Keboncinta.com-- Menjadi guru bukan hanya soal menyampaikan materi pelajaran di depan kelas. Di balik tugas tersebut, ada banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, mulai dari menyiapkan administrasi, memenuhi tuntutan akademik, menghadapi beragam karakter siswa, hingga membangun komunikasi dengan orang tua yang memiliki latar belakang dan harapan berbeda.
Tidak mengherankan jika berbagai tuntutan tersebut terkadang membuat guru merasa lelah, tertekan, bahkan mengalami stres. Namun, tekanan dalam menjalankan profesi bukan berarti harus dibiarkan berlarut-larut.
Salah satu cara yang dapat dipelajari guru untuk menghadapi tekanan tersebut adalah melalui filosofi Stoisisme. Meskipun merupakan salah satu aliran filsafat yang telah berkembang sejak zaman dahulu, prinsip Stoisisme masih relevan untuk membantu seseorang menghadapi berbagai persoalan kehidupan modern, termasuk tantangan yang dialami guru.
Baca Juga: Punya Kucing di Rumah? Ini Cara Merawatnya agar Tetap Sehat dan Bahagia
Salah satu prinsip utama Stoisisme adalah membedakan hal-hal yang berada dalam kendali diri dengan sesuatu yang berada di luar kendali.
Guru dapat mengendalikan pikiran, sikap, tindakan, serta cara merespons sebuah keadaan. Sebaliknya, tindakan orang lain, berbagai kejadian yang tidak terduga, maupun hasil dari keputusan orang lain tidak selalu dapat dikendalikan.
Dalam kehidupan di sekolah, misalnya, guru tidak mungkin sepenuhnya mengatur bagaimana siswa bersikap atau bagaimana orang tua memberikan respons terhadap suatu persoalan. Namun, guru masih dapat menentukan bagaimana dirinya menghadapi situasi tersebut.
Dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang memang dapat dikendalikan, energi tidak akan habis untuk memikirkan sesuatu yang berada di luar kemampuan kita. Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi kecemasan dan tekanan yang tidak perlu.
Stoisisme juga mengajarkan pentingnya menerima kenyataan, termasuk keadaan yang mungkin tidak sesuai dengan harapan.
Menerima bukan berarti menyerah atau tidak berusaha memperbaiki keadaan. Sebaliknya, penerimaan dapat menjadi langkah untuk berdamai dengan sesuatu yang memang sudah terjadi sehingga seseorang dapat menentukan langkah berikutnya dengan lebih tenang.
Bagi guru, prinsip ini dapat diterapkan ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai rencana. Daripada terus menyalahkan diri sendiri atau menyesali keadaan, guru dapat mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut dan kembali memusatkan perhatian pada hal yang masih bisa dilakukan.
Dengan demikian, pikiran tidak terus-menerus terjebak pada masalah yang sudah berlalu.
Baca Juga: Jangan Tunggu Sakit! Ini 6 Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Jantung agar Tetap Sehat
Meditasi juga dapat menjadi salah satu cara untuk membantu menenangkan pikiran. Tidak harus dilakukan dalam waktu yang lama, guru dapat meluangkan beberapa menit untuk berhenti sejenak dari berbagai kesibukan.
Saat pikiran lebih tenang, seseorang dapat melihat persoalan dengan lebih jernih. Meditasi juga dapat menjadi kesempatan untuk mengingat kembali mana persoalan yang dapat dikendalikan dan mana yang sebaiknya diterima.
Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menciptakan jeda di tengah rutinitas mengajar yang padat.
Menghadapi siswa dan orang tua dengan karakter yang beragam membutuhkan kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain. Dalam budaya Jawa, kemampuan memahami perasaan orang lain kerap dikaitkan dengan istilah "ngaji rasa".
Melatih empati dapat membantu guru merespons berbagai persoalan dengan lebih bijaksana. Ketika memahami bahwa setiap orang memiliki latar belakang, kondisi, dan cara berpikir yang berbeda, guru dapat lebih berhati-hati dalam memberikan respons.
Sikap tersebut juga dapat membantu mengurangi reaksi emosional, termasuk kemarahan, ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.
Baca Juga: Awal Ramadan dan Syawal Tak Bisa Sembarangan! Ini Cara Pemerintah Menentukan Bulan Hijriah
Kesibukan mengajar terkadang membuat guru terlalu fokus pada pekerjaan hingga lupa memberikan waktu bagi dirinya sendiri.
Karena itu, luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang disukai. Membaca, berolahraga, berkumpul bersama keluarga, menikmati hobi, atau sekadar beristirahat sejenak dapat menjadi cara untuk mengembalikan energi.
Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi penting agar tekanan pekerjaan tidak mengambil seluruh ruang dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, filosofi Stoisisme bukanlah cara untuk menghilangkan seluruh masalah dalam kehidupan guru. Prinsip ini lebih mengajarkan bagaimana seseorang menyikapi masalah dengan lebih tenang dan bijaksana.
Dengan belajar memusatkan perhatian pada hal yang dapat dikendalikan, menerima keadaan yang tidak dapat diubah, melatih ketenangan, membangun empati, serta menyediakan waktu untuk diri sendiri, guru dapat memiliki cara pandang yang lebih sehat dalam menghadapi berbagai tantangan profesinya.***