Parenting
Rahman Abdullah

Kenapa Anak Sulit Sabar? Ini Kebiasaan yang Bisa Membantu Melatih Kontrol Diri

Kenapa Anak Sulit Sabar? Ini Kebiasaan yang Bisa Membantu Melatih Kontrol Diri

27 Agustus 2026 | 20:07

Keboncinta.com-- Pernah melihat anak yang tidak mau menunggu, sering memotong pembicaraan, atau langsung bertindak tanpa memikirkan akibatnya? Perilaku seperti ini kerap dianggap sekadar kenakalan atau sifat anak yang terburu-buru.

Padahal, di balik kebiasaan tersebut bisa terdapat kemampuan kontrol diri yang masih perlu dikembangkan. Anak membutuhkan waktu dan latihan untuk belajar mengendalikan dorongan, menunggu giliran, mempertimbangkan pilihan, serta memahami konsekuensi dari tindakannya.

Kemampuan tersebut tidak muncul secara instan. Sejak bayi dan balita, anak memang masih berada pada tahap awal perkembangan kontrol diri. Seiring bertambahnya usia, kemampuan mengatur emosi dan perilaku diharapkan semakin berkembang, terutama ketika anak mulai memasuki usia sekolah.

Baca Juga: Anak Tiba-Tiba Pendiam? Kenali 6 Tanda Bullying dan Cara Orang Tua Mencegahnya

Kontrol Diri Anak Berkembang Secara Bertahap

Pada usia bayi dan balita, kemampuan anak untuk menahan keinginan memang masih terbatas. Ketika menginginkan sesuatu, anak cenderung ingin mendapatkannya saat itu juga.

Hal ini merupakan bagian dari proses perkembangan. Anak belum sepenuhnya mampu memahami konsep menunggu, mempertimbangkan konsekuensi, atau mengendalikan dorongan seperti orang dewasa.

Seiring bertambahnya usia, anak perlu mendapatkan kesempatan untuk berlatih. Kemampuan kontrol diri yang semakin baik dapat membantu anak berpikir sebelum bertindak, menunggu giliran, mengelola respons emosional, serta mengabaikan gangguan ketika sedang melakukan sesuatu.

Ketika Kontrol Diri Lemah, Anak Bisa Bertindak Tanpa Berpikir

Kontrol diri dapat diibaratkan seperti rem yang membantu seseorang mengendalikan tindakan. Ketika kemampuan tersebut belum berkembang dengan baik, anak mungkin lebih mudah mengikuti dorongan sesaat.

Akibatnya, anak dapat melakukan sesuatu tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan risikonya. Dalam situasi tertentu, perilaku impulsif bahkan dapat membuat anak membahayakan dirinya sendiri atau orang di sekitarnya.

Karena itu, orang tua perlu membantu anak memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Baca Juga: Nasib Mutasi ASN Jadi Perhatian, DPR Usulkan Masa Pengabdian 5 Tahun Sebelum Bisa Mengajukan Pindah

1. Anak Bisa Mengalami Kesulitan dalam Hubungan Sosial

Anak yang kesulitan mengendalikan impuls mungkin lebih sering memotong pembicaraan, sulit menunggu giliran, berbicara tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain, atau langsung bereaksi ketika merasa kesal.

Jika kebiasaan tersebut terus berulang, anak dapat mengalami kesulitan ketika berinteraksi dengan teman.

Bukan berarti anak tersebut tidak dapat memiliki hubungan sosial yang baik. Justru, situasi ini menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan keterampilan sosial secara bertahap, termasuk mendengarkan, menunggu, bergiliran, dan menyampaikan keinginan dengan cara yang tepat.

2. Anak Lebih Sulit Membuat Perencanaan

Kemampuan mengendalikan dorongan juga berkaitan dengan kemampuan berpikir sebelum mengambil tindakan.

Anak yang terbiasa bertindak secara spontan dapat mengalami kesulitan ketika harus memikirkan langkah berikutnya atau menyelesaikan sesuatu secara bertahap.

Padahal, kemampuan merencanakan sangat dibutuhkan ketika anak mulai menghadapi tugas sekolah, kegiatan kelompok, maupun berbagai tanggung jawab sehari-hari.

Karena itu, latihan sederhana seperti membuat urutan kegiatan atau menentukan langkah untuk menyelesaikan sebuah tugas dapat membantu anak belajar berpikir lebih terstruktur.

3. Anak Perlu Dilatih Menunda Keinginan

Salah satu latihan penting dalam membangun kontrol diri adalah belajar menunda keinginan.

Orang tua tidak harus selalu langsung memenuhi permintaan anak. Dalam situasi yang aman dan sesuai usia, anak dapat diajak belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga.

Misalnya, ketika anak meminta sesuatu saat orang tua sedang menyelesaikan pekerjaan, orang tua dapat memberikan penjelasan sederhana mengenai kapan permintaan tersebut dapat dipenuhi.

Latihan seperti ini membantu anak memahami konsep menunggu secara bertahap.

Baca Juga: Pendaftaran BeaZakat 2026 Resmi Dibuka, Kesempatan Raih Beasiswa Penuh untuk Mahasiswa S1 hingga 48 Bulan

4. Berikan Pilihan dan Konsekuensi yang Masuk Akal

Anak juga dapat dilibatkan dalam pengambilan keputusan sederhana.

Berikan dua pilihan yang sama-sama dapat diterima, misalnya memilih pakaian yang akan digunakan atau menentukan buku yang ingin dibaca sebelum tidur.

Cara ini memberi anak kesempatan untuk berpikir dan memilih, bukan sekadar mengikuti dorongan sesaat.

Orang tua juga dapat mengenalkan konsekuensi yang logis dari tindakan anak. Penjelasan sebaiknya disampaikan dengan tenang agar anak memahami hubungan antara pilihan dan akibatnya.

5. Gunakan Permainan untuk Melatih Kesabaran

Melatih kontrol diri tidak harus selalu dilakukan melalui nasihat. Permainan justru dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

Puzzle, permainan papan, permainan yang membutuhkan giliran, hingga aktivitas olahraga dapat membantu anak belajar fokus, mengikuti aturan, menunggu, dan mengendalikan keinginan untuk bertindak secara spontan.

Pilih aktivitas yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak.

Tags:
Pola Asuh Anak Parenting Anak Belajar Sabar

Komentar Pengguna