Khazanah
Hilmi An Naufal

Tak Bisa Membaca, tapi Cinta Buku: Sisi Tak Terduga Sultan Akbar dari Mughal

Tak Bisa Membaca, tapi Cinta Buku: Sisi Tak Terduga Sultan Akbar dari Mughal

12 Agustus 2026 | 05:47

KebonCinta.com – Sulit membayangkan seorang penguasa besar menjalankan pemerintahan tanpa kemampuan membaca seperti yang kita pahami sekarang. Surat datang setiap hari, laporan pemerintahan menumpuk, buku hukum harus dipahami, sementara keputusan penting menyangkut wilayah yang sangat luas harus terus dibuat.

Namun, kisah semacam itu justru melekat pada Jalaluddin Muhammad Akbar, atau Akbar Agung, penguasa ketiga Kekaisaran Mughal yang memerintah India pada abad ke-16.

Akbar kerap disebut sebagai seorang penguasa yang tidak bisa membaca dan menulis secara formal. Tetapi di balik keterbatasan tersebut, ia justru dikenal mempunyai rasa ingin tahu yang besar, menyukai buku, mendengarkan karya-karya dibacakan kepadanya, serta dikelilingi cendekiawan dan penerjemah.

Lalu benarkah Akbar memang buta huruf?

Jawabannya tidak sesederhana satu kata.

Masa Kecil Akbar Jauh dari Pendidikan yang Tenang

Akbar lahir pada 1542. Masa kecilnya berlangsung ketika keluarganya menghadapi pergolakan politik dan perebutan kekuasaan.

Encyclopaedia Iranica mencatat kehidupan awal Akbar begitu tidak menentu sehingga ia terhindar dari sebagian besar pendidikan formal. Sejumlah sejarawan bahkan berpendapat ia tetap tidak melek huruf sepanjang hidupnya.

Alih-alih menghabiskan masa kecil dengan duduk lama mempelajari teks, Akbar banyak mendapatkan latihan yang lebih praktis.

Ia mempelajari kemampuan militer, berkuda, berburu, kepemimpinan, hingga berbagai keterampilan yang dianggap diperlukan bagi seorang pangeran.

Ketika ayahnya, Humayun, meninggal pada Januari 1556, usia Akbar baru sekitar 13 tahun. Tidak lama kemudian, pada Februari tahun yang sama, ia secara resmi menjadi kaisar Mughal.

Jadi, masa remajanya nyaris langsung berubah menjadi urusan pemerintahan dan peperangan.

Berkali-kali Dicoba Diajari Membaca

Bukan berarti keluarga kerajaan sama sekali tidak mencoba memberikan pendidikan kepada Akbar.

Catatan sejarah menggambarkan sejumlah upaya untuk memberinya guru. Namun pembelajaran membaca dan menulis tampaknya tidak menghasilkan kemajuan seperti yang diharapkan.

Sejumlah kisah bahkan menyebut Akbar lebih tertarik pada aktivitas lain dibandingkan duduk belajar huruf.

Karena itulah banyak sumber kemudian menggambarkannya sebagai penguasa yang tidak pernah benar-benar menguasai kemampuan membaca secara konvensional. Smithsonian National Museum of Asian Art bahkan menyebut Akbar tidak membaca, tetapi sangat memahami kekuatan kata-kata tertulis.

Ada teori modern yang menduga Akbar mungkin mengalami disleksia.

Namun dugaan tersebut belum memiliki bukti sejarah yang cukup kuat untuk dijadikan diagnosis. Sebuah pembahasan mengenai pendidikan Akbar juga mengingatkan bahwa teori disleksia didasarkan pada interpretasi modern dan bukti pendukungnya sangat terbatas.

Jadi, lebih aman mengatakan bahwa Akbar tidak memperoleh atau tidak menguasai pendidikan baca-tulis formal sebagaimana umumnya bangsawan, daripada memastikan kondisi medis yang tidak mungkin didiagnosis secara pasti berabad-abad kemudian.

Tidak Bisa Membaca Bukan Berarti Tidak Suka Ilmu

Di sinilah kisah Akbar menjadi menarik.

Jika tidak dapat membaca buku sendiri, ia mencari cara lain untuk mendapatkan isinya.

Buku dibacakan kepadanya.

Smithsonian mencatat Akbar mendengarkan pembacaan buku di lingkungan istana serta memerintahkan pembuatan manuskrip bergambar. Salah satu karya monumental yang lahir pada pemerintahannya adalah Akbarnama, catatan resmi tentang pemerintahan Akbar yang disusun Abu'l Fazl.

Dalam lingkungan istananya, kegiatan membaca dengan suara keras menjadi bagian dari kehidupan intelektual.

Catatan yang dibahas Scroll menyebut Ain-i-Akbari menggambarkan bagaimana buku dibacakan untuk Akbar pada malam hari. Ia memilih pembaca dengan suara yang dianggap baik dan mendengarkan isi karya tersebut.

Akbar dikenal mempunyai daya ingat yang kuat sehingga mampu mengingat banyak informasi yang didengarnya.

Inilah yang membuat istilah "buta huruf" bisa terasa menyesatkan jika kemudian disamakan dengan tidak berpendidikan atau tidak memiliki wawasan.

Perpustakaan Istana Justru Berkembang Pesat

Hubungan Akbar dengan buku bahkan lebih jauh lagi.

Perpustakaan kerajaan yang diwarisi dari ayahnya terus berkembang pada masa pemerintahannya. Koleksi diperbesar melalui pembelian, hadiah, warisan manuskrip, hingga proyek penerjemahan.

Sebuah kajian yang merujuk sumber sejarah Mughal menyebut koleksi perpustakaan Akbar mencapai hampir 24.000 buku dan manuskrip. Koleksinya mencakup berbagai bidang, mulai sejarah, agama, astronomi, musik hingga sastra.

Di dalam perpustakaan bukan hanya terdapat penjaga buku.

Ada pula orang-orang yang bekerja sebagai penyalin naskah, kaligrafer, penjilid, pembawa buku, pembaca, dan petugas yang mengklasifikasikan koleksi.

Bayangkan ironinya.

Seorang penguasa yang sering disebut tidak bisa membaca justru berada di tengah salah satu lingkungan manuskrip paling aktif pada zamannya.

Buku dari Bahasa Lain Ikut Diterjemahkan

Ketertarikan Akbar pada pengetahuan juga terlihat dalam proyek penerjemahan.

Pada masa pemerintahannya, sejumlah karya India diterjemahkan dari bahasa Sanskerta ke bahasa Persia agar dapat dipelajari lebih luas di lingkungan istana Mughal.

Salah satu yang paling terkenal adalah Mahabharata, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Persia dan dikenal sebagai Razmnama.

Riset mengenai penerjemahan Sanskerta di lingkungan istana Akbar menunjukkan proyek semacam ini menjadi bagian penting dari pertukaran intelektual pada akhir abad ke-16.

Akbar juga memberikan perhatian besar pada pembuatan manuskrip bergambar.

The Metropolitan Museum of Art mencatat Akbarnama ditulis Abu'l Fazl antara 1589 dan 1598, sementara proyek manuskrip ilustrasinya dimulai bahkan sebelum teks selesai. Akbar sendiri disebut memilih berbagai peristiwa yang ingin digambarkan oleh para seniman istananya.

Jadi, meski tidak membaca seperti seorang sarjana, ia tetap mempunyai kendali dan ketertarikan kuat terhadap produksi pengetahuan di istananya.

Akbarnama Menjadi Salah Satu Warisan Penting

Keberadaan Akbarnama sangat membantu sejarawan memahami pemerintahan Mughal pada masa Akbar.

Encyclopaedia Iranica menyebut karya Abu'l Fazl tersebut sebagai salah satu sumber fundamental untuk memahami sejarah India Mughal. Buku itu tidak hanya menceritakan perjalanan hidup Akbar, tetapi juga memberikan gambaran mengenai administrasi, militer, pendapatan negara, wilayah, masyarakat dan kehidupan kebudayaan pada abad ke-16.

Bagian ketiganya dikenal sebagai Ain-i-Akbari.

Di dalamnya terdapat informasi sangat rinci mengenai sistem pemerintahan yang dibangun Akbar.

Ini menunjukkan sebuah hal yang cukup menarik: seorang kaisar tidak harus menulis sendiri setiap gagasannya agar pemikirannya meninggalkan jejak tertulis.

Akbar memiliki orang-orang seperti Abu'l Fazl yang mengubah aktivitas pemerintahan, kebijakan dan gagasan istana menjadi dokumentasi.

Jadi, Benarkah Sultan Akbar Buta Huruf?

Banyak sumber sejarah memang mendukung anggapan bahwa Akbar tidak mampu membaca secara normal dan tidak memperoleh pendidikan formal baca-tulis yang baik. Smithsonian menyebutnya tidak membaca, sementara Encyclopaedia Iranica menggunakan bahasa lebih hati-hati dengan mengatakan sejumlah otoritas berpendapat Akbar tetap tidak melek huruf sepanjang hidupnya.

Karena itu, menyebut Akbar "buta huruf" bukan sepenuhnya tanpa dasar.

Namun menyimpulkan bahwa ia tidak berpendidikan, tidak memahami buku, atau tidak memiliki kemampuan intelektual jelas terlalu sederhana.

Ia belajar dengan cara mendengar.

Ia berdiskusi dengan orang-orang berilmu.

Ia meminta buku dibacakan.

Ia mendukung perpustakaan.

Ia memerintahkan penerjemahan berbagai karya.

Dan ia menjadi pelindung pembuatan sejumlah manuskrip yang hingga kini justru menjadi sumber penting untuk memahami sejarah Mughal.

Kisah Akbar akhirnya menunjukkan bahwa kemampuan membaca memang sangat penting, tetapi cara seseorang memperoleh pengetahuan tidak selalu sama.

Lebih dari empat abad setelah kematiannya pada 1605, perdebatan mengenai kemampuan baca-tulisnya masih berlangsung.

Namun satu hal sulit dibantah: keterbatasan pendidikan formal tidak menghentikan rasa ingin tahu Akbar terhadap dunia di sekelilingnya.

Tags:
Khazanah Islam

Komentar Pengguna