlah asam, tetapi mekanisme naiknya asam ke kerongkongan. Tanpa perubahan gaya hidup—seperti menghindari berbaring setelah makan, menurunkan berat badan, dan mengatur pola makan—keluhan GERD bisa terus berulang meski sudah minum obat.
Kapan Harus Waspada?
Jika keluhan sering kambuh, berlangsung lama, disertai muntah darah, tinja hitam, penurunan berat badan, atau nyeri dada hebat, segera periksakan diri ke tenaga medis. Diagnosis yang tepat akan membantu menentukan terapi yang sesuai.
Memahami perbedaan GERD dan maag bukan sekadar soal istilah, tetapi langkah penting agar pengobatan tepat sasaran dan kualitas hidup tetap terjaga.