Pentingnya Sanad Ilmu: Kenapa Belajar Agama Gak Bisa Cuma Lewat Potongan Video TikTok

Pentingnya Sanad Ilmu: Kenapa Belajar Agama Gak Bisa Cuma Lewat Potongan Video TikTok

20 Februari 2026 | 22:17

keboncinta.com--  Di era digital yang serba cepat, agama sering kali disajikan dalam kemasan instan yang menggoda melalui algoritma media sosial. Kita bisa dengan mudah menemukan potongan video berdurasi tiga puluh detik yang menjanjikan kunci surga atau fatwa hukum hanya dengan sekali usap di layar ponsel. Namun, dalam tradisi intelektual Islam, ilmu bukan sekadar komoditas informasi yang bisa dipungut secara acak tanpa asal-usul yang jelas. Di sinilah konsep sanad atau rantai transmisi ilmu menjadi sangat krusial sebagai penjaga kemurnian ajaran. Sanad bukan hanya daftar nama guru, melainkan sebuah jaminan bahwa pemahaman yang kita miliki saat ini tersambung secara valid, guru demi guru, hingga bermuara pada sumber aslinya. Belajar agama tanpa sanad ibarat mendaki gunung tanpa peta dan pemandu; kita mungkin merasa sedang berjalan ke atas, padahal bisa jadi kita sedang tersesat di tebing yang curam.

Masalah utama dari belajar agama hanya melalui potongan video TikTok atau kutipan singkat di media sosial adalah hilangnya konteks atau siyaq. Sebuah narasi keagamaan sering kali memiliki latar belakang sejarah, sebab turunnya ayat, atau alasan munculnya hadis yang sangat kompleks. Ketika sebuah penjelasan panjang dipangkas demi kepentingan durasi dan viralitas, maknanya bisa bergeser secara drastis, bahkan berisiko menimbulkan kesalahpahaman yang fatal. Tanpa bimbingan guru yang memiliki sanad, seorang penuntut ilmu sering kali tidak mampu membedakan mana perkara yang bersifat prinsipil dan mana yang bersifat cabang. Hal ini sering kali berujung pada munculnya sikap merasa paling benar sendiri hanya karena telah menonton satu video singkat, tanpa menyadari adanya samudra ilmu yang belum tersentuh di baliknya.

Selain itu, belajar secara langsung kepada guru yang bersanad mengandung dimensi keberkahan dan transfer adab yang tidak bisa digantikan oleh layar digital. Dalam majelis ilmu, seorang murid tidak hanya menyerap teks, tetapi juga melihat bagaimana gurunya bersikap, cara gurunya menghadapi perbedaan pendapat, dan kelembutan hatinya dalam berdakwah. Ada sebuah peringatan bijak dalam tradisi ulama yang menyebutkan bahwa barangsiapa yang belajar tanpa guru, maka gurunya adalah egonya sendiri. Sanad adalah mekanisme filtrasi yang memastikan bahwa agama tidak menjadi mainan bagi mereka yang hanya modal retorika namun kosong dari metodologi yang sahih. Guru yang bersanad akan meluruskan logika yang bengkok dan menenangkan hati yang terlalu menggebu-gebu.

Media sosial tentu bisa menjadi pintu gerbang yang baik untuk memantik rasa ingin tahu, namun ia tidak boleh menjadi terminal akhir dari pencarian ilmu. Kita boleh saja terinspirasi oleh konten singkat yang lewat di linimasa, tetapi untuk membangun fondasi iman yang kokoh, kita tetap harus kembali duduk bersimpuh di hadapan para guru dan menelaah kitab-kitab otoritatif. Menghidupkan kembali tradisi bersanad di tengah gempuran tren digital adalah bentuk perjuangan kita untuk menjaga kewarasan berpikir dan keselamatan hati. Pada akhirnya, agama adalah jalan keselamatan yang memerlukan tuntunan nyata, bukan sekadar hiburan visual yang hilang hanya dalam sekali kedipan mata setelah kita menggeser layar ke video berikutnya.

Tags:
Khazanah Belajar Islam Sanad Ilmu

Komentar Pengguna