"Revenge Bedtime Procrastination": Balas Dendam Begadang Karena Merasa Kehilangan Kendali Waktu di Siang Hari

"Revenge Bedtime Procrastination": Balas Dendam Begadang Karena Merasa Kehilangan Kendali Waktu di Siang Hari

28 Februari 2026 | 22:11

keboncinta.com--  Pernahkah Anda merasa sangat lelah setelah seharian bekerja, namun ketika malam tiba dan saatnya memejamkan mata, Anda justru asyik menggulir layar ponsel hingga dini hari meskipun tahu besok pagi akan merasa lemas? Fenomena ini dikenal sebagai Revenge Bedtime Procrastination, sebuah istilah psikologis yang menggambarkan perilaku seseorang yang sengaja menunda waktu tidur untuk melakukan aktivitas hiburan demi mendapatkan kembali rasa kendali atas waktu mereka. Istilah "balas dendam" di sini merujuk pada upaya seseorang untuk mencuri kembali waktu personal yang hilang selama siang hari akibat tuntutan pekerjaan, tugas domestik, atau tekanan sosial yang menyesakkan. Bagi banyak pekerja urban di tahun 2026 ini, malam hari adalah satu-satunya momen di mana mereka tidak memiliki atasan untuk dipatuhi, target untuk dicapai, atau ekspektasi orang lain untuk dipenuhi, sehingga mereka rela mengorbankan waktu istirahat demi secercah kebebasan semu di dunia digital.

Penyebab utama dari perilaku ini sering kali berakar pada tingginya tingkat stres dan kurangnya keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi atau work-life balance. Ketika seseorang merasa jadwal harian mereka sepenuhnya dikendalikan oleh faktor eksternal, mereka mengalami kelaparan otonomi yang akut. Menonton serial secara maraton atau sekadar melihat video pendek di media sosial saat tengah malam menjadi bentuk kompensasi psikologis untuk menyeimbangkan perasaan tidak berdaya tersebut. Masalahnya, meskipun memberikan kepuasan instan dan rasa memiliki waktu sendiri, kebiasaan ini menciptakan lingkaran setan yang berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental. Kekurangan tidur yang kronis akibat balas dendam waktu ini justru akan menurunkan produktivitas dan kemampuan regulasi emosi di keesokan harinya, yang kemudian memicu stres lebih tinggi dan keinginan untuk kembali begadang di malam berikutnya.

Secara neurologis, Revenge Bedtime Procrastination juga berkaitan erat dengan kegagalan kontrol diri atau self-regulation. Di akhir hari yang panjang, energi mental kita untuk membuat keputusan yang benar—seperti memilih tidur tepat waktu—sudah terkuras habis, sehingga kita jauh lebih mudah menyerah pada godaan algoritma aplikasi yang memang dirancang untuk menahan perhatian kita selama mungkin. Kita terjebak dalam delusi bahwa jam-jam tambahan di malam hari tersebut adalah waktu berkualitas, padahal tubuh kita sedang meneriakkan kebutuhan akan regenerasi sel dan pembersihan racun di otak melalui tidur yang cukup. Ironisnya, aktivitas yang kita pilih saat begadang sering kali bersifat pasif dan tidak benar-benar memberikan restorasi mental yang sebenarnya dibutuhkan untuk memulihkan energi yang hilang selama siang hari.

Untuk memutus siklus ini, kita perlu menyadari bahwa kesehatan tidur adalah bentuk tertinggi dari kasih sayang pada diri sendiri, bukan beban yang harus dikurangi demi hiburan. Menciptakan batasan yang tegas antara waktu kerja dan waktu pribadi di siang hari, serta membangun ritual malam yang menenangkan tanpa gangguan layar ponsel, adalah langkah awal yang sangat krusial. Kita harus belajar untuk memberikan "hadiah" waktu bagi diri sendiri di waktu yang tepat, bukan dengan cara mencurinya dari jam tidur yang sangat berharga. Jika kita mampu mengelola stres dan waktu secara lebih sadar sejak pagi hari, keinginan untuk melakukan balas dendam di malam hari akan berkurang secara alami. Tidur yang berkualitas bukan hanya tentang mengistirahatkan tubuh, tetapi tentang memastikan bahwa kita memiliki kejernihan mental untuk mengendalikan hidup kita sepenuhnya di hari esok tanpa harus merasa berutang pada waktu malam.

Tags:
Kesehatan Mental Lifestyle Work Life Balance Revenge Bedtime Procrastination

Komentar Pengguna