Keboncinta.com-- Membeli mobil listrik bukan hanya soal mendapatkan kendaraan yang nyaman dan hemat digunakan sehari-hari. Bagi sebagian konsumen, ada pertimbangan lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana nilai mobil tersebut ketika suatu saat ingin dijual kembali. Inilah yang membuat resale value atau nilai jual kembali mulai menjadi perhatian saat memilih EV.
Semakin banyak model baru yang masuk berarti konsumen memiliki lebih banyak pilihan, tetapi persaingan antarproduk juga semakin ketat.
Karena itu, asal kendaraan bisa menjadi salah satu pertimbangan ketika memperkirakan resale value. Namun, bukan berarti EV lokal otomatis lebih tinggi daripada CBU. Ada beberapa faktor lain yang justru lebih menentukan.
1. EV Lokal Punya Keuntungan dari Ekosistem
Mobil yang diproduksi atau dirakit di Indonesia berpotensi memiliki dukungan purnajual yang lebih mudah dijangkau. Ketersediaan bengkel, suku cadang, serta teknisi yang memahami model tersebut dapat membuat calon pembeli mobil bekas merasa lebih aman.
2. CBU Bisa Unggul karena Model dan Teknologi
EV CBU dapat memiliki daya tarik tersendiri, terutama jika membawa teknologi, desain, atau fitur yang dianggap menarik oleh pasar. Jika sebuah model memiliki popularitas tinggi dan jaringan layanan yang kuat, status CBU tidak otomatis membuat resale value-nya rendah.
3. Kondisi Mobil Tetap Menjadi Penentu
Resale value juga sangat dipengaruhi kondisi baterai, usia kendaraan, jarak tempuh, riwayat perawatan, harga mobil baru, dan permintaan pasar. GAIKINDO mencatat BEV secara umum mengalami depresiasi lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional dan hybrid, sehingga pemilihan model perlu dilakukan lebih hati-hati.
Perbedaan EV lokal dan CBU memang penting, tetapi tidak cukup dijadikan satu-satunya patokan. Mobil lokal memiliki keunggulan dari sisi ekosistem, sedangkan CBU bisa menarik jika modelnya kuat dan diterima pasar.