Keboncinta.com-- Komitmen menghadirkan layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang aman, sehat, dan berkualitas terus diwujudkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kebon Cinta Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.
Tidak hanya memastikan makanan yang disajikan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, SPPG ini juga berhasil memenuhi berbagai standar penting melalui sejumlah sertifikasi resmi.
Keberhasilan memperoleh Sertifikat Halal, Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), dan Sertifikat Chef menjadi bukti nyata keseriusan pengelola dalam membangun dapur MBG yang profesional, higienis, serta sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Sebagai bagian dari pelaksanaan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengacu pada arahan Badan Gizi Nasional (BGN), SPPG Kebon Cinta terus meningkatkan kualitas pelayanan.
Saat ini dapur MBG SPPG Kebon Cinta telah mengantongi tiga sertifikasi penting, yaitu:

Ketiga sertifikat tersebut menunjukkan bahwa seluruh proses penyediaan makanan dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan pangan, kebersihan, kualitas pengolahan, hingga jaminan kehalalan produk yang disajikan kepada para penerima manfaat.

Kabar baik datang pada 26 Juni 2026 ketika SPPG Kebon Cinta Ciwaringin yang dikelola oleh Yayasan Istiqomah Berdaulat Bermartabat resmi memperoleh Sertifikat Halal.
Sertifikasi ini menjadi bentuk pengakuan bahwa seluruh proses penyediaan makanan telah memenuhi persyaratan kehalalan sesuai ketentuan yang berlaku di Indonesia.
Dengan adanya sertifikat tersebut, masyarakat memperoleh kepastian bahwa makanan yang diproduksi telah melalui proses verifikasi mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian sesuai standar halal.
Bukti sertifikat halal untuk SPPG Kebon Cinta.
Menariknya, SPPG Kebon Cinta didominasi oleh tenaga muda yang berasal dari lingkungan sekitar lokasi dapur.
Kepala SPPG, Muhammad Komando Yudha atau yang akrab disapa Nando, saat ini berusia 28 tahun. Semangat generasi muda juga terlihat dari posisi Ahli Gizi yang diemban Shaima Aulia, lulusan baru perguruan tinggi berusia 21 tahun.
Sementara itu, posisi akuntan dipercayakan kepada Ameida Siti Saadah yang baru berusia 22 tahun.
Untuk mendukung operasional lapangan, Maulana Ishak bertugas sebagai Asisten Lapangan (Aslap) pada usia 38 tahun. Peran ini dinilai penting karena bertanggung jawab mengoordinasikan para relawan yang berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari 19 hingga 45 tahun.
Di sisi lain, Kamal Achmad yang berusia 34 tahun menjalankan peran sebagai PIC Yayasan guna memastikan seluruh aktivitas operasional berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.
Kolaborasi generasi muda ini menunjukkan bahwa profesionalisme tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga oleh kompetensi, semangat, dan komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Selain memperhatikan kualitas makanan, SPPG Kebon Cinta juga telah dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau Wastewater Treatment Plant (WWTP).

Fasilitas ini berfungsi mengolah air limbah hasil kegiatan dapur sebelum dialirkan ke lingkungan sehingga memenuhi standar keamanan. Keberadaan IPAL menjadi bagian dari komitmen pengelola dalam menerapkan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab sekaligus mendukung operasional dapur yang berkelanjutan.

Sebagai informasi, SPPG Kebon Cinta berlokasi di lingkungan Pondok Pesantren Wirausaha Kebon Cinta Jalan Urip Sumoharjo Nomor 18 Desa Ciwaringin, Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Dari lokasi tersebut, SPPG terus berupaya menghadirkan layanan pangan bergizi yang berkualitas, aman dikonsumsi, serta memenuhi standar kebersihan dan kehalalan.
Keberhasilan meraih berbagai sertifikasi menjadi tonggak penting bagi SPPG Kebon Cinta dalam meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.
Dengan dukungan Sertifikat Halal, Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, Sertifikat Chef, serta fasilitas IPAL, SPPG Kebon Cinta menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan layanan Makan Bergizi Gratis yang memenuhi standar keamanan pangan, higienitas, kualitas pengolahan, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi penyedia layanan pangan lainnya untuk terus meningkatkan mutu pelayanan demi mendukung keberhasilan program pemenuhan gizi nasional.***