Keboncinta.com-- Jam tidur anak sering kali luput dari perhatian karena dianggap sebagai rutinitas yang akan terbentuk secara alami. Padahal, kebiasaan tidur terlalu larut maupun jadwal istirahat yang tidak teratur dapat memengaruhi kondisi anak dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Tidur yang cukup memiliki peran lebih besar daripada sekadar membuat anak bangun dalam keadaan segar. Istirahat berkualitas turut mendukung pertumbuhan, perkembangan, kemampuan berkonsentrasi, serta kestabilan emosi dan suasana hati anak.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan dua hal sekaligus, yakni durasi tidur anak dan keteraturan waktu tidur. Bukan hanya berapa lama anak terlelap, tetapi juga kapan ia mulai tidur dan apakah jadwal tersebut diterapkan secara konsisten.
Lalu, berapa lama waktu tidur yang dibutuhkan anak berdasarkan usianya? Selain itu, bagaimana cara membangun kebiasaan tidur yang teratur di rumah?
Baca Juga: 6.600 Guru PAI Akan Ikuti Pelatihan Tartil Al-Qur’an Kemenag, Dimulai September 2026
Tidur merupakan salah satu bagian penting dalam rutinitas harian anak. Ketika tidur, tubuh tidak berhenti bekerja sepenuhnya. Berbagai proses pemulihan dan perkembangan tetap berlangsung selama anak beristirahat.
Salah satu proses penting yang berkaitan dengan tidur adalah pelepasan hormon pertumbuhan. Oleh sebab itu, kecukupan serta kualitas tidur menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama ketika anak berada dalam masa pertumbuhan.
Sebaliknya, kebiasaan tidur terlalu malam dan jadwal istirahat yang berubah-ubah dapat membuat anak tidak memperoleh waktu tidur yang sesuai dengan kebutuhannya.
Apabila berlangsung terus-menerus, kekurangan tidur dapat membuat anak lebih cepat lelah, mengantuk pada siang hari, kesulitan berkonsentrasi, serta mengalami perubahan suasana hati maupun perilaku.
Membentuk pola tidur yang baik sejak dini pun dapat menjadi bagian dari upaya menerapkan gaya hidup sehat bagi anak.
Baca Juga: Guru Bersiap, PPG Daljab 2026 Segera Digelar dengan Dukungan Anggaran Tambahan
Setiap anak memiliki kebutuhan tidur yang berbeda. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah usia. Semakin bertambah usia, kebutuhan tidur anak secara umum akan mengalami perubahan.
Sebagai gambaran, kebutuhan tidur anak dalam periode 24 jam dapat menjadi acuan bagi orang tua dalam menyusun jadwal istirahat dan kegiatan sehari-hari.
| Usia Anak | Kebutuhan Tidur per 24 Jam |
|---|---|
| 0–3 bulan | 14–17 jam |
| 4–11 bulan | 12–16 jam |
| 1–3 tahun | 11–14 jam |
| 3–6 tahun | 10–13 jam |
| 7 tahun ke atas | 9–11 jam |
Angka tersebut merupakan keseluruhan waktu tidur dalam satu hari. Untuk kelompok usia tertentu, durasinya dapat terdiri atas tidur malam dan tidur siang.
Dengan mengetahui kebutuhan tidur berdasarkan usia, orang tua dapat lebih mudah menyesuaikan waktu tidur anak dengan aktivitas dan kebutuhan hariannya.
Tidur terlalu malam sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan. Anak membutuhkan pola istirahat yang relatif konsisten agar tubuh memiliki ritme harian yang lebih teratur.
Menentukan waktu tidur pun tidak cukup hanya dengan berpatokan pada jam tertentu. Orang tua perlu mempertimbangkan usia anak, jumlah waktu tidur yang diperlukan, serta jam anak harus bangun pada pagi hari.
Untuk anak yang masih kecil, kebiasaan menjelang tidur dapat diperkenalkan secara perlahan. Aktivitas yang membuat anak terlalu bersemangat sebaiknya mulai dikurangi ketika waktu istirahat semakin dekat.
Kegiatan sederhana yang dilakukan berulang setiap malam dapat membantu anak memahami bahwa rangkaian rutinitas tersebut merupakan tanda bahwa waktu tidur sudah tiba.
Baca Juga: PPG Daljab 2026 Segera Digelar, Kemenag Siapkan Anggaran Tambahan untuk Guru
Kebutuhan tidur yang tidak terpenuhi dapat terlihat dari perubahan perilaku anak dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Anak mungkin menjadi lebih cepat lelah, mudah mengantuk, sulit mempertahankan fokus, lebih rewel, atau mengalami perubahan suasana hati. Jika terjadi, kondisi tersebut dapat memengaruhi kegiatan bermain, belajar, maupun interaksi anak dengan orang di sekitarnya.
Masalah tidur yang berlangsung terus-menerus juga dapat membuat rutinitas harian anak menjadi kurang teratur. Pola makan, kegiatan fisik, waktu belajar, hingga kebersamaan dengan keluarga dapat ikut terdampak.
Karena itu, tidur sebaiknya dipandang sebagai bagian penting dari pola hidup sehat anak, selain asupan makanan bergizi dan aktivitas fisik yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Pola tidur anak ternyata tidak hanya berhubungan dengan kondisi anak. Orang tua juga dapat terkena dampaknya ketika anak terbiasa tidur larut atau mengalami gangguan tidur pada malam hari.
Anak yang sulit terlelap atau berkali-kali terbangun dapat mengurangi waktu istirahat orang tua. Jika terjadi berulang, orang tua berpotensi merasa lebih lelah ketika menjalani aktivitas pada hari berikutnya.
Kurang tidur juga dapat memengaruhi kondisi tubuh dan suasana hati. Dengan demikian, menciptakan jadwal tidur anak yang lebih teratur bukan hanya bermanfaat bagi anak, tetapi juga membantu menjaga waktu istirahat seluruh keluarga.
Baca Juga: PPG Daljab 2026 Segera Digelar, Kemenag Siapkan Anggaran Tambahan untuk Guru
Mengubah kebiasaan tidur anak tidak harus dilakukan secara mendadak. Orang tua dapat melakukannya secara bertahap dengan membuat rutinitas sederhana yang mudah diterapkan setiap hari.
Waktu tidur dan bangun dapat diatur agar relatif konsisten.