Berita
Admin

Masuk Kategori Hewan Terancam Punah, Mengapa Populasi Harimau Sumatera Terus Menurun?

Masuk Kategori Hewan Terancam Punah,  Mengapa Populasi Harimau Sumatera Terus Menurun?

23 November 2025 | 20:30

Keboncinta.com-- Harimau Sumatera adalah satu-satunya subspesies harimau yang masih bertahan di Indonesia. Hidupnya tersebar di hutan-hutan Sumatera, mulai dari Aceh hingga Lampung.

Namun, statusnya kini berada dalam titik kritis. Satwa karismatik ini tercatat sebagai spesies critically endangered, tingkatan terancam punah paling tinggi sebelum benar-benar hilang dari alam liar.

Penurunan populasi harimau Sumatera tidak terjadi dalam semalam. Selama puluhan tahun, berbagai faktor terus menekan keberadaannya. Salah satu penyebab terbesar adalah menyusutnya habitat akibat alih fungsi lahan.

Baca Juga: Viral! Isu Kenaikan Gaji Pensiunan PNS 2025, Taspen Beri Klarifikasi Resmi

Ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, serta pembukaan hutan ilegal membuat ruang jelajah harimau semakin sempit.

Harimau adalah predator puncak yang membutuhkan wilayah luas untuk berburu dan berkembang biak. Ketika ruang itu terpotong dan terfragmentasi, konflik dengan manusia pun meningkat.

Selain hilangnya habitat, ancaman lain datang dari perburuan liar. Harimau Sumatera diburu untuk diambil kulit, taring, hingga bagian tubuh lain yang masih diperdagangkan secara ilegal.

Meski penegakan hukum terus diperkuat, permintaan pasar gelap tetap menjadi bahaya laten yang mengancam setiap individu harimau di alam.

Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar: Kesejahteraan Guru Meningkat, PPG Melonjak Hingga 700 Persen

Upaya konservasi berjalan, namun tantangannya tidak kecil. Pemerintah bersama lembaga konservasi, peneliti, dan masyarakat lokal terus melakukan pemantauan populasi, pemasangan kamera jebak, patroli antiperburuan, hingga restorasi hutan.

Program mitigasi konflik manusia–harimau juga dikembangkan, sebab di beberapa daerah, satwa ini sesekali memasuki permukiman atau area ladang masyarakat ketika habitatnya terganggu.

Populasi harimau Sumatera memang sulit dipastikan secara tepat karena sifatnya yang soliter dan penyebarannya yang luas. Namun pemantauan di sejumlah taman nasional menunjukkan bahwa harimau masih bertahan, meski dalam jumlah yang sangat terbatas.

Taman Nasional Gunung Leuser, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan Selatan menjadi benteng terakhir bagi keberlangsungan hidup mereka.

Baca Juga: Bangun Sinergi! Koperasi Perwira Kota bersama SPPG Kebon Cinta Ciwaringin akan Kembangkan Unit Usaha Kuliner Terjangkau

Keberhasilan melindungi kawasan-kawasan ini berbanding lurus dengan nasib harimau Sumatera itu sendiri.

Harimau bukan hanya bagian dari kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga penjaga keseimbangan ekosistem. Menghilangnya harimau dari hutan Sumatera dapat memicu dampak ekologis berantai, mulai dari ledakan populasi mangsa tertentu hingga perubahan struktur hutan.

Karena itu, keberadaan harimau sesungguhnya memberi tanda kesehatan hutan yang menjadi sumber udara bersih, air, dan kehidupan bagi manusia.

Harapan masih ada selama upaya konservasi terus dilakukan dan kesadaran masyarakat meningkat. Harimau Sumatera bisa pulih jika habitatnya dijaga, perburuan benar-benar diberantas, dan restorasi ekosistem berjalan konsisten.

Baca Juga: Bangun Sinergi! Koperasi Perwira Kota bersama SPPG Kebon Cinta Ciwaringin akan Kembangkan Unit Usaha Kuliner Terjangkau

Upaya penyelamatan harimau berarti melakukan juga upaya menyelamatkan hutan. Dan pada akhirnya, itu berarti menyelamatkan masa depan ekosistem alam untuk kelestarian bumi.***

Tags:
berita nasional harimau hewan terancam punah harimau sumatera

Komentar Pengguna