Malam yang sunyi seringkali menghadirkan pertanyaan mendalam yang telah menggema di hati manusia sepanjang zaman: "Jika Allah Maha Adil, mengapa ada yang kaya dan ada yang miskin?" Di satu sisi, kita melihat kemewahan dan kenyamanan; di sisi lain, kita menyaksikan kemiskinan dan kesulitan. Pertanyaan "di mana keadilan Tuhan?" pun muncul dalam benak kita.
Namun, apakah keadilan selalu berarti kesetaraan materi? Jawabannya, tidak. Allah Maha Adil, tetapi keadilan-Nya tidak selalu tampak seragam. Keadilan berarti meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, dan kehidupan ini, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-An'am: 165, "Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu," adalah ujian.
Kekayaan dan kemiskinan bukanlah hadiah atau hukuman, melainkan ujian dalam bentuk yang berbeda. Orang kaya diuji dengan kedermawanan, kesombongan, dan sikapnya terhadap yang kurang beruntung. Orang miskin diuji dengan kesabaran, ketabahan, dan keteguhan tawakalnya kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman! Semua urusannya adalah kebaikan baginya, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya." (HR. Muslim no. 2999).
Timbangan keadilan Allah sangat indah. Kemiskinan bukan berarti kehinaan, dan kekayaan tidak otomatis menjamin kemuliaan. Bahkan, banyak riwayat menyebutkan orang miskin lebih dulu masuk surga. "Orang-orang fakir dari umatku akan masuk surga sebelum orang-orang kaya selama setengah hari, yaitu lima ratus tahun." (HR. Tirmidzi no. 2352, hasan shahih). Hal ini karena mereka tidak dibebani hisab harta yang rumit.
Jangan iri terhadap kekayaan, karena bisa jadi itu justru memperberat hisab.