Keboncinta.com-- Mata minus atau miopia menjadi salah satu gangguan penglihatan yang cukup banyak dialami, termasuk oleh anak-anak dan orang dewasa. Kondisi ini membuat seseorang kesulitan melihat objek yang berada pada jarak jauh dengan jelas.
Banyak orang mengira mata minus hanya disebabkan oleh terlalu sering menggunakan gadget atau membaca dalam posisi yang salah. Padahal, penyebab miopia cukup kompleks dan dapat dipengaruhi oleh faktor genetik maupun lingkungan.
Mengetahui berbagai faktor yang berkaitan dengan mata minus penting agar kita dapat lebih bijak menjaga kesehatan mata. Lantas, kebiasaan dan kondisi apa saja yang perlu diperhatikan?
Baca Juga: Formasi ASN Daerah Mulai Diperketat, Nasib PPPK Paruh Waktu Jadi Perhatian Pemerintah Menuju 2027
Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan risiko seseorang mengalami miopia.
Anak yang memiliki orang tua dengan mata minus memiliki kemungkinan lebih besar mengalami kondisi serupa. Faktor genetik dapat memengaruhi pertumbuhan dan bentuk bola mata yang pada akhirnya berhubungan dengan kemampuan mata memfokuskan cahaya.
Karena itu, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan miopia sebaiknya lebih memperhatikan kesehatan mata dan melakukan pemeriksaan penglihatan secara berkala.
Penggunaan ponsel, tablet, komputer, maupun aktivitas membaca dalam waktu lama membuat mata terus bekerja pada jarak dekat.
Aktivitas tersebut tidak selalu secara langsung menyebabkan mata menjadi minus, tetapi kebiasaan melakukan pekerjaan jarak dekat dalam durasi panjang, terutama pada anak-anak, berkaitan dengan peningkatan risiko dan perkembangan miopia.
Untuk mengurangi ketegangan mata, biasakan memberikan jeda ketika melakukan aktivitas jarak dekat. Salah satu kebiasaan yang dapat diterapkan adalah aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit melihat objek berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter selama 20 detik.
Bukan hanya layar yang perlu diperhatikan. Waktu yang terlalu sedikit untuk beraktivitas di luar ruangan juga dikaitkan dengan risiko miopia, terutama pada anak-anak.
Paparan cahaya alami saat berada di luar ruangan diduga memiliki peran dalam mengurangi risiko perkembangan mata minus pada anak.
Karena itu, mengajak anak melakukan aktivitas di luar rumah secara rutin dapat menjadi salah satu kebiasaan baik untuk mendukung kesehatan mata.
Membaca dalam jarak yang sangat dekat dan dilakukan terus-menerus dapat membuat mata cepat lelah. Kebiasaan seperti membaca sambil berbaring atau dalam posisi yang membuat jarak buku terlalu dekat juga sebaiknya dihindari.
Namun, penting diketahui bahwa membaca dalam kondisi pencahayaan redup tidak terbukti secara langsung membuat mata menjadi minus. Meski demikian, kondisi tersebut dapat membuat mata terasa lebih cepat lelah dan tidak nyaman.
Pastikan jarak membaca nyaman, posisi tubuh baik, serta berikan waktu istirahat secara berkala ketika melakukan aktivitas jarak dekat.
Baca Juga: Nasib Guru PPPK pada 2027 Mulai Mengarah ke Pusat, Skema Gaji dari APBN Jadi Perhatian
Nutrisi memang penting untuk menjaga kesehatan mata. Namun, pola makan yang buruk tidak dapat disebut sebagai penyebab langsung mata minus.
Tubuh membutuhkan berbagai vitamin dan mineral untuk mempertahankan fungsi mata secara normal. Vitamin A, misalnya, memiliki peran penting dalam kesehatan penglihatan.
Karena itu, biasakan mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mencakup sayuran, buah, sumber protein, serta berbagai makanan kaya vitamin dan mineral.
Wortel memang mengandung beta-karoten yang dapat diubah tubuh menjadi vitamin A, tetapi menjaga kesehatan mata tidak cukup hanya dengan mengonsumsi wortel.
Mata minus tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya, terutama jika terdapat faktor genetik. Namun, sejumlah kebiasaan dapat dilakukan untuk membantu menjaga kesehatan mata dan mengurangi risiko perkembangan miopia, khususnya pada anak.
Batasi aktivitas jarak dekat yang dilakukan tanpa jeda, berikan waktu bagi mata untuk beristirahat, perbanyak aktivitas di luar ruangan, dan pastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Yang tidak kalah penting adalah melakukan pemeriksaan mata secara berkala. Jika penglihatan mulai buram ketika melihat objek jauh, sering menyipitkan mata, mengalami sakit kepala, atau kesulitan melihat tulisan dari kejauhan, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter mata atau tenaga profesional kesehatan mata.
Dengan mengenali faktor risikonya sejak dini, kesehatan mata dapat lebih terjaga dan perubahan penglihatan bisa ditangani dengan tepat.***