Keboncinta.com-- Di usia ketika media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, kabar keberhasilan orang lain datang hampir tanpa jeda. Ada teman yang diterima bekerja di tempat impiannya, ada yang melanjutkan studi ke luar kota, ada yang membuka usaha sendiri, dan ada pula yang perlahan mencapai berbagai target hidup yang selama ini diinginkan. Di satu sisi, kita ikut senang melihat pencapaian mereka. Namun di sisi lain, terkadang muncul perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Bukan karena tidak menyukai mereka, melainkan karena keberhasilan itu membuat kita diam-diam mempertanyakan posisi diri sendiri.
Perasaan tersebut sebenarnya cukup manusiawi. Sejak kecil, banyak orang tumbuh dalam lingkungan yang tanpa sadar membiasakan perbandingan. Nilai sekolah dibandingkan, prestasi dibandingkan, bahkan pilihan hidup sering kali diukur dengan standar yang sama. Ketika dewasa, kebiasaan itu tidak serta-merta hilang. Hanya bentuknya yang berubah. Kita mulai membandingkan karier, penghasilan, pencapaian, hingga perjalanan hidup. Akibatnya, keberhasilan orang lain terkadang tidak hanya dilihat sebagai kabar baik, tetapi juga sebagai pengingat tentang target pribadi yang belum tercapai. Inilah yang membuat rasa tidak nyaman sering muncul, bahkan ketika kita sebenarnya ingin memberikan dukungan yang tulus.
Perasaan tersebut sering kali lebih berkaitan dengan diri sendiri daripada dengan orang yang sedang berhasil. Ketika seseorang merasa cukup dengan proses hidupnya, keberhasilan orang lain biasanya lebih mudah dirayakan. Sebaliknya, saat sedang dipenuhi keraguan atau tekanan, pencapaian orang lain dapat terasa seperti cermin yang memperlihatkan berbagai kekhawatiran yang selama ini disimpan. Padahal, setiap orang menjalani kondisi yang berbeda. Ada yang mendapatkan kesempatan lebih cepat, ada yang harus melalui jalan yang lebih panjang. Sayangnya, media sosial sering hanya menampilkan hasil akhir tanpa memperlihatkan perjuangan, kegagalan, dan waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke titik tersebut.