Keboncinta.com-- Anak yang sulit duduk tenang, tidak bisa fokus, mudah terdistraksi, atau tidak mau menulis terkadang langsung dianggap “nakal” atau “malas”. Padahal, perilaku tersebut bisa menjadi tanda bahwa anak memiliki kebutuhan tertentu yang perlu dipahami oleh orang tua dan guru.
Istilah red flag dalam perkembangan anak merujuk pada tanda yang perlu diperhatikan dan diamati lebih lanjut. Red flag bukan berarti anak pasti mengalami gangguan tertentu, tetapi menjadi pengingat bagi orang dewasa untuk lebih peka terhadap perkembangan anak.
Beberapa perilaku yang perlu diperhatikan antara lain tidak mau duduk tenang, sulit fokus, mudah terdistraksi, tidak mau menulis, sulit mengingat instruksi, sering menabrak atau kurang terkoordinasi, serta sangat sensitif terhadap suara, sentuhan, tekstur, atau rasa tertentu.
Misalnya, anak yang tidak mau menulis belum tentu malas. Aktivitas menulis membutuhkan kemampuan motorik halus dan koordinasi mata serta tangan. Anak dapat dibantu melalui kegiatan seperti menggambar, mewarnai, bermain plastisin, meronce, atau aktivitas lain yang melatih koordinasi tangan.
Begitu pula anak yang sulit fokus atau mudah terdistraksi. Lingkungan yang terlalu ramai dan banyak rangsangan dapat membuat anak kesulitan berkonsentrasi. Orang tua dapat menciptakan suasana yang lebih tenang dan memberikan instruksi secara sederhana serta bertahap.
Sementara itu, anak yang sering menabrak benda atau kurang seimbang dapat membutuhkan lebih banyak aktivitas yang melatih koordinasi tubuh dan kesadaran terhadap ruang. Anak yang sensitif terhadap suara, sentuhan, atau tekstur juga perlu diamati agar orang tua dapat memahami hal-hal yang membuatnya tidak nyaman.
Yang terpenting, jangan terburu-buru memberikan label “nakal”, “malas”, atau “tidak bisa diatur” kepada anak. Setiap anak memiliki proses perkembangan dan kebutuhan yang berbeda.
Jika perilaku tertentu muncul terus-menerus, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membuat orang tua khawatir terhadap perkembangan anak, sebaiknya konsultasikan kepada tenaga profesional yang sesuai.
Memahami perilaku anak bukan berarti membenarkan semua perilakunya. Justru, dengan memahami akar masalah, orang tua dan guru dapat memberikan pendampingan yang lebih tepat, sabar, dan sesuai dengan kebutuhan anak.