Beasiswa
Hilmi An Naufal

Rektor UMY Dorong Dosen Tingkatkan Kompetensi, AI Ubah Kebutuhan Dunia Kerja

Rektor UMY Dorong Dosen Tingkatkan Kompetensi, AI Ubah Kebutuhan Dunia Kerja

21 Agustus 2026 | 08:37

KEBONCINTA.COM — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence dinilai telah mengubah kebutuhan dunia kerja sekaligus pola pembelajaran di perguruan tinggi.

Menghadapi perubahan tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., mendorong para dosen untuk terus meningkatkan kompetensi dan memperbarui pengetahuan.

Upaya peningkatan kompetensi diperlukan agar materi, metode pembelajaran, dan keterampilan yang diberikan kepada mahasiswa tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan industri.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Baitul Arqam Dosen Tetap UMY 2026 yang diselenggarakan pada 19–20 Agustus 2026 di UMY Student Dormitory.

Kompetensi Dosen Berisiko Tidak Relevan

Achmad Nurmandi menilai dosen tidak dapat hanya mengandalkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya.

Perubahan teknologi berlangsung cepat, sedangkan kebutuhan industri dan karakter mahasiswa juga terus berkembang. Apabila dosen tidak mengikuti perubahan tersebut, kompetensi dan proses pembelajaran berisiko tidak lagi sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Karena itu, dosen didorong melakukan upskilling atau peningkatan kemampuan secara berkelanjutan.

Peningkatan kompetensi dapat dilakukan melalui pelatihan, penelitian, penguasaan perangkat digital, kolaborasi dengan industri, serta pembaruan metode pembelajaran.

Penguasaan AI tidak berarti seluruh proses mengajar harus diserahkan kepada teknologi. Dosen tetap memiliki peran penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis, analisis, kreativitas, dan karakter mahasiswa.

Kurikulum Perlu Dievaluasi Secara Berkala

Perkembangan AI telah mengubah cara perusahaan menjalankan pekerjaan. Sejumlah tugas mulai dibantu atau diotomatisasi dengan teknologi sehingga jenis keterampilan yang dibutuhkan pekerja ikut berubah.

Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi perlu mengevaluasi kurikulum secara berkala.

UMY menilai kurikulum tidak dapat diperlakukan sebagai dokumen yang permanen. Materi pembelajaran harus diperiksa dan disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan dunia kerja.

Evaluasi kurikulum juga diperlukan untuk memastikan mahasiswa tidak hanya mampu menggunakan perangkat AI, tetapi tetap memiliki kemampuan berpikir dan menganalisis persoalan secara mandiri.

Apabila pembelajaran hanya berfokus pada penggunaan teknologi tanpa memperkuat pemahaman dasar, mahasiswa dapat mengalami kesulitan saat harus memeriksa kebenaran informasi atau menyelesaikan persoalan yang tidak dapat ditangani sistem otomatis.

Sekitar 20 Persen Alumni Belum Bekerja

Dorongan untuk memperkuat kompetensi lulusan turut didasarkan pada hasil survei alumni UMY dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Achmad Nurmandi, tren alumni UMY yang belum bekerja berada pada kisaran 20 persen. Data tersebut menjadi bahan evaluasi bagi perguruan tinggi dalam melihat kesesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan pasar kerja.

Angka itu merupakan hasil survei internal terhadap alumni UMY, bukan gambaran tingkat pengangguran seluruh lulusan perguruan tinggi di Indonesia.

Kampus perlu menelusuri lebih lanjut faktor yang membuat sebagian lulusan belum memperoleh pekerjaan, termasuk kesesuaian keterampilan, pengalaman praktis, kemampuan komunikasi, dan perubahan permintaan tenaga kerja.

Lulusan Teknik Perlu Kemampuan Komunikasi

Rektor UMY menjelaskan bahwa lulusan bidang teknik tidak cukup hanya menguasai keterampilan teknis.

Masukan dari pengguna lulusan menunjukkan kemampuan berkomunikasi, melakukan presentasi, dan menyampaikan gagasan juga dibutuhkan di lingkungan kerja.

Kemampuan tersebut diperlukan karena seorang tenaga profesional tidak hanya bertugas menyelesaikan persoalan teknis. Mereka juga harus mampu bekerja dalam tim, menjelaskan hasil pekerjaan, dan berkomunikasi dengan pihak yang memiliki latar belakang berbeda.

Sebaliknya, mahasiswa dari bidang sosial perlu dibekali keterampilan teknis yang lebih spesifik. Kombinasi pemahaman sosial dan kemampuan teknis dapat membantu lulusan menghadapi pekerjaan yang semakin dipengaruhi data dan teknologi.

Mahasiswa Perlu Mendapatkan Pengalaman Praktis

Selain mengikuti pembelajaran di kelas, mahasiswa perlu mendapatkan kesempatan mengembangkan keterampilan praktis.

Pengalaman tersebut dapat diperoleh melalui magang, proyek kolaboratif, penelitian, kegiatan organisasi, kompetisi, pelatihan, maupun kerja sama dengan dunia industri.

Pembelajaran praktis membantu mahasiswa memahami penerapan ilmu sekaligus mengenali kebutuhan dunia kerja sebelum menyelesaikan pendidikan.

Pada jenjang Sarjana, perguruan tinggi juga perlu memastikan mahasiswa memperoleh bekal yang cukup untuk memasuki pasar kerja atau mengembangkan usaha secara mandiri.

AI Harus Mendukung Kemampuan Berpikir

Penggunaan AI dalam pendidikan perlu diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan menggantikan proses berpikir mahasiswa.

Teknologi dapat membantu mencari gagasan awal, mengolah data, menyusun simulasi, atau memberikan umpan balik. Namun, mahasiswa tetap harus mampu memeriksa hasilnya dan mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil.

Dosen berperan dalam merancang tugas dan asesmen yang dapat membuktikan bahwa mahasiswa benar-benar menguasai kompetensi yang ditargetkan.

Penggunaan AI juga harus memperhatikan kejujuran akademik, keamanan data, ketepatan informasi, dan penghargaan terhadap hak cipta.

Perguruan Tinggi Dituntut Cepat Beradaptasi

Perubahan AI dan dunia kerja menjadi tantangan bagi perguruan tinggi untuk bergerak lebih cepat.

Pembaruan kurikulum perlu disertai peningkatan kompetensi dosen, penguatan fasilitas pembelajaran, serta kerja sama dengan berbagai sektor.

Dosen yang terus belajar diharapkan mampu menghasilkan proses pembelajaran yang lebih relevan. Pada akhirnya, mahasiswa dapat memperoleh kemampuan akademik, teknis, komunikasi, dan analisis yang dibutuhkan untuk bersaing di pasar kerja.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna