Berita
Hilmi An Naufal

JK Soroti Banyak Sarjana Menganggur, Perguruan Tinggi Diminta Tak Sekadar Mengejar Jumlah Lulusan

JK Soroti Banyak Sarjana Menganggur, Perguruan Tinggi Diminta Tak Sekadar Mengejar Jumlah Lulusan

14 September 2026 | 06:30

KEBONCINTA.COM – Persoalan lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan kembali menjadi perhatian. Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Muhammad Jusuf Kalla, mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk meningkatkan kualitas lulusan agar sarjana tidak berakhir menganggur atau bekerja jauh di bawah kompetensi yang dimiliki.

Jusuf Kalla menyampaikan pandangan tersebut di Yogyakarta pada Minggu, 13 September 2026.

Menurutnya, tingginya jumlah sarjana yang belum memperoleh pekerjaan berkaitan dengan ketidakseimbangan antara jumlah lulusan yang masuk ke pasar kerja dan ketersediaan pekerjaan.

Perguruan tinggi setiap tahun menghasilkan lulusan dari berbagai bidang ilmu dalam jumlah besar. Namun, peningkatan jumlah lulusan harus dibarengi dengan kualitas dan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja.

Karena itu, perguruan tinggi dinilai tidak cukup hanya berorientasi pada banyaknya mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan.

Kampus juga perlu memastikan mahasiswa memiliki kemampuan yang dapat digunakan setelah lulus, mulai dari kompetensi teknis, kemampuan komunikasi, kreativitas, penyelesaian masalah hingga kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Jusuf Kalla menyebut terdapat sekitar satu juta sarjana yang dihasilkan setiap tahun, sementara jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia masih terbatas.

Kondisi tersebut menyebabkan persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat.

Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang pada akhirnya menerima pekerjaan yang sebenarnya jauh di bawah potensi maupun bidang keilmuan yang telah dipelajari selama kuliah.

Fenomena tersebut juga berkaitan dengan persoalan yang dikenal sebagai underemployment atau kondisi ketika seseorang memang bekerja, tetapi kemampuan dan tingkat pendidikannya tidak dimanfaatkan secara optimal.

Masalah ini menjadi tantangan besar bagi perguruan tinggi karena keberhasilan pendidikan tinggi semestinya tidak hanya dinilai dari jumlah mahasiswa yang memperoleh ijazah.

Perguruan tinggi juga perlu melihat bagaimana lulusannya dapat berkontribusi setelah meninggalkan kampus.

Hubungan antara kampus dengan dunia usaha dan dunia industri karena itu semakin penting.

Program magang, sertifikasi kompetensi, pembelajaran berbasis proyek, penelitian terapan serta kerja sama langsung dengan perusahaan dapat membantu mahasiswa mengenali kebutuhan dunia kerja sebelum mereka lulus.

Di sisi lain, mahasiswa juga perlu dipersiapkan tidak hanya sebagai pencari kerja.

Perguruan tinggi dapat memperkuat pendidikan kewirausahaan sehingga lulusan memiliki kemampuan menciptakan pekerjaan maupun mengembangkan usaha berdasarkan bidang yang dikuasai.

Perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi dan digitalisasi juga membuat kebutuhan kompetensi di dunia kerja terus berubah.

Bidang pekerjaan yang dibutuhkan perusahaan lima tahun mendatang belum tentu sama dengan kebutuhan saat ini.

Karena itu, kemampuan belajar secara berkelanjutan menjadi salah satu bekal penting bagi mahasiswa.

Kampus perlu memastikan kurikulum dapat mengikuti perubahan tersebut tanpa kehilangan dasar keilmuan.

Sementara pemerintah juga memiliki pekerjaan besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi agar penciptaan lapangan kerja dapat mengimbangi pertumbuhan jumlah lulusan pendidikan tinggi.

Dengan adanya keseimbangan antara peningkatan kualitas lulusan dan penciptaan lapangan kerja, pendidikan tinggi diharapkan benar-benar menjadi sarana meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan masyarakat.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa gelar sarjana bukan tujuan akhir pendidikan tinggi. Kompetensi, kemampuan beradaptasi, karakter dan kemampuan memberikan solusi menjadi faktor yang semakin menentukan ketika lulusan memasuki dunia kerja.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna