Khazanah
Tegar Bagus Pribadi

Ribut Soal Sunnah di Medsos, Tapi Ketemu Tetangga Gak Mau Senyum

Ribut Soal Sunnah di Medsos, Tapi Ketemu Tetangga Gak Mau Senyum

27 Juni 2026 | 13:44

keboncinta.com--  Lanskap digitalitas keagamaan hari ini tengah mengalami anomali perilaku yang sangat akut seiring dengan masifnya migrasi ruang diskusi publik ke platform media sosial. Alih-alih bertransmisi menjadi media penyebaran syiar yang menyejukkan, linimasa jagat maya justru kerap bertransformasi menjadi ring tinju teologis, tempat di mana netizen muslim saling serang, berdebat kusut secara ugal-ugalan, dan membongkar aib sesama demi mempertahankan ego kebenaran kelompok. Banyak akun-akun hijrah harian yang begitu agresif dan vokal mengampanyekan penegakan sunnah-sunnah nabi dalam aspek visual formal, namun terjebak dalam disonansi kognitif-spiritual yang mengerikan saat kembali ke dunia nyata. Fenomena ironis ini melahirkan potret beragama yang timpang; seseorang bisa sangat garang mengetik puluhan baris dalil tentang pemurnian ibadah di kolom komentar aplikasi gawai, tetapi di lingkungan domestik tempat tinggalnya sendiri, egonya mendadak kaku, wajahnya muram, dan dia enggan sekadar melempar senyuman atau menyapa tetangga yang berpapasan di gang rumah. Salah kaprah massal ini membuktikan adanya patofisiologi spiritual yang serius, di mana sunnah nabi dipahami secara parsial sebatas urusan aksesoris lahiriah semata, sementara esensi akhlak sosial yang menjadi inti dari misi kenabian justru diabaikan secara sadar. Padahal, sains perilaku Islam menegaskan bahwa kesalehan digital yang tidak linear dengan kesalehan sosial harian adalah sebuah kepalsuan batin yang berisiko menghanguskan pahala amal ibadah kita secara katastrofik di akhirat kelak.

Secara analisis psikologi-spiritual dan neurobiologi kontemporer, kecenderungan netizen untuk lebih memilih ribut soal sunnah di media sosial dibandingkan mempraktikkan keramahan organik di dunia nyata sangat erat kaitannya dengan perburuan dopamin instan. Berdebat dalil di internet memberikan ilusi kepuasan kognitif seolah-olah diri kita sedang berjihad membela agama, sebuah glorifikasi ego yang melahirkan keangkuhan intelektual secara semu. Sebaliknya, tersenyum dan berbuat baik kepada tetangga harian menuntut pengorbanan ego yang nyata, ketulusan hati yang senyap, serta penurunan gengsi personal yang tidak menghasilkan tombol suka (like) maupun angka pengikut (followers) baru. Fakta teologis yang harus dibongkar secara jernih adalah bahwa Rasulullah SAW menempatkan hak-hak tetangga pada level yang sangat sakral, bahkan beliau bersabda bahwa tersenyum di depan saudaramu adalah bagian dari sedekah yang bernilai pahala jariah. Ketika seseorang memelihara sifat eksklusif yang angkuh, merasa dirinya paling sunnah lalu memandang rendah masyarakat sekitar hanya karena perbedaan harakah atau tingkat pemahaman agama, dia sebenarnya sedang menderita penyakit mental spiritual (spiritual arrogance) yang merusak imunitas iman dari dalam batinnya sendiri.

Mengintegrasikan pemahaman sunnah yang lurus ke dalam gaya hidup urban menuntut kita untuk melakukan audit fungsi terhadap aktivitas beragama kita, bergeser dari sekadar menjadi kritikus digital menuju praktisi akhlak nubuat yang inklusif. Kita harus meruntuhkan mitos kaku bahwa membela sunnah hanya bisa dilakukan lewat ketikan-ketikan provokatif di ruang siber. Kedewasaan beragama yang berdaulat justru tercermin saat lo mampu membumikan keteladanan sifat-sifat mulia nabi ke dalam interaksi sosial paling mikro di sekitar rumah. Menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan terdekat, menawarkan bantuan tanpa melihat latar belakang organisasi, serta memiliki wajah yang cerah dan hangat saat bertatap muka, adalah bentuk nyata dari penerapan qaulan sadida (perkataan yang benar) yang memiliki dampak terapeutik luar biasa bagi kesehatan mental lingkungan sekaligus menjadi magnet dakwah yang jauh lebih genius dibandingkan ribuan teks perdebatan kusut di internet.

Sebagai contoh konkret dari kerusakan tatanan sosial akibat salah kaprah prioritas beragama di era modern, kita bisa melihat profil seorang pemuda urban yang profil media sosialnya dipenuhi dengan kutipan-kutipan tajam tentang sunnah berpakaian dan larangan bidah, namun di kehidupan aslinya, dia menjadi musuh bersama di lingkungan rukun tetangga (RT) karena selalu menutup diri secara ekstrem, menolak ikut serta dalam kegiatan kerja bakti warga, dan sengaja memalingkan muka dengan angkuh ketika berpapasan dengan warga senior di pos ronda; pendekatan kaku ini secara instan memicu resistensi publik dan membuat masyarakat awam memandang keliru bahwa ajaran Islam yang murni adalah ajaran yang anti-sosial dan kasar, sebuah contoh nyata di mana perilaku buruk pemeluknya telah menjadi hijab bagi keindahan syariat Islam itu sendiri. Contoh nyata yang jauh lebih indah, sehat, dan mencerminkan kemerdekaan ego dari jebakan toksisitas siber adalah kepribadian seorang guru mengaji tradisional atau profesional muslim yang cerdas; meskipun dia memiliki pemahaman agama yang mendalam dan sangat disiplin menjaga ibadah personalnya, dia memilih pasif dari segala bentuk perdebatan kusut di medsos dan mengalihkan energinya untuk menyapa setiap tetangga dengan senyuman tulus, rajin mengirimkan makanan harian ke rumah sebelah, serta menjadi sosok yang paling pertama mengulurkan tangan saat ada warga yang tertimpa musibah sakit, sebuah intervensi gaya hidup edukatif yang secara organik meruntuhkan sekat perbedaan dan menyembuhkan trauma sosial di tengah masyarakat. Contoh praktis terakhir dari artikel ini yang bisa lo terapkan dalam rutinitas harian untuk melatih otot akhlak sosial ini adalah dengan menerapkan teknik "Jeda Media Sosial dan Detoks Senyum" (digital detox & interpersonal alignment); kurangi kuota waktu lo untuk membaca atau ikut mengomentari unggahan perdebatan agama yang unproduktif di aplikasi gawai, lalu buat komitmen tegas dengan ego lo bahwa setiap kali kaki lo melangkah keluar dari pintu rumah harian, lo wajib memasang wajah yang ramah, mengharamkan ego lo untuk cemberut, dan menjadi orang pertama yang mengucapkan salam atau memberikan senyuman hangat kepada siapa pun tetangga yang lo temui di jalan. Intervensi cara berpikir yang rendah hati dan berbasis sains spiritual ini secara instan akan menurunkan kadar ketegangan metabolik tubuh lo dari lingkaran kebencian digital, menyembuhkan luka batin masyarakat dari polarisasi, meruntuhkan keangkuhan ego di dalam kepala kita, dan memastikan lo tumbuh menjadi manusia merdeka yang bugar secara spiritual, dicintai di bumi, serta memegang tiket keberkahan yang hakiki di hadapan Allah SWT kelak.

Tags:
Khazanah Islam Akhlak mulia Tuntunan Islam

Komentar Pengguna