Berita
Hilmi An Naufal

PISA 2025 Ungkap 24 Persen Siswa Indonesia Alami Perundungan, Lebih Tinggi dari Rata-Rata OECD

PISA 2025 Ungkap 24 Persen Siswa Indonesia Alami Perundungan, Lebih Tinggi dari Rata-Rata OECD

14 September 2026 | 06:32

KEBONCINTA.COM – Persoalan perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan Indonesia kembali menjadi perhatian serius setelah hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan.

Sebanyak 24 persen siswa Indonesia yang mengikuti PISA 2025 mengaku mengalami setidaknya satu bentuk perundungan beberapa kali dalam satu bulan.

Angka tersebut berada di atas rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD yang tercatat sekitar 20 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya dilakukan melalui perbaikan kurikulum, fasilitas sekolah maupun kemampuan akademik siswa.

Keamanan dan kenyamanan peserta didik selama berada di lingkungan pendidikan juga menjadi faktor penting yang memengaruhi keberhasilan proses belajar.

PISA 2025 melibatkan sekitar 760 ribu siswa dari 91 negara dan wilayah ekonomi.

Dari Indonesia, sebanyak 14.168 siswa dari 419 sekolah mengikuti asesmen tersebut.

Selain mengukur kemampuan akademik dalam bidang membaca, matematika dan sains, PISA juga mengumpulkan informasi mengenai berbagai kondisi yang dialami peserta didik, termasuk pengalaman mereka di lingkungan sekolah.

Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah perundungan siber.

Sebanyak 7 persen siswa Indonesia mengaku informasi yang menyakitkan mengenai diri mereka pernah disebarkan melalui internet tanpa persetujuan setidaknya beberapa kali dalam satu bulan selama periode 12 bulan sebelum pelaksanaan PISA.

Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata OECD yang berada pada kisaran 3 persen.

Perundungan siber mungkin terlihat berbeda dari kekerasan fisik di lingkungan sekolah. Namun dampaknya terhadap peserta didik tidak dapat dianggap ringan.

Data PISA menunjukkan siswa yang mengalami bentuk perundungan tersebut memperoleh skor sains rata-rata sekitar 18 poin lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak mengalami pengalaman serupa.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bullying tidak hanya berdampak terhadap kesehatan psikologis dan kenyamanan anak.

Perundungan juga dapat berhubungan dengan kemampuan siswa berkonsentrasi serta mencapai hasil belajar yang optimal.

Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai temuan tersebut harus menjadi alarm bagi seluruh satuan pendidikan.

Kepala Bidang Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri, menekankan bahwa lingkungan belajar yang aman merupakan salah satu unsur penting dalam mewujudkan pendidikan berkualitas.

Sekolah tidak dapat berharap memperoleh hasil pembelajaran terbaik apabila peserta didik masih menghadapi kekerasan, intimidasi ataupun rasa tidak aman.

Menurut P2G, upaya menciptakan lingkungan pendidikan bebas kekerasan membutuhkan keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dinas pendidikan, sekolah, madrasah, guru hingga orang tua.

Penanganan juga tidak cukup hanya dilakukan setelah kasus perundungan terjadi.

Sekolah perlu memiliki sistem pencegahan, mekanisme pelaporan yang mudah digunakan anak, perlindungan bagi korban serta tindak lanjut yang jelas ketika kasus ditemukan.

Guru dan tenaga kependidikan memiliki posisi penting karena mereka berada paling dekat dengan aktivitas siswa sehari-hari.

Perubahan perilaku, menurunnya prestasi, keengganan pergi ke sekolah atau kecenderungan siswa mengisolasi diri dapat menjadi tanda yang membutuhkan perhatian.

Di sisi lain, literasi digital juga semakin penting.

Interaksi peserta didik saat ini tidak berhenti ketika mereka pulang dari sekolah. Media sosial, aplikasi percakapan dan berbagai platform digital membuat perundungan dapat terus berlangsung di luar jam belajar.

Karena itu, edukasi mengenai etika digital, privasi serta dampak menyebarkan informasi mengenai orang lain perlu diperkuat sejak dini.

Orang tua juga perlu membangun komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk menceritakan pengalaman yang dialami.

Tidak semua korban bullying berani langsung melapor karena sebagian merasa takut, malu atau khawatir masalahnya justru semakin besar.

Hasil PISA 2025 menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan Indonesia perlu dilihat secara lebih luas.

Prestasi akademik memang penting, tetapi sekolah juga harus mampu menjadi tempat yang memberikan rasa aman dan menghargai setiap peserta didik.

Ketika siswa merasa terlindungi, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar, berkembang dan mencapai potensi terbaiknya.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna