Lifestyle
Rahman Abdullah

Minat Baca Indonesia Rendah? Ini Penyebab dan Fakta Ketersediaan Buku

Minat Baca Indonesia Rendah? Ini Penyebab dan Fakta Ketersediaan Buku

19 September 2026 | 23:29

Keboncinta.com – Kebiasaan membaca masyarakat Indonesia kerap menjadi sorotan. Rendahnya aktivitas membaca sering kali dikaitkan dengan semakin populernya media sosial, video pendek, serta berbagai bentuk hiburan digital.

Padahal, anggapan bahwa masyarakat Indonesia semata-mata malas membaca perlu dilihat dari sudut pandang yang lebih luas. Salah satu persoalan yang turut memengaruhi budaya membaca adalah keterbatasan jumlah serta pemerataan buku di berbagai wilayah Indonesia.

Berdasarkan data yang tercantum dalam informasi tersebut, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 270 juta jiwa hanya memiliki sekitar 22.318.083 eksemplar buku. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, rasio ketersediaan buku disebut hanya sekitar 0,09.

Baca Juga: TKA 2026 Semakin Dekat, Siswa SMA Sederajat Perlu Catat Jadwal Ujian dan Urutan Mata Uji Setiap Hari

Persoalan lainnya adalah distribusi buku yang belum merata. Sekitar 90 persen buku disebut terkonsentrasi di Pulau Jawa, sedangkan sisanya tersebar di berbagai wilayah di luar Jawa.

Kondisi tersebut membuat masyarakat di daerah tertentu, khususnya wilayah pelosok, menghadapi tantangan lebih besar untuk mendapatkan bahan bacaan yang beragam. Perpustakaan dengan koleksi lengkap juga lebih banyak ditemukan di kawasan perkotaan sehingga akses masyarakat terhadap buku berkualitas belum sepenuhnya merata.

Ketimpangan Akses Buku Menjadi Tantangan

Keterbatasan jumlah buku dapat membuat satu buku harus digunakan secara bergantian oleh banyak orang. Dalam gambaran sederhana, satu buku seolah harus menunggu giliran untuk dibaca oleh sejumlah pembaca.

Situasi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri apabila ingin meningkatkan budaya membaca. Sebab, minat membaca tidak hanya dipengaruhi oleh kemauan seseorang, tetapi juga oleh kemudahan memperoleh bahan bacaan.

Semakin mudah buku ditemukan di sekolah, perpustakaan, taman baca, maupun lingkungan masyarakat, semakin besar pula peluang seseorang untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan.

Baca Juga: Wajib Dicatat Siswa SMA dan SMK, TKA 2026 Berlangsung Empat Hari dengan Lima Mata Uji

Di sisi lain, perkembangan teknologi sebenarnya memberikan alternatif baru. Buku digital dan perpustakaan daring dapat menjadi salah satu sarana untuk memperluas akses terhadap bacaan, terutama bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan buku fisik.

Membaca Membuka Akses Pengetahuan

Buku bukan hanya sekadar kumpulan halaman yang berisi tulisan. Melalui buku, seseorang dapat memperoleh pengetahuan mengenai berbagai bidang, mulai dari sains, sejarah, budaya, teknologi hingga kehidupan sosial.

Dengan membaca, seseorang juga dapat mengenal berbagai peristiwa yang terjadi di tempat lain tanpa harus datang langsung ke lokasi tersebut. Pengetahuan tentang alam semesta, sejarah peradaban, hingga kehidupan manusia pada masa lalu dapat dipelajari melalui berbagai sumber bacaan.

Karena itu, peningkatan budaya membaca perlu berjalan beriringan dengan upaya memperluas akses masyarakat terhadap buku.

Persoalan literasi di Indonesia pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa sering seseorang membaca, tetapi juga tentang apakah masyarakat memiliki kesempatan yang cukup untuk mendapatkan bahan bacaan yang berkualitas dan sesuai kebutuhan.

Baca Juga: TKA SD 2026 Segera Dipersiapkan, Ini Materi Bahasa Indonesia dan Matematika yang Perlu Dikuasai Siswa Kelas 6

Pemerataan perpustakaan, penguatan taman baca, penyediaan buku di sekolah, serta pemanfaatan sumber bacaan digital dapat menjadi bagian dari upaya memperluas akses tersebut.

Dengan akses yang semakin mudah dan pilihan bacaan yang semakin beragam, budaya membaca diharapkan dapat tumbuh lebih kuat di berbagai lapisan masyarakat.***

Tags:
Budaya Literasi Budaya Membaca Pecinta Buku

Komentar Pengguna