KebonCinta.com – Mengajarkan anak buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) secara mandiri merupakan salah satu tahap penting dalam perkembangan kemandirian anak. Proses ini dikenal dengan istilah toilet training atau latihan menggunakan toilet.
Bagi sebagian orang tua, toilet training menjadi tantangan tersendiri. Ada anak yang mulai tertarik menggunakan toilet sejak usia dua tahun, tetapi ada pula yang masih menolak duduk di toilet, meminta tetap memakai popok, atau sering kembali mengompol meskipun sebelumnya sudah mulai mandiri.
Situasi tersebut terkadang membuat orang tua bertanya-tanya, kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk memulai toilet training? Apakah anak harus sudah berusia dua tahun atau perlu menunggu sampai benar-benar mampu meminta izin untuk buang air?
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa tidak ada satu usia yang pasti untuk memulai toilet training. Kesiapan anak perlu dilihat dari kematangan fisik dan psikologis, yang secara umum mulai terlihat sekitar usia 18 bulan hingga 2,5 tahun.
American Academy of Pediatrics (AAP) juga menekankan bahwa keberhasilan toilet training tidak hanya bergantung pada usia, tetapi melibatkan kemampuan fisik, bahasa, kognitif, dan emosional anak.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menjadikan keberhasilan anak lain sebagai ukuran. Ada anak yang cepat memahami penggunaan toilet, sementara anak lainnya membutuhkan waktu dan pendampingan lebih panjang.
Lantas, bagaimana mengenali tanda anak sudah siap menjalani toilet training? Apa saja tahapan yang perlu dilakukan dan bagaimana menghadapi anak yang menolak menggunakan toilet? Berikut panduannya.
Toilet training merupakan proses pembelajaran yang membantu anak mengenali kebutuhan buang air kecil dan besar, kemudian menggunakan toilet atau pispot secara bertahap.
Proses ini bukan hanya tentang menghentikan penggunaan popok. Anak juga perlu mempelajari beberapa keterampilan, seperti mengenali sinyal tubuh, menyampaikan keinginan buang air, melepas pakaian, menggunakan toilet, membersihkan diri, dan mencuci tangan.
IDAI menjelaskan bahwa keberhasilan toilet training diukur dari sejauh mana anak memahami penggunaan toilet untuk BAK dan BAB, bukan dari seberapa cepat anak menguasai seluruh tahapannya.
Artinya, anak tidak harus langsung mampu melakukan semua aktivitas secara mandiri.
Pada awal latihan, orang tua mungkin masih perlu membantu anak melepas celana, duduk dengan aman, membersihkan diri, atau menyiram toilet.
Seiring perkembangan kemampuan motorik dan pemahamannya, bantuan tersebut dapat dikurangi secara bertahap.
Secara umum, kesiapan toilet training mulai terlihat pada usia sekitar 18 bulan hingga 2,5 tahun. Namun, rentang tersebut bukan batas yang wajib dipenuhi oleh semua anak.
AAP menjelaskan bahwa banyak anak mulai menunjukkan kesiapan menggunakan toilet pada usia 18–24 bulan, tetapi sebagian lainnya baru benar-benar siap setelah usia dua tahun.
Hal yang lebih penting adalah memperhatikan tanda kesiapan fisik, kognitif, komunikasi, dan emosional.
Salah satu tanda kesiapan fisik adalah kemampuan menahan BAK dalam waktu tertentu.
Anak mungkin mulai mempunyai popok yang tetap kering selama sekitar dua jam atau lebih ketika terjaga, atau tetap kering setelah tidur siang.
Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa kemampuan mengendalikan kandung kemih mulai berkembang.
Namun, popok kering bukan satu-satunya penentu kesiapan. Orang tua tetap perlu memperhatikan tanda lainnya.
Anak yang mulai siap biasanya menunjukkan respons ketika ingin buang air.
Misalnya, tiba-tiba berhenti bermain, jongkok, mengejan, memegang area popok, atau menunjukkan ekspresi tertentu.
Sebagian anak juga mulai mengatakan bahwa popoknya basah atau kotor setelah BAK dan BAB.
Kemampuan mengenali sinyal tubuh merupakan langkah penting sebelum anak belajar pergi ke toilet tepat waktu.
Toilet training membutuhkan kemampuan memahami arahan.
Anak perlu mengerti instruksi sederhana seperti duduk di pispot, melepas celana, membersihkan diri dengan bantuan, atau mencuci tangan setelah menggunakan toilet.
Jika anak sudah mampu mengikuti beberapa instruksi sederhana, proses pengenalan toilet biasanya dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Kemampuan motorik juga berperan dalam toilet training.
Anak perlu mampu berjalan menuju toilet, duduk dengan stabil, dan berdiri kembali dengan bantuan sesuai kebutuhannya.
Jika menggunakan toilet orang dewasa, orang tua dapat menyediakan dudukan khusus anak dan pijakan kaki agar posisi duduk lebih aman dan nyaman.
Kemampuan mengatur pakaian membantu anak menjalani proses toilet training.
Anak yang sudah mulai mampu menarik celana ke bawah dan menaikkannya kembali akan lebih mudah mengikuti tahapan penggunaan toilet.
Jika belum mampu melakukannya sendiri, orang tua tetap dapat membantu sambil memberikan kesempatan untuk berlatih.
Sebagian anak mulai tertarik ketika melihat orang tua atau anggota keluarga menggunakan kamar mandi.
Anak mungkin ingin mengikuti orang tua, melihat cara menggunakan toilet, atau mencoba duduk di pispot.
Ketertarikan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperkenalkan fungsi toilet dengan cara yang sederhana.
Anak yang sedang berkembang biasanya mulai ingin melakukan berbagai hal sendiri.
Misalnya, ingin memakai sepatu tanpa bantuan, memilih pakaian, makan menggunakan sendok, atau mencoba membuka dan mengenakan celana.
Keinginan untuk melakukan sesuatu secara mandiri dapat menjadi salah satu tanda kesiapan emosional dalam toilet training.
Selain mengenali tanda kesiapan, orang tua juga perlu memahami kondisi ketika anak sebaiknya belum diberikan tuntutan untuk segera menggunakan toilet.
Beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain:
Tanda-tanda tersebut bukan berarti anak mengalami gangguan perkembangan. Bisa jadi anak hanya membutuhkan waktu lebih panjang atau pendekatan yang berbeda.
Jika anak belum siap, orang tua dapat menunda latihan utama dan tetap memperkenalkan toilet melalui kegiatan sederhana tanpa tekanan.
Setelah anak menunjukkan tanda kesiapan, orang tua dapat mulai mengenalkan toilet secara bertahap.
Tidak perlu langsung menghentikan seluruh penggunaan popok. Proses dapat dimulai dengan pengenalan, pembiasaan, dan latihan menggunakan toilet pada siang hari.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir