Keboncinta.com-- Bagi sebagian orang, dering telepon mungkin hanyalah tanda bahwa seseorang ingin berbicara. Namun, bagi banyak Gen Z, panggilan suara yang tiba-tiba justru bisa memunculkan rasa cemas. Tidak sedikit yang memilih membiarkan telepon berdering, lalu membalasnya melalui pesan singkat dengan kalimat, “Ada apa?” atau “Chat aja ya.” Fenomena ini semakin sering ditemui di tengah kehidupan yang hampir seluruh komunikasinya berlangsung melalui aplikasi pesan instan. Bahkan, bagi sebagian anak muda, menerima panggilan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu terasa seperti sesuatu yang mengganggu.
Kebiasaan tersebut tidak muncul begitu saja. Generasi yang tumbuh bersama internet terbiasa dengan komunikasi yang memberi waktu untuk berpikir sebelum merespons. Melalui pesan teks, seseorang dapat menyusun kata-kata, menghapus kalimat yang dirasa kurang tepat, lalu mengirimkan jawaban yang dianggap paling aman. Sebaliknya, panggilan suara menuntut respons secara langsung. Tidak ada kesempatan untuk memikirkan jawaban terlalu lama atau mengedit ucapan yang sudah terlanjur keluar. Di sinilah banyak orang merasa tidak nyaman. Mereka khawatir salah bicara, tidak mampu menjaga percakapan, atau tidak tahu harus merespons apa saat pembicaraan berlangsung.
Di sisi lain, fenomena ini menunjukkan perubahan cara manusia membangun hubungan sosial. Kemudahan teknologi memang membuat komunikasi menjadi lebih cepat, tetapi sekaligus mengurangi kesempatan untuk berlatih berinteraksi secara spontan. Ketika sebagian besar percakapan dilakukan melalui teks, kemampuan menghadapi percakapan langsung perlahan menjadi sesuatu yang jarang digunakan.