Sejarah
Admin

Pertempuran 10 November: Api Perlawanan Rakyat Surabaya yang Menggetarkan Dunia Internasional

Pertempuran 10 November: Api Perlawanan Rakyat Surabaya yang Menggetarkan Dunia Internasional

10 November 2025 | 10:26

Keboncinta.com-- Tanggal 10 November tercatat sebagai salah satu hari paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Pertempuran 10 November di Surabaya bukan sekadar peristiwa peperangan, tetapi simbol dari semangat juang, keberanian, dan pengorbanan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

Pertempuran ini menjadi titik balik dalam revolusi kemerdekaan Indonesia dan menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia tidak akan tunduk pada kekuasaan asing mana pun yang ingin menjajah kembali tanah air.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris mendarat di Surabaya dengan dalih melucuti tentara Jepang.

Baca Juga: Makna Hari Pahlawan: Saatnya Generasi Muda Menyalakan Semangat Juang di Era Modern

Namun, kehadiran mereka justru membawa pasukan Belanda (NICA) yang berniat memulihkan kekuasaan kolonial.

Ketegangan meningkat setelah insiden di Hotel Yamato pada 19 September 1945, ketika rakyat Surabaya menurunkan bendera Belanda yang dikibarkan dan menggantinya dengan Merah Putih.

Aksi heroik itu menandai awal perlawanan rakyat Surabaya terhadap upaya penjajahan yang akan kembali dilakukan kaum kolonial.

Situasi semakin memanas setelah Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan pasukan Inggris di Surabaya, tewas dalam bentrokan pada 30 Oktober 1945.

Inggris pun mengeluarkan ultimatum agar seluruh senjata rakyat diserahkan paling lambat 9 November 1945. Namun rakyat Surabaya menolak mentah-mentah.

Baca Juga: Kemenag Kirim 20 Dai dan Daiyah ke Abu Dhabi untuk Perkuat Dakwah Moderat Global

Pada dini hari 10 November 1945, pasukan Inggris melancarkan serangan besar-besaran ke Surabaya. Ribuan peluru meriam dan bom menghujani kota pahlawan itu. Namun, rakyat Surabaya tidak gentar.

Dengan senjata seadanya, berupa bambu runcing, senapan rampasan, dan semangat yang membara — rakyat, pemuda, santri, dan pejuang dari berbagai daerah bahu-membahu melawan pasukan bersenjata lengkap.

Seruan takbir dan pekik semangat dari Bung Tomo menggema di udara:

“Allahu Akbar! Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga!”

Baca Juga: Kehancuran Kekaisaran Rusia dan Akhir Tragis Keluarga Romanov di Tangan Kaum Bolshevik

Pertempuran berlangsung dahsyat selama lebih dari tiga minggu. Meskipun banyak korban berjatuhan, semangat juang rakyat Surabaya tidak pernah padam.

Pertempuran 10 November 1945 menelan ribuan korban jiwa. Diperkirakan lebih dari 20.000 pejuang dan warga sipil gugur, sementara dari pihak Inggris sekitar 2.000 tentara tewas.

Surabaya hancur lebur, namun semangat perlawanan rakyat justru membara lebih kuat.

Darah para pahlawan yang gugur di medan perang menjadi tinta merah sejarah Indonesia. Mereka berkorban bukan demi kekuasaan, tetapi demi tegaknya harga diri dan kemerdekaan bangsa.

Pertempuran 10 November menjadi simbol keteguhan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Pahlawan Nasional untuk mengenang jasa dan pengorbanan mereka.

Baca Juga: Indra Sjafri Panggil 30 Pemain Timnas U-23 untuk Uji Coba Kontra Mali, Persiapan Menuju SEA Games 2025

Makna dari pertempuran ini tidak hanya tentang perlawanan fisik, tetapi juga tentang cinta tanah air, persatuan, dan keberanian menghadapi ketidakadilan. Nilai-nilai itu harus terus dihidupkan di era modern sebagai bentuk kepahlawanan masa kini.

80 tahun berlalu, gema semangat Surabaya masih terdengar di setiap langkah bangsa Indonesia. Pertempuran 10 November mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan dan pengorbanan.

Selanjutnya, tugas generasi hari ini bukan lagi mengangkat senjata, tetapi mengisi kemerdekaan dengan ilmu, kerja keras, dan persatuan untuk kemajuan bangsa dan negara kita tercinta.***

Tags:
Sejarah Sejarah Indonesia Hari pahlawan nasional 10 november

Komentar Pengguna