Keboncinta.com-- Jam tidur anak sering kali dianggap sebagai urusan sederhana yang akan berjalan dengan sendirinya. Padahal, kebiasaan tidur yang terlalu larut atau jadwal istirahat yang berubah-ubah bisa berdampak pada kondisi anak saat menjalani aktivitas sehari-hari.
Tidur yang cukup bukan hanya membuat anak bangun dengan tubuh lebih segar. Waktu istirahat yang berkualitas juga menjadi bagian penting dalam menunjang proses pertumbuhan, perkembangan, konsentrasi, serta keseimbangan suasana hati anak.
Karena itu, orang tua perlu mulai memperhatikan bukan hanya berapa lama anak tidur, tetapi juga kapan anak mulai tidur dan seberapa konsisten rutinitas tersebut dilakukan.
Lantas, berapa sebenarnya kebutuhan tidur anak berdasarkan usianya? Dan bagaimana cara sederhana membentuk kebiasaan tidur yang lebih teratur di rumah?
Baca Juga: Maulid Nabi 1448 H Digelar Kemenag, Ada Gerakan Selawat Nasional dengan Target 1,7 Juta Peserta
Tidur merupakan bagian penting dari rutinitas harian anak. Saat anak terlelap, tubuh tidak sekadar berhenti beraktivitas, tetapi juga menjalankan berbagai proses pemulihan dan perkembangan.
Salah satu proses yang berkaitan dengan tidur adalah pelepasan hormon pertumbuhan. Inilah sebabnya kecukupan dan kualitas tidur perlu menjadi perhatian orang tua, terutama pada masa pertumbuhan.
Sebaliknya, anak yang terbiasa tidur terlalu malam atau tidak memiliki jadwal tidur yang konsisten berisiko kehilangan waktu istirahat yang dibutuhkan tubuhnya.
Jika berlangsung terus-menerus, kurang tidur dapat membuat anak lebih mudah lelah, mengantuk pada siang hari, sulit berkonsentrasi, hingga mengalami perubahan suasana hati dan perilaku.
Dengan demikian, membangun kebiasaan tidur yang baik sejak dini merupakan bagian dari penerapan pola hidup sehat bagi anak.
Kebutuhan tidur tidak sama untuk setiap anak. Usia menjadi salah satu faktor penting yang menentukan berapa lama waktu istirahat yang dibutuhkan dalam sehari.
Secara umum, kebutuhan tidur anak dalam periode 24 jam dapat menjadi acuan bagi orang tua dalam menyusun jadwal tidur dan aktivitas harian.
Baca Juga: Dana BOSP Diretur? Jangan Panik, Ini Tahapan yang Harus Dilakukan Sekolah dan Dinas
| Usia Anak | Kebutuhan Tidur per 24 Jam |
|---|---|
| 0–3 bulan | 14–17 jam |
| 4–11 bulan | 12–16 jam |
| 1–3 tahun | 11–14 jam |
| 3–6 tahun | 10–13 jam |
| 7 tahun ke atas | 9–11 jam |
Jumlah tersebut merupakan total waktu tidur dalam sehari. Pada kelompok usia tertentu, waktu tidur tersebut dapat mencakup tidur malam dan tidur siang.
Mengetahui kebutuhan tidur berdasarkan usia akan membantu orang tua menentukan rutinitas yang lebih sesuai dengan kondisi dan aktivitas anak.
Kebiasaan tidur larut malam sebaiknya tidak dibiarkan menjadi rutinitas. Anak membutuhkan jadwal istirahat yang teratur agar tubuhnya memiliki pola harian yang lebih konsisten.
Penentuan waktu tidur juga sebaiknya tidak hanya berdasarkan patokan jam tertentu. Orang tua perlu mempertimbangkan usia anak, total kebutuhan tidurnya, serta waktu yang mengharuskannya bangun pada pagi hari.
Pada anak yang masih kecil, rutinitas sebelum tidur dapat mulai diterapkan secara bertahap. Misalnya, orang tua dapat mengurangi aktivitas yang terlalu merangsang atau membuat anak kembali aktif menjelang waktu tidur.
Rutinitas sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi tanda bagi anak bahwa waktunya mulai bersiap untuk beristirahat.
Anak yang tidak mendapatkan waktu tidur sesuai kebutuhannya dapat menunjukkan sejumlah perubahan dalam keseharian.
Beberapa anak menjadi lebih mudah mengantuk, cepat lelah, sulit fokus, lebih rewel, atau mengalami perubahan suasana hati. Kondisi tersebut tentu dapat mengganggu aktivitas bermain maupun proses belajar.
Jika kebiasaan tidur yang kurang baik berlangsung dalam waktu lama, rutinitas anak secara keseluruhan juga dapat ikut terganggu. Waktu makan, aktivitas fisik, belajar, hingga waktu bersama keluarga bisa menjadi kurang teratur.
Karena itu, tidur perlu ditempatkan sebagai salah satu bagian dari pola hidup sehat, bersama dengan makanan bergizi dan aktivitas fisik yang sesuai dengan usia anak.
Persoalan jam tidur ternyata tidak hanya berdampak pada anak. Orang tua juga dapat merasakan efeknya ketika anak terbiasa terjaga hingga larut malam.
Anak yang sulit tidur atau sering terbangun pada malam hari dapat membuat orang tua ikut kehilangan waktu istirahat. Apabila terjadi berulang kali, kondisi tersebut dapat menyebabkan orang tua merasa lebih lelah pada keesokan harinya.
Kurangnya waktu tidur juga dapat memengaruhi kondisi tubuh dan suasana hati orang tua. Oleh sebab itu, membangun rutinitas tidur anak yang baik sebenarnya memberikan manfaat bagi seluruh anggota keluarga.
Orang tua tidak perlu mengubah pola tidur anak secara drastis dalam satu malam. Kebiasaan tersebut dapat dibangun secara bertahap dengan membuat rutinitas yang mudah dilakukan setiap hari.
Beberapa hal yang dapat dicoba antara lain menetapkan waktu tidur dan bangun yang relatif konsisten, menciptakan suasana kamar yang nyaman, serta mengurangi aktivitas yang terlalu aktif menjelang waktu tidur.
Rutinitas sebelum tidur juga dapat dibuat sederhana, seperti membersihkan diri, berganti pakaian tidur, membaca buku, atau melakukan kegiatan tenang bersama orang tua.
Yang paling penting adalah konsistensi. Ketika rutinitas dilakukan berulang kali, anak akan lebih mudah mengenali bahwa rangkaian kegiatan tersebut menjadi tanda bahwa waktunya untuk beristirahat.
Jam tidur anak bukan sekadar persoalan kapan anak masuk ke kamar dan memejamkan mata. Di balik kebiasaan tidur yang teratur terdapat kebutuhan tubuh untuk memulihkan energi dan mendukung proses tumbuh kembang.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menunggu sampai anak mengalami masalah tidur untuk mulai membangun rutinitas.