Keboncinta.com-- Fenomena meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di berbagai perairan Indonesia kembali menjadi sorotan setelah temuan terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional mengungkap potensi bahaya tersembunyi di balik keberadaannya.
Ikan yang selama ini dikenal mampu bertahan di lingkungan tercemar ternyata menyimpan risiko serius akibat akumulasi logam berat dalam tubuhnya.
Dalam hasil penelitian tersebut, terungkap bahwa ikan sapu-sapu memiliki kemampuan menyerap logam berat dari lingkungan air yang tercemar, namun tidak mampu mengeluarkannya kembali secara alami.
Baca Juga: Nasib Guru Non-PNS Disorot, RUU Sisdiknas Diharapkan Hapus Ketimpangan
Akibatnya, zat berbahaya tersebut terus menumpuk seiring waktu dan menjadikan ikan ini sebagai “penyimpan” polutan dalam ekosistem perairan.
Ikan sapu-sapu sendiri tergolong spesies invasif yang sangat adaptif. Ia kerap ditemukan di sungai-sungai perkotaan dengan kualitas air yang rendah.
Kemampuan bertahan hidup di kondisi ekstrem ini memang membuatnya terlihat kuat, tetapi justru menjadi indikator bahwa perairan tersebut telah tercemar cukup parah.
Masalahnya tidak berhenti pada ikan itu saja. Akumulasi logam berat dalam tubuh ikan sapu-sapu berpotensi masuk ke dalam rantai makanan.
Baca Juga: Solusi Anggaran Pendidikan 2026, Pemerintah Beri Relaksasi Honor PPPK Paruh Waktu
Ketika ikan ini dikonsumsi oleh manusia atau hewan lain, zat berbahaya tersebut ikut berpindah dan dapat memicu gangguan kesehatan dalam jangka panjang.
Hal ini menjadi perhatian penting, terutama karena masih ada masyarakat yang memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai sumber pangan alternatif.
Selain berdampak pada kesehatan, keberadaan ikan sapu-sapu juga mengganggu keseimbangan ekosistem. Sebagai spesies invasif, ikan ini cenderung mendominasi habitat dan menekan populasi ikan lokal.
Kondisi ini memperburuk kualitas keanekaragaman hayati di perairan yang sudah tertekan oleh pencemaran.
Baca Juga: Hasil TKA SD 2026 Segera Diumumkan, Ini Jadwal Resmi, Cara Cek Online, dan Maknanya bagi Siswa
Temuan dari BRIN ini sekaligus menegaskan bahwa pencemaran lingkungan memiliki dampak yang kompleks dan berlapis. Tidak hanya merusak kualitas air, tetapi juga menciptakan siklus bahaya yang dapat menyebar melalui rantai makanan.
Oleh karena itu, pengendalian pencemaran air menjadi langkah utama yang harus segera diperkuat. Tanpa upaya perbaikan lingkungan secara menyeluruh, keberadaan ikan sapu-sapu akan terus menjadi simbol sekaligus sumber risiko dari masalah pencemaran yang belum terselesaikan.
Kesadaran masyarakat dan kebijakan yang tepat menjadi kunci untuk memutus rantai dampak ini. Dengan pengelolaan lingkungan yang lebih baik, risiko terhadap kesehatan manusia dan keberlanjutan ekosistem dapat ditekan secara signifikan.***