Keboncinta.com-- Kelas yang semula ramai terkadang tiba-tiba menjadi sunyi ketika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Beberapa siswa memilih menunduk, saling melihat dengan teman, atau tetap diam meskipun masih ada materi yang belum sepenuhnya dipahami.
Hal yang cukup menarik, sebagian siswa justru mencari penjelasan melalui internet atau bertanya kepada teman setelah pembelajaran selesai. Kondisi ini menunjukkan bahwa diamnya siswa di kelas belum tentu berarti mereka tidak memiliki pertanyaan.
Lantas, apa yang membuat siswa ragu untuk mengangkat tangan dan bertanya di depan guru maupun teman-temannya?
Baca Juga: Sering Dilarang Minum Es karena Takut Batuk? Ini Penjelasan yang Perlu Dipahami
Keaktifan siswa dalam menyampaikan pertanyaan tidak hanya dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing. Lingkungan pendidikan dan budaya tempat siswa tumbuh juga dapat membentuk kebiasaan mereka dalam berkomunikasi.
Dalam sejumlah sistem pendidikan Barat, siswa relatif lebih banyak didorong untuk mandiri, menyampaikan pendapat, dan mengemukakan pertanyaan secara terbuka. Sementara itu, beberapa budaya Asia memiliki nilai kuat berupa penghormatan kepada guru dan orang yang lebih tua.
Perbedaan kebiasaan tersebut dapat berpengaruh terhadap interaksi di ruang kelas. Sebagian siswa mungkin merasa lebih sungkan untuk menyela atau berbicara langsung kepada guru karena khawatir dianggap kurang sopan.
Namun, rendahnya keberanian bertanya bukan persoalan yang hanya ditemukan di kawasan tertentu. Kemampuan mengajukan pertanyaan, berdiskusi, dan berpikir kritis masih menjadi tantangan dalam pembelajaran di berbagai negara.
Kegiatan bertanya juga dapat terhambat oleh padatnya tuntutan pembelajaran. Kurikulum dengan target materi yang banyak membuat guru harus mengatur waktu agar seluruh pembahasan dapat diselesaikan.
Di sisi lain, siswa juga menghadapi berbagai mata pelajaran dan tugas dalam waktu yang terbatas. Akibatnya, proses pembelajaran terkadang lebih berfokus pada mengejar target materi dibandingkan memberikan waktu yang cukup bagi siswa untuk mendalami konsep.
Padahal, banyaknya materi yang tersampaikan belum tentu berbanding lurus dengan tingkat pemahaman siswa. Mereka membutuhkan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, mengemukakan pendapat, dan menguji pemahamannya.
Tanpa ruang tersebut, siswa berisiko hanya menerima informasi tanpa memiliki kesempatan yang cukup untuk mengolahnya secara lebih mendalam.
Baca Juga: Benarkah Rasa Cinta Bisa Memudar? Ini Cara Menjaga Hubungan Tetap Langgeng
Keberanian untuk bertanya tidak selalu muncul dengan sendirinya. Guru dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan tersebut melalui latihan yang dilakukan secara konsisten.
Kemampuan bertanya dapat diibaratkan seperti otot. Semakin sering digunakan dan dilatih, semakin terbiasa pula siswa menggunakannya.
Karena itu, guru tidak harus selalu memberikan pertanyaan yang jawabannya sekadar mengandalkan hafalan. Pertanyaan yang mengajak siswa menganalisis, berimajinasi, memberikan pendapat, atau melihat suatu masalah dari perspektif berbeda dapat menjadi pilihan.
Misalnya, guru dapat bertanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai hal tersebut?”, “Apa yang mungkin terjadi jika kamu berada dalam situasi itu?” atau “Jika kamu menjadi seorang ilmuwan, bagaimana kamu akan mencari jawabannya?”
Pertanyaan terbuka seperti itu dapat membuat siswa terbiasa berpikir sebelum menjawab. Dari kebiasaan tersebut, kemampuan berbicara sekaligus keberanian menyampaikan pertanyaan dapat berkembang secara perlahan.
Baca Juga: Kenapa Anak Sulit Fokus dan Mudah Bosan? Ini 5 Hal yang Perlu Diperhatikan
Mendorong siswa bertanya tidak cukup hanya dengan memberikan pertanyaan yang menarik. Guru juga perlu menciptakan lingkungan belajar yang membuat siswa merasa nyaman untuk menyampaikan rasa ingin tahunya.
Siswa sebaiknya tidak takut dianggap bodoh hanya karena pertanyaannya sederhana atau khawatir mendapat respons negatif ketika jawabannya belum tepat. Kesalahan dalam proses bertanya dan menjawab perlu dipandang sebagai bagian dari pembelajaran.
Budaya bertanya juga bukan bertujuan menjadikan kelas sebagai tempat untuk menunjukkan siapa yang paling pintar atau paling sering berbicara. Fokus utamanya adalah menumbuhkan rasa ingin tahu dan membantu siswa memahami materi dengan lebih baik.
Ketika siswa merasa pendapat dan pertanyaannya dihargai, mereka akan lebih memiliki keberanian untuk terlibat dalam pembelajaran.
Siswa yang diam ketika guru membuka sesi pertanyaan belum tentu tidak memahami atau tidak memiliki rasa ingin tahu.